![]() |
| Kegiatan Diskusi Pendidikan bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti di SDN Jalmak 1 Pamekasan.(Dok/Istimewa). |
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman dan dipandu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pamekasan, Akhmad Basri Yulianto.
Dalam paparannya, Dr. Moh. Zayyadi menekankan pentingnya transformasi pendidikan yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga berpijak pada nilai budaya daerah sebagai fondasi pembelajaran yang lebih relevan bagi peserta didik.
Menurutnya, proses pembelajaran di sekolah perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih mendalam, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan sosial siswa.
“Salah satunya melalui pengembangan modul pembelajaran berbasis kearifan lokal Madura agar siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi juga memahami secara relevan dengan lingkungan sosial dan budaya mereka,” ujarnya.
FKIP Universitas Madura juga mendorong integrasi komputasi dan pembelajaran koding melalui permainan tradisional Madura. Pendekatan tersebut dinilai mampu membangun logika, strategi, serta pola berpikir sistematis yang menjadi dasar computational thinking sebelum siswa mempelajari bahasa pemrograman.
Dalam aspek penguatan karakter, Dr. Moh. Zayyadi menilai budaya “ondheghe bahsa” atau penggunaan Bahasa Madura yang santun seperti “Engghi-Bhenten” dapat menjadi bagian penting dalam implementasi program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” atau 7 Habits.
“Pendekatan tersebut diyakini mampu membangun karakter siswa berbasis nilai budaya lokal,” ungkapnya.
Tak hanya itu, digitalisasi pembelajaran juga menjadi perhatian FKIP Universitas Madura. Pemanfaatan cerita rakyat Madura sebagai media digital, animasi, hingga permainan edukatif dinilai mampu meningkatkan kreativitas sekaligus memperkuat literasi digital dan kemampuan koding peserta didik.
Pada aspek peningkatan kualitas tenaga pendidik, Dr. Moh. Zayyadi mengusulkan penyusunan Uji Kompetensi Berbahasa Madura (UKBM) bagi guru sebagai instrumen evaluasi kemampuan kebahasaan yang lebih ilmiah dan terstandar.
Selain itu, pihaknya juga mendorong adanya solusi bagi persoalan linieritas guru muatan lokal.
“Dalam persoalan linieritas guru muatan lokal, kita mendorong Kemendikdasmen membuka jalur afirmasi dan rekognisi bagi guru non-linier yang selama ini mengajar Bahasa Madura,” katanya.
Sebagai langkah jangka panjang, FKIP Universitas Madura juga mengusulkan pembukaan nomenklatur khusus Bahasa Madura agar perguruan tinggi daerah dapat secara resmi membuka Program Studi Pendidikan Bahasa Madura.
Menurut Dr. Moh. Zayyadi, keberadaan program studi tersebut menjadi kebutuhan penting untuk menyiapkan tenaga pendidik profesional sekaligus menjaga keberlanjutan bahasa dan budaya Madura di tengah perkembangan era digital.
“Keberadaan program studi ini menjadi kebutuhan mendesak untuk mencetak tenaga pendidik profesional sekaligus menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Madura di tengah perkembangan era digital,” pungkasnya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan pemerintah siap menindaklanjuti sejumlah usulan yang berkaitan dengan penguatan pendidikan berbasis budaya lokal Madura.
Menurutnya, keberadaan guru non-reguler Bahasa Madura yang selama ini berkontribusi dalam pendidikan daerah menjadi perhatian pemerintah dan akan dibahas lebih lanjut di lingkungan Kemendikdasmen.
“Guru-guru non-reguler yang mengajar Bahasa Madura insya Allah akan ditindaklanjuti dan menjadi perhatian Kemendikdasmen,” ujarnya.
Abdul Mu’ti juga menyampaikan bahwa usulan pembukaan Program Studi Pendidikan Bahasa Madura akan diteruskan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk mendapatkan kajian lanjutan.
Ia menilai keberadaan program studi tersebut memiliki nilai strategis dalam mencetak tenaga pendidik profesional sekaligus memperkuat upaya pelestarian bahasa dan budaya daerah.
“Program studi itu penting sebagai langkah strategis mencetak tenaga pendidik profesional sekaligus menjaga kelestarian bahasa dan budaya Madura. Termasuk program ‘7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat’ dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai lokal Madura sebagai bagian dari penguatan karakter siswa di sekolah,” pungkasnya. (Man)


Komentar