![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama saat mengunjungi jamaah haji asal Jawa Timur. (Dok/Istimewa). |
Kunjungan dilakukan ke sejumlah kloter jamaah di kawasan Ar Raudhah, Makkah, di antaranya Kloter 77 yang berada di Hotel Mahd Al Resala, Sektor 4 Nomor 10, serta Kloter 51 di Hotel Moro Al Alamiyah, Sektor 03 Nomor 8.
Dari hasil pemantauan tersebut, politisi yang akrab disapa Ning Lia itu melihat langsung kesiapan jamaah dalam menghadapi fase Armuzna, yakni tahapan inti ibadah haji yang berlangsung selama sekitar lima hingga enam hari pada 8 hingga 13 Zulhijah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Dalam kesempatan itu, Lia tidak hanya menyapa jamaah, tetapi juga mengunjungi jamaah yang mengalami kondisi kesehatan tertentu sehingga menjalankan ibadah dengan skema murur.
Murur merupakan pola pergerakan jamaah dari Arafah menuju Mina dengan melintasi Muzdalifah tanpa turun atau bermalam (mabit) di dalam tenda.
Selain melakukan pengawasan, Lia juga memberikan motivasi dan pesan kepada jamaah agar menjaga kondisi fisik menjelang fase puncak ibadah haji.
Menurutnya, kesiapan kesehatan dan stamina menjadi faktor penting karena jamaah akan menghadapi rangkaian ibadah yang membutuhkan ketahanan fisik dan mental.
“Armuzna merupakan rangkaian inti ibadah haji yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental, sehingga jamaah harus benar-benar menjaga kesehatan dan stamina,” kata Lia Istifhama lewat keterangan persnya, Senin (25/05/2026).
Ia mengingatkan, aktivitas ibadah pada fase Armuzna berlangsung dengan mobilitas tinggi dan cuaca Tanah Suci yang cukup ekstrem.
“Cuaca di Tanah Suci cukup ekstrem, sehingga jamaah harus memperhatikan pola makan, istirahat yang cukup, dan jangan memaksakan diri ketika kondisi tubuh kurang fit,” ujarnya.
Lia juga mengajak jamaah untuk menjaga kekompakan dan saling mendukung selama menjalankan ibadah, khususnya bagi jamaah mandiri non-KBIHU asal Kabupaten Sumenep yang tengah melakukan pemantapan menjelang Armuzna.
“Saya berharap jamaah haji asal Kabupaten Sumenep tetap kompak, saling membantu, dan menjaga kebersamaan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Karena terbukti jamaah ini merupakan jamaah mandiri non KBIHU yang saling memberikan support wawasan satu sama lain sehingga jamaah terlihat sangat siap memasuki fase Armuzna,” tuturnya.
Menurut Lia, kebersamaan antarsesama jamaah menjadi bagian penting dalam perjalanan ibadah haji.
“Kebersamaan antarjamaah sangat penting, karena perjalanan haji bukan hanya soal ibadah pribadi, tetapi juga bagaimana saling menjaga dan menguatkan satu sama lain,” imbuhnya.
Dalam kunjungan tersebut, Lia juga berdialog langsung dengan jamaah terkait pelayanan haji pada era Kementerian Haji yang dipimpin Gus Irfan Yusuf.
Ia menyampaikan bahwa secara umum fasilitas akomodasi yang ditempati jamaah terpantau baik.
“Saya senang bisa bertemu langsung dengan jamaah haji asal Sumenep dan mendengarkan berbagai masukan serta harapan mereka terkait pelaksanaan ibadah haji tahun ini. Secara akomodasi kamar, hotel mereka ini sangat bersih dan luas. Namun problem dalam hal makanan yang mana pernah terjadi keterlambatan makanan, yang seharusnya siang tapi datangnya sore,” jelasnya.
Sementara itu, Petugas Haji Daerah (PHD) layanan umum, Abdul Aziz Haqiqi, mengapresiasi kunjungan senator asal Jawa Timur tersebut.
“Kita kan di negara orang, akses kemanapun tidak seperti di tempat kita sendiri, sehingga jika kemudian seorang senator datang mengunjungi, maka itu menunjukkan komitmen pengawasannya yang kuat dan memastikan pelayanan haji memang memenuhi harapan jamaah. Ini hal yang patut diapresiasi,” katanya.
Di sisi lain, Lia turut mengapresiasi persiapan skema Armuzna yang disusun Kementerian Haji RI melalui Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Haji, Abdul Haris Hasan.
Menurutnya, kesiapan sistem transportasi yang telah disusun akan membantu jamaah lebih fokus menjalankan ibadah.
“Jamaah haji insya Allah lebih fokus kesiapan mental dan kebutuhan pribadi selama Armuzna karena Kemenhaj telah mempersiapkan skema yang sangat matang. Hal ini sesuai hasil kunjungan kami di Dakker Makkah kemarin,” ujar Lia, 25 Mei 2026.
Sebagai bagian dari penguatan layanan, transportasi Masyair juga telah disiapkan untuk mendukung kelancaran mobilitas jamaah selama fase puncak haji.
Untuk rute Makkah–Arafah, setiap markaz dengan jumlah sekitar 3.000 jamaah disediakan tujuh bus dengan sistem taradudi tiga kali perjalanan pulang-pergi.
Sementara rute Arafah–Muzdalifah disiapkan 11 bus dengan sistem shuttle enam kali perjalanan. Adapun rute Muzdalifah–Mina disediakan enam bus dengan sistem taradudi 10 kali perjalanan.
Sedangkan pada fase Nafar Awal untuk rute Mina–Makkah disiapkan 12 bus dengan tiga kali perjalanan pulang-pergi, serta Nafar Tsani dengan jumlah armada dan sistem perjalanan yang sama.
Petugas transportasi Masyair juga dipastikan menjalankan fungsi pelayanan secara optimal, mulai memahami jadwal pergerakan Armuzna setiap kloter, jadwal murur dan tanazul, melakukan pemantauan di pos Arafah, Muzdalifah, dan Mina, hingga memperkuat koordinasi lintas sektor pelayanan jamaah.
Melalui penguatan layanan dan kesiapan jamaah, diharapkan pelaksanaan Armuzna tahun ini dapat berjalan lebih lancar, aman, dan memberikan kenyamanan bagi jamaah haji Indonesia di Tanah Suci. (Red)


Komentar