|
Menu Close Menu

Kesehatan Mental Anak Jadi Sorotan, Anggota DPD RI Lia Istifhama Dorong Kolaborasi dan Edukasi Sejak Dini

Senin, 13 April 2026 | 18.45 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama dalam sebuah rapat.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Jakarta – Perhatian terhadap kesehatan mental anak di Indonesia kian menguat. Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan pentingnya menjadikan isu ini sebagai prioritas utama dalam kebijakan nasional, khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.


Menurut Lia, langkah Kementerian Kesehatan dalam menyusun buku saku edukatif bagi anak merupakan inisiatif strategis. Upaya ini dinilai penting sebagai langkah preventif terhadap gangguan kesehatan, termasuk masalah belajar dan kesehatan mental sejak usia dini.


“Kami mendukung penuh penyusunan buku saku bagi anak-anak sebagai langkah preventif. Namun, kolaborasi lintas kementerian perlu diperkuat agar pendekatan ini lebih komprehensif,” ujar Lia, Senin (13/04/2026). 


Ia menekankan pentingnya sinergi antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Menurutnya, keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kerja sama lintas sektor.


Lia juga mengusulkan agar buku edukasi tidak hanya bersifat informatif. Ia berharap buku tersebut mampu merangsang kreativitas dan logika anak sejak dini.


“Buku itu perlu menjadi sarana brainstorming, agar anak-anak memiliki mimpi yang logis dan bisa diraih,” tambahnya.


Dalam kunjungannya ke klinik gangguan belajar di RS Menur Surabaya, Lia menemukan berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak. Kondisi ini mencerminkan kompleksitas tantangan kesehatan mental saat ini.


Ia mengungkapkan adanya anak dengan gangguan belajar hingga korban trauma. Beberapa di antaranya mengalami perundungan dan bahkan pelecehan seksual.


“Saya menemukan anak yang bercita-cita menjadi hacker, namun ada juga yang menjadi korban perundungan dan pelecehan. Ini menunjukkan perlunya pendekatan menyeluruh,” ungkapnya.


Lia mendorong peningkatan fasilitas serta tenaga medis dalam layanan kesehatan mental anak. Ia juga menilai pentingnya pengembangan pusat layanan khusus anak dan remaja di berbagai daerah.


Menurutnya, bimbingan yang kontekstual sangat dibutuhkan. Hal ini penting agar anak tumbuh dengan kemampuan berpikir rasional dan sehat.


“Penguatan tenaga medis dan fasilitas, khususnya di klinik gangguan belajar, harus menjadi perhatian agar anak mendapatkan pendampingan optimal,” tegasnya.


Di sisi lain, Lia menyoroti masih minimnya rumah sakit yang fokus pada layanan kesehatan mental. Kondisi ini diperparah oleh stigma negatif yang masih berkembang di masyarakat.


Akibatnya, layanan kesehatan mental belum menjadi pilihan utama di banyak institusi kesehatan.


Lia juga mengungkapkan bahwa sekitar 24 hingga 46 persen masalah kesehatan jiwa anak dipengaruhi oleh faktor keluarga. Pola pengasuhan dan konflik dalam rumah tangga menjadi faktor dominan.


Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan kementerian yang menangani urusan keluarga. Pendekatan ini dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan secara menyeluruh.


“Pendekatan kolaboratif sangat penting, termasuk dengan kementerian yang menangani keluarga,” jelasnya.


Ia menegaskan bahwa upaya peningkatan kesehatan mental anak tidak bisa dilakukan secara parsial. Sinergi antara sektor kesehatan, pendidikan, dan keluarga menjadi kunci utama.


Menurut Lia, investasi pada kesehatan mental anak merupakan langkah strategis untuk masa depan bangsa. Generasi yang sehat secara mental dan fisik akan menjadi fondasi pembangunan yang berkelanjutan. (Red) 

Bagikan:

Komentar