|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Lia Istifhama Dorong Integrasi Labuan Bajo–Jawa Timur dalam Paket Destinasi Nasional

Kamis, 29 Januari 2026 | 17.31 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat bertemu dengan Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf, Dwi Marhen Yono. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta — Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mendorong penguatan integrasi Labuan Bajo dan Jawa Timur dalam satu paket destinasi pariwisata nasional. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia sekaligus memperluas dampak ekonomi daerah.


Dorongan tersebut disampaikan Lia saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Jakarta.


Dalam kunjungan itu, Lia berdialog dengan Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf, Dwi Marhen Yono. Pertemuan membahas pengembangan destinasi berbasis kawasan terintegrasi serta penguatan konektivitas lintas wilayah.


Diskusi menyoroti peluang pengemasan lintas destinasi yang menghubungkan kekuatan wisata unggulan nasional, khususnya antara Labuan Bajo dan Jawa Timur.


Dwi Marhen Yono menjelaskan pemerintah tengah mengembangkan kawasan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) seluas sekitar 400 hektare. Kawasan tersebut dirancang sebagai destinasi wisata darat terintegrasi untuk melengkapi wisata bahari Labuan Bajo.


“Selama ini sekitar 82 persen wisatawan Labuan Bajo masih didominasi aktivitas island hopping. Wisata daratnya baru sekitar 18 persen,” ujar Dwi Marhen.


Menurutnya, pembangunan kawasan otorita bertujuan menyeimbangkan komposisi wisata bahari dan darat dalam 10 tahun ke depan. Dengan begitu, dampak ekonomi pariwisata diharapkan semakin luas dan merata.


Ia juga menegaskan pengembangan kawasan dilakukan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan. Dari total luasan, hanya 20 persen lahan yang dapat dimanfaatkan, sementara 80 persen tetap dipertahankan sebagai kawasan hijau dan hutan konservasi.


Seluruh vegetasi di kawasan tersebut telah diinventarisasi untuk memastikan pembangunan tidak merusak ekosistem.


Dalam kesempatan yang sama, Lia menekankan pentingnya sinergi antardaerah. Ia secara khusus mendorong integrasi Labuan Bajo dengan destinasi prioritas nasional di Jawa Timur, seperti kawasan Bromo–Tengger–Semeru (BTS).


Menurut Lia, integrasi lintas wilayah tidak hanya memperkuat ekosistem pariwisata nasional, tetapi juga memperpanjang lama tinggal wisatawan.


“Integrasi Labuan Bajo dan Jawa Timur bukan sekadar pengemasan destinasi, tetapi strategi pemerataan ekonomi pariwisata berbasis kawasan,” tegas Lia.


Sementara itu, Dwi Marhen Yono menilai Jawa Timur berpotensi menjadi hub pariwisata strategis nasional. Mantan Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi itu menyebut integrasi lintas wilayah sejalan dengan kebijakan quality tourism Kemenparekraf.


Saat ini, rata-rata belanja wisatawan mancanegara berada di angka sekitar USD 1.300. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi USD 2.000 pada 2030 guna memperkuat dampak ekonomi pariwisata nasional. (Red) 

Bagikan:

Komentar