> Gubernur Jatim Resmikan Teaching Farm Closed House dan Entrepreneur Training Center
|
Menu Close Menu

Gubernur Jatim Resmikan Teaching Farm Closed House dan Entrepreneur Training Center

Kamis, 10 Desember 2020 | 23.27 WIB

 

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat memberikan sambutan sekaligus meresmikan secara virtual

lensajatim id Surabaya- PT Charoen Pokpand Indonesia Tbk menghibahkan Teaching Farm Closed House dan Entrepreneur Teaching Center (ETC) kepada Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Kamis (10/12/2020).


Acara peresmian antara lain dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Presiden Direktur PT Charoen Pokpand Indonesia, Dr (H.C) Tjiu Thomas Effendy, Rektor Universitas Brawijaya Prof Dr Ir Nuhfil Hanani dan Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Prof Suyadi secara virtual. 


Presiden Direktur PT Charoen Pokpand Indonesia, Dr (H.C) Tjiu Thomas Effendy, mengungkapkan, peresmian ETC dan Closed House untuk ayam petelur ini merupakan salah satu program CSR Charoen Pokpand guna mencetak lulusan sarjana peternakan UB menjadi sarjana yang ampuh dan tangguh. Kehadiran ETC dan Teaching Farm Closed House juga diharapkan bisa turut mewujudkan swasembada pangan di bidang unggas. 


Program CSR ETC Charoen Pokpand ini adalah kali ketiga setelah Universitas Diponegoro Semarang dan Institut Pertanian Bogor (IPB). 


"Kita ingin dosen dan mahasiswa menjadi entrepreneur dan bisa menciptakan lapangan kerja sendiri," jelasnya. 


Kehadiran ETC di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, lanjut Thomas, bisa menjadi media awal mencetak calon entrepreneur di kalangan kampus. Misal, mahasiswa bisa menawarkan produk-produk yang dihasilkan ETC kepada rekan maupun tetangga. 


"Ini adalah tujuan kita menghibahkan ETC ke perguruan tinggi," tambahnya. 


Sementara itu, hibah Teaching Farm Closed House di Universitas Brawijaya sekaligus melengkapi sembilan hibah closed house yang telah dilakukan di beberapa universitas ternama lainnya. Seperti Universitas Andalas, IPB Bogor dan sebagainya dengan fokus pada peternakan ayam boiler atau ayam potong. 


Namun, untuk Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya akan difokuskan pada ayam petelur saja. Serta dalam waktu dekat, akan ada hibah lagi untuk beberapa universitas lain. 


"Semua bertujuan untuk mencapai apa yang kita cita-citakan bersama yaitu sarjana peternakan yang siap pakai," ungkap Thomas. 


Kendati belum sempat berkunjung ke Universitas Brawijaya pasca proyek ini selesai, Tjiu Thomas optimistis menyebut Teaching Farm Closed House ini adalah kandang modern dan canggih. Ia juga meminta agar pihak kampus terbuka menerima kunjungan studi banding dari peternak untuk mempelajari sistem peternakan di sini. 


Dalam perkembangannnya nanti, tidak menutup kemungkinan jika Charoen Pokpand bisa memperluas kerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Mengingat rangkaian mekanisasi peralatan peternakan juga membutuhkan berbagai piranti teknik. 


Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Prof Suyadi mengatakan, hibah dari PT Charoen Pokpand merupakan langkah konkret dan strategis dalam membangun SDM unggul dalam bidang peternakan. 


Kedua hibah akan digunakan sebagai sarana penelitian oleh dosen dan mahasiswa sebagai syarat tugas akhir. 


"Terima kasih kepada Charoen Pokpand karena telah berkontribusi positif dalam dunia pendidikan," ucap Prof Suyadi. 


Senada, Rektor Universitas Brawijaya, Prof Nuhfil Hanani mengapresiasi bantuan hibah tersebut sebagai bentuk kerja sama yang luar biasa. 


"Ini adalah bentuk kerja sama triple helix antara dunia pendidikan, pemerintah dan swasta. Insya Allah dengan gabungan tiga komponen ini Indonesia bisa maju," katanya. 


Lebih lanjut, Prof Nuhfil menyebut jika Teaching Farm Closed House bermanfaat bagi para dosen dan mahasiswa untuk melakukan penelitian. Ia berharap agar kepeloporan Charoen Pokpand bisa memicu tumbuhnya entrepreneur bidang peternakan. 


Gubernur Jatim Khofifah menjelaskan, inovasi strategis berupa hibah PT Charoen Pokpand kepada Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya bisa bersinergi dengan rencana pembangunan Kawasan Industri Halal (KIH) yang tengah dirancang oleh Pemerintah Provinsi Jatim. 


Dua hibah tersebut sekaligus membentuk ekosistem dan akses market guna mewujudkan cita-cita bangsa menjadi eksportir halal food. Sebab, saat ini Indonesia masih menjadi importir halal food terbesar di dunia dengan daftar negara pemasok tertinggi dari Brazil kemudian disusul oleh Italia. 


"Saya mohon ini kemudian menjadi bagian dari penguatan menjadi eksportir halal food. Inisiasi ini mudah-mudahan akan bersambung dengan semua ikhtiar yang sedang dikembangkan," tutur Khofifah. (Had)

Bagikan:

Komentar