|
Menu Close Menu

Jhungjhung Tapè: Jejak Kesederhanaan Perempuan Madura Tempo Dulu

Jumat, 29 Mei 2026 | 14.33 WIB



Oleh: Suhartatik*


*(Dosen Universitas PGRI Sumenep dan Pegiat Rumah Literasi Sumenep)


Lensajatim.id, Opini- Apa yang hari ini dianggap kuno atau tidak lazim, dahulu justru menjadi bagian yang biasa dari kehidupan masyarakat. Di balik kesederhanaan hidup perempuan Madura tempo dulu, tersimpan banyak kebiasaan yang lahir bukan semata karena keterbatasan, tetapi juga karena budaya yang tumbuh dan diterima secara alami oleh masyarakatnya. Kesederhanaan itu tampak dalam cara berbicara, bekerja, hingga cara berpakaian yang mencerminkan kedekatan masyarakat Madura dengan kehidupan yang apa adanya, tetapi tetap menjunjung rasa malu dan kehormatan diri.


Salah satu gambaran budaya tersebut terlihat dalam tradisi jhungjhung tapè, yakni penggunaan kain yang dililitkan sebagai kemben untuk menutup tubuh, terutama setelah mandi atau ketika berada di lingkungan rumah sendiri. Bagi perempuan Madura tempo dulu, jhungjhung tapè bukanlah sesuatu yang memalukan ataupun dianggap melanggar kesopanan. Sebaliknya, hal itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang lahir dari kesederhanaan hidup masyarakat, keterbatasan ekonomi, serta kebiasaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Keterbatasan ekonomi membuat masyarakat hidup dengan apa adanya, termasuk dalam urusan pakaian. Tidak semua perempuan memiliki banyak busana atau pakaian rumah seperti saat ini. 


Oleh karena itu, kain panjang atau sarung menjadi benda yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Bagi perempuan Madura tempo dulu, kain memiliki fungsi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain digunakan saat bepergian, kain juga menjadi bagian dari aktivitas rumah tangga, seperti dipakai setelah mandi, ketika mengerjakan pekerjaan dapur, menemani anak, hingga saat beristirahat di dalam rumah. Kesederhanaan penggunaan kain tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat pada masa itu hidup dengan memanfaatkan apa yang dimiliki tanpa berlebihan, tetapi tetap menjaga kepantasan sesuai budaya yang berlaku.


Pada masa itu, masyarakat hidup dalam ikatan sosial yang masih sangat erat. Lingkungan kampung dipenuhi rasa saling mengenal, saling menjaga, dan saling menghormati. Oleh karena itu, cara berpakaian seperti jhungjhung tapè tidak dipandang dari sudut yang negatif. Perempuan tetap dihargai bukan semata karena bentuk pakaian yang dikenakan, melainkan karena sikap, perilaku, dan kemampuannya menjaga martabat diri di tengah kehidupan masyarakat.


Namun hari ini, tradisi tersebut mulai dipandang berbeda. Perubahan sosial, masuknya budaya modern, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap tindak kejahatan membuat jhungjhung tapè perlahan dianggap tidak lagi sesuai dengan keadaan zaman. Apa yang dahulu dipahami sebagai kesederhanaan budaya kini sering kali dinilai sebagai sesuatu yang tidak sopan atau bahkan berisiko. Pergeseran cara pandang inilah yang menunjukkan bahwa budaya tidak pernah benar-benar hilang, tetapi terus berubah mengikuti keadaan masyarakat yang melingkupinya.


Dalam budaya masyarakat Madura, penggunaan jhungjhung tapè bukanlah bentuk keterbukaan tubuh yang melanggar norma. Justru sebaliknya, kain tersebut menjadi simbol kesederhanaan dalam konteks budaya saat itu. Perempuan tetap menjaga rasa malu dan kehormatan diri meskipun berpakaian sederhana. Cara memakai kain itu pun memiliki aturan tidak tertulis yang dipahami bersama oleh masyarakat. Biasanya hanya digunakan di area rumah, di lingkungan keluarga, atau di tempat yang masih dianggap aman secara sosial.


Selain karena faktor ekonomi, kebiasaan memakai jhungjhung tapè juga dipengaruhi oleh kondisi geografis Madura yang panas dan dekat dengan wilayah pesisir. Kain kemben atau sarung dianggap lebih nyaman, ringan, dan memudahkan perempuan bergerak dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Dalam kehidupan kampung yang penuh rasa kekeluargaan, cara berpakaian seperti itu tidak dipandang sebagai sesuatu yang mengundang pandangan buruk. Masyarakat lebih melihat seseorang dari sikap dan perilakunya dibanding sekadar bentuk pakaian yang dikenakan.


Di balik kesederhanaannya, jhungjhung tapè sebenarnya menyimpan makna budaya yang cukup dalam. Hal itu mencerminkan keteguhan perempuan Madura dalam menjalani hidup sederhana tanpa kehilangan martabat. Kain itu juga menjadi simbol kedekatan perempuan dengan ruang domestik dan kehidupan keluarga. Bahkan dalam beberapa keluarga, kebiasaan ini diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari perempuan Madura.


Namun perubahan zaman membawa perubahan cara pandang masyarakat. Masuknya budaya modern, media sosial, dan perubahan nilai sosial membuat tradisi seperti jhungjhung tapè mulai dianggap kuno bahkan tidak pantas. Jika dahulu masyarakat memiliki kontrol sosial yang kuat dan lingkungan yang relatif aman, kini kekhawatiran terhadap tindak kriminal dan pelecehan membuat banyak orang tua melarang anak perempuan memakai kain kemben, meskipun hanya di sekitar rumah.


Saat ini, jhungjhung tapè memang masih sering dipakai anak perempuan atau ibu-ibu setelah mandi. Akan tetapi penggunaannya semakin terbatas dan lebih banyak dilakukan di ruang tertutup. Banyak orang mulai merasa khawatir jika pakaian seperti itu terlihat orang luar. Kekhawatiran tersebut tentu bukan tanpa alasan. Kondisi sosial sekarang memang berbeda dengan masa lalu. Kejahatan dapat terjadi karena berbagai faktor, dan perempuan sering menjadi pihak yang paling rentan.


Meskipun demikian, penting dipahami bahwa perubahan cara berpakaian tidak boleh membuat masyarakat kehilangan penghargaan terhadap nilai budaya lama. Tradisi jhungjhung tapè lahir dari konteks sosial dan budaya tertentu yang tidak bisa langsung dinilai dengan standar kehidupan hari ini. Apa yang dahulu dianggap wajar bukan berarti identik dengan ketidaksopanan. Sebaliknya, tradisi itu justru menunjukkan bagaimana masyarakat Madura hidup dengan kesederhanaan, keterbatasan, tetapi tetap menjaga rasa malu dan kehormatan diri.


Oleh karena itu, generasi muda perlu diajak memahami budaya lama bukan untuk meniru seluruh bentuknya secara mentah, melainkan untuk memahami nilai yang ada di baliknya. Dari jhungjhung tapè, kita belajar bahwa perempuan Madura tempo dulu memiliki daya tahan hidup, kesederhanaan, dan kemampuan menjaga kehormatan di tengah keterbatasan ekonomi. Nilai-nilai itulah yang seharusnya diwariskan, bukan sekadar bentuk pakaiannya.


Pada akhirnya, setiap zaman memang melahirkan cara pandang dan standar kehidupan yang berbeda. Apa yang dahulu dianggap biasa, hari ini bisa dipandang tidak lagi sesuai dengan kondisi sosial masyarakat modern. Namun perubahan tersebut seharusnya tidak membuat kita kehilangan penghargaan terhadap jejak budaya masa lalu. Jhungjhung tapè bukan sekadar kain penutup tubuh, melainkan potongan kecil dari sejarah kehidupan perempuan Madura yang tumbuh dalam kesederhanaan, keterbatasan, dan nilai kehormatan yang dijaga dengan caranya sendiri.


Hari ini mungkin tradisi itu tidak lagi sepenuhnya relevan untuk dipraktikkan di ruang sosial yang telah banyak berubah. Faktor keamanan, perubahan lingkungan, serta meningkatnya risiko sosial tentu menjadi pertimbangan penting dalam menjaga diri dan keluarga. Akan tetapi, nilai yang terkandung di balik jhungjhung tapè tetap layak diwariskan, yakni kesederhanaan, rasa malu, penghormatan terhadap diri sendiri, dan kedekatan budaya dalam kehidupan keluarga masyarakat Madura. Sebab budaya tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama, tetapi makna dan nilai yang hidup di dalamnya tetap perlu dikenang dan dipahami oleh generasi berikutnya.


Zharonkgie, 28 Mei 2026

Bagikan:

Komentar