![]() |
| Presiden RI Prabowo Subianto saat berdialog dengan lintas tokoh di Istana Negara, Jakarta.(Dok/Istimewa). |
Hadir dalam pertemuan tersebut Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal Muhadjir Effendy, Ketua Umum MUI KH. Anwar Iskandar, Ketua Umum PGI Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia Wisnu Bawa Tenaya, Ketua Umum PERMABUDHI Philip K. Widjaja, serta Ketua Umum Matakin Budi Santoso Tanuwibowo. Selain para tokoh agama, hadir pula pimpinan partai politik, serikat buruh, dan organisasi kepemudaan yang turut menyampaikan pandangan mereka.
Dalam suasana hangat, Presiden memberi kesempatan kepada seluruh tokoh untuk menyampaikan aspirasi terkait isu-isu nasional maupun global. Aspirasi yang mengemuka antara lain penegasan pentingnya penertiban terhadap aksi-aksi anarkistis yang merugikan masyarakat, namun tetap menjamin kebebasan berpendapat yang disampaikan secara damai sebagaimana diatur dalam undang-undang. Presiden mendengarkan setiap pandangan secara langsung dan menegaskan bahwa pemerintah akan bekerja sama dengan seluruh elemen bangsa untuk menjaga keamanan, melindungi rakyat, serta menciptakan suasana kondusif bagi pembangunan nasional.
“Silaturahmi ini penting agar kita terus merawat persatuan bangsa. Saya mendengarkan langsung aspirasi para tokoh yang meminta ketegasan pemerintah menindak aksi anarkistis, namun juga tetap menjamin kebebasan berpendapat secara damai. Pemerintah akan terus bekerja sama dengan semua pihak untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan memastikan kebijakan yang diambil berpijak pada kebutuhan rakyat,” tegas Presiden Prabowo.
Pertemuan diakhiri dengan doa yang dipanjatkan oleh masing-masing pemuka agama sesuai keyakinannya, menjadi simbol kuat bahwa perbedaan iman bukanlah pemisah, melainkan kekuatan pemersatu bangsa. Presiden menegaskan bahwa silaturahmi semacam ini akan digelar secara rutin sebagai sarana memperkuat komunikasi, kebersamaan, dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam pembangunan nasional. (Tim)


Komentar