|
Menu Close Menu

Tantangan Anak Tak Suka Sayur, SPPG Dapur MBG Annur Garahan Jember Gencarkan Edukasi ke Sekolah

Senin, 02 Februari 2026 | 19.26 WIB

SPPG Dapur MBG Annur Desa Garahan, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jember – Niat baik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak tidak selalu berjalan mulus. Di balik menu bergizi yang disusun ahli gizi, masih ada tantangan klasik yang dihadapi di lapangan, anak-anak enggan makan sayur.


Kondisi tersebut juga dialami Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Annur Desa Garahan, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Setiap hari, menu bergizi lengkap dibagikan kepada siswa, namun tak jarang sayuran justru menjadi bagian yang tersisa. Situasi ini membuat pengelola MBG Annur harus memutar otak. 


Tujuan utama program, yakni membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini, tidak boleh berhenti hanya karena selera anak-anak belum terbiasa.


Sebagai langkah strategis, SPPG Dapur MBG Annur merancang Gerakan Gemar Makan Sayur dan Buah dengan turun langsung ke sekolah-sekolah. Edukasi gizi akan diberikan tidak hanya kepada siswa, tetapi juga melibatkan guru agar pesan kesehatan dapat terus diperkuat di lingkungan sekolah.


“Program Makan Bergizi Gratis ini sangat bermanfaat bagi anak-anak, karena di masa pertumbuhan mereka membutuhkan nutrisi yang cukup, baik hewani, nabati, maupun susu,” ujar Oki Satria Mitra SPPG Dapur MBG Annur Desa Garahan.


Menurut Satria, dampak MBG mulai dirasakan secara nyata oleh para siswa.


“Perubahan terlihat jelas. Berat badan anak-anak meningkat dan daya tahan tubuh mereka juga lebih baik, tidak mudah sakit seperti sebelumnya,” jelasnya.


Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar adalah kebiasaan siswa yang kurang menyukai sayuran.


“Sering kali yang tersisa dari menu MBG adalah sayurannya, padahal sayur sangat penting untuk kesehatan,” katanya.


Ke depan, SPPG Dapur MBG Annur akan lebih aktif melakukan edukasi langsung.


“Kami akan turun langsung ke sekolah-sekolah, tidak hanya ke siswa, tetapi juga ke guru agar turut memotivasi anak-anak untuk gemar makan sayur,” tandas Satria.


Hal senada disampaikan M. Hendika Wisnu, Ahli Gizi SPPG Dapur MBG Annur Desa Garahan. Ia menyebutkan bahwa ketidakterbiasaan mengonsumsi sayuran menjadi penyebab utama rendahnya minat siswa.


“Untuk mensiasati hal itu, saya mengusulkan agar tim distribusi menggunakan kostum Power Rangers dan tampilan menu dibuat lebih menarik agar anak-anak tertarik,” ungkapnya.


Upaya tersebut mulai membuahkan hasil.


“Sekarang sudah mulai terlihat, sisa menu sayuran yang awalnya banyak, perlahan mulai berkurang,” tambah Hendika.


Sementara itu, Miftah Farid As’ad, Kepala Dapur SPPG Dapur MBG Annur, menegaskan pentingnya variasi menu untuk menghindari kebosanan siswa.


“Setiap hari saya tekankan menu harus berbeda-beda, tujuannya agar anak-anak tetap senang dan tidak cepat bosan,” ujarnya.


Selain variasi menu, Miftah juga menekankan ketepatan waktu distribusi makanan.


“Kami pastikan distribusi tidak terlambat, karena itu sangat berpengaruh terhadap kualitas makanan yang diterima siswa,” pungkasnya. (Eko) 

Bagikan:

Komentar