![]() |
| Tiga mahasiswa UTM menggelar kegiatan sosialisasi edukasi HIV/AIDS di Windstar College Bangkalan.(Dok/Istimewa). |
Mengusung tema edukasi HIV/AIDS bagi generasi muda, kegiatan ini menyasar siswa-siswi Windstar College yang merupakan sekolah perhotelan. Pemilihan tema tersebut dinilai relevan mengingat para siswa nantinya akan banyak berinteraksi dengan masyarakat luas, bahkan sebagian berkesempatan bekerja di kapal pesiar dan lingkungan internasional yang menuntut pemahaman mengenai kesehatan diri.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Windstar College, Deni Firmansyah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada ketiga mahasiswa UTM yang telah meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuan dengan para siswa.
"Kami berterima kasih kepada teman-teman mahasiswa yang sudah datang dan belajar bersama di Windstar. Semoga ilmu yang dibagikan hari ini dapat bermanfaat dan menjadi bekal bagi teman-teman Windstar ketika berada di dunia luar, khususnya saat berlayar nanti, agar selalu menjaga kesehatan diri," ujarnya.
Selama sosialisasi berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti pemaparan materi. Berbagai topik dibahas, mulai dari pengertian HIV dan AIDS, cara penularan, pencegahan, hingga pentingnya menghilangkan stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Salah satu peserta, Lingga, menanyakan mengenai kemungkinan kesembuhan HIV. Menanggapi hal tersebut, pemateri menjelaskan bahwa hingga saat ini HIV belum dapat disembuhkan secara total, namun dapat dikendalikan melalui pengobatan sehingga penderitanya tetap dapat menjalani hidup secara sehat dan produktif.
Pertanyaan lain juga disampaikan oleh Deni terkait kemungkinan penularan HIV melalui cairan atau urine saat berada di kolam renang. Pemateri menjelaskan bahwa HIV tidak menular melalui air kolam renang maupun urine, sehingga seseorang tidak akan terpapar HIV hanya karena berada di kolam yang sama dengan orang yang terinfeksi.
Selain dua penanya yang telah disiapkan hadiah oleh panitia, beberapa peserta lainnya turut aktif berdiskusi. Pertanyaan yang muncul di antaranya mengenai berapa lama risiko penularan dari jarum suntik yang tidak steril, serta anggapan bahwa ganja dapat mencegah HIV. Seluruh pertanyaan tersebut dijawab secara terbuka dan berdasarkan informasi kesehatan yang valid.
Untuk mendukung keberlanjutan pembelajaran, para mahasiswa juga membagikan kode QR yang berisi materi sosialisasi. QR tersebut dapat disimpan dan diakses kembali oleh peserta apabila ingin meninjau ulang materi yang telah disampaikan selama kegiatan berlangsung.
Melalui kegiatan ini, para mahasiswa berharap edukasi HIV/AIDS dapat meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga kesehatan serta membekali mereka dengan informasi yang benar dalam menghadapi kehidupan dan dunia kerja di masa mendatang.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan pembagian hadiah kepada peserta yang aktif bertanya. Para siswa mengaku senang dengan adanya sosialisasi tersebut karena menambah wawasan baru yang dinilai bermanfaat sebagai bekal ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. (Ek)


Komentar