|
Menu Close Menu

Pelajaran Berkurban di Hari Raya Iduladha: Tentang Keikhlasan, Kepedulian, dan Makna Pengorbanan

Selasa, 26 Mei 2026 | 21.25 WIB



Oleh: H. Achmad Sudiyono


Lensajatim.id, Opini – Setiap menjelang Hari Raya Iduladha, umat Islam di berbagai penjuru dunia menyambut momentum yang sarat makna. Salah satu ibadah yang menjadi ciri utama perayaan ini adalah kurban. Kaum Muslim berbondong-bondong menunaikan ibadah tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.


Namun sejatinya, kurban bukan sekadar ritual tahunan atau aktivitas penyembelihan hewan semata. Di balik ibadah itu tersimpan pelajaran besar tentang keikhlasan, ketakwaan, pengorbanan, serta kepedulian sosial yang relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Sejarah kurban tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Peristiwa ini menjadi teladan besar tentang kepatuhan seorang hamba terhadap perintah Allah SWT.


Dalam Al-Qur'an Surah As-Shaffat ayat 102, diceritakan bagaimana Nabi Ibrahim AS menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya yang sangat dicintainya. Perintah itu tentu bukan perkara mudah. Secara naluri manusia, seorang ayah pasti memiliki cinta dan kasih sayang yang besar kepada anaknya.


Namun keimanan menempatkan Nabi Ibrahim AS pada tingkat kepatuhan yang luar biasa. Beliau menyampaikan perintah tersebut kepada Nabi Ismail AS.


Respons Nabi Ismail AS menjadi pelajaran penting tentang ketakwaan dan keikhlasan.


"Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. As-Shaffat: 102).


Ketika Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS telah menunjukkan kepasrahan total kepada Allah SWT, perintah penyembelihan itu kemudian digantikan dengan seekor hewan sembelihan.


Peristiwa inilah yang menjadi dasar syariat kurban bagi umat Islam hingga saat ini.


Dari sejarah tersebut, terdapat pesan penting bahwa hakikat kurban bukan terletak pada darah atau daging hewan yang disembelih, melainkan nilai ketakwaan yang tumbuh di dalam hati manusia.


Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:


"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu."


Ayat ini memberikan argumentasi rasional bahwa Islam tidak hanya menekankan simbol, tetapi juga substansi. Kurban merupakan sarana pendidikan spiritual agar manusia mampu mengendalikan kecintaan berlebihan terhadap harta benda, ego pribadi, maupun kepentingan duniawi.


Di tengah kehidupan modern yang sering diukur dengan capaian materi dan kepentingan individual, semangat kurban justru semakin relevan.


Seseorang yang rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban sedang belajar tentang makna berbagi dan pengendalian diri. Ia sedang melatih diri agar tidak diperbudak oleh kecintaan terhadap materi.


Dalam perspektif sosial, ibadah kurban juga memiliki dimensi kemanusiaan yang sangat kuat.


Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan. Momentum ini menghadirkan pemerataan kebahagiaan dan memperkuat solidaritas sosial.


Bagi sebagian keluarga, Hari Raya Iduladha mungkin menjadi kesempatan langka menikmati hidangan daging yang bergizi. Dari titik inilah kurban mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada sesama.


Islam membangun kehidupan sosial yang tidak individualistis. Kepedulian menjadi fondasi utama terciptanya masyarakat yang harmonis dan berkeadilan.


Rasulullah SAW juga memberikan teladan besar tentang ibadah kurban. Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan:


"Tidak ada amalan anak Adam pada hari kurban yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban."


Hadis tersebut menunjukkan bahwa kurban memiliki kedudukan istimewa sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.


Pelajaran besar berikutnya adalah tentang keikhlasan.


Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus ditempatkan di atas segala kepentingan dunia. Nilai keikhlasan inilah yang penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pekerjaan, keluarga, pengabdian sosial, maupun tanggung jawab kepada bangsa dan negara.


Kurban juga mengajarkan arti pengorbanan.


Tidak ada keberhasilan besar yang lahir tanpa kesediaan untuk berkorban. Orang tua berkorban demi masa depan anak-anaknya. Guru mengabdikan tenaga dan pikirannya demi pendidikan generasi penerus. Pemimpin yang baik pun dituntut mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.


Makna pengorbanan tersebut menjadi nilai penting di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.


Hari Raya Iduladha pada akhirnya bukan sekadar perayaan keagamaan tahunan. Lebih dari itu, Iduladha merupakan ruang refleksi untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus memperkuat hubungan antarsesama.


Apabila nilai-nilai kurban benar-benar dipahami dan diterapkan, maka akan lahir masyarakat yang lebih peduli, lebih empati, serta memiliki semangat gotong royong yang semakin kuat.


Karena sejatinya, kurban bukan hanya tentang apa yang disembelih, melainkan tentang apa yang mampu kita ikhlaskan demi kebaikan yang lebih besar.


(*Penulis adalah Bupati LIRA Jember dan Owner SPPG Bintoro Jember.

Bagikan:

Komentar