![]() |
| Sidak Dinas Peternakan ke kandang sapi perah di Desa Rowo Indah, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember.(Dok/Istimewa). |
Lensajatim.id, Jember - Dugaan adanya “kongkalikong” antara Dinas Peternakan Kabupaten Jember dengan pengelola kandang sapi perah di Desa Rowo Indah, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember mencuat ke publik. Hal ini dipicu ketidakkonsistenan dinas terkait pelaksanaan inspeksi mendadak (sidak) yang sebelumnya dijanjikan terbuka bersama media.
Sebelumnya, Kepala Bidang Peternakan Dinas Peternakan Jember, drh. Elok Kristanti, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya menyatakan akan menjadwalkan sidak pada Kamis, 9 April 2026. Bahkan, sidak tersebut disepakati dilakukan bersama awak media.
Namun sehari sebelum jadwal, Elok menyampaikan ketidakpastian pelaksanaan sidak.
“Masih belum tahu pak, karena besok di kantor masih ada acara 🙏,” ujar Elok melalui pesan WhatsApp, Rabu (8/4/2026).
“Mohon bersabar nanti kami kabari,” tambahnya.
Anehnya, setelah pemberitaan rencana sidak tersebut mencuat, pihak dinas justru mengklaim bahwa sidak telah dilakukan pada Kamis sesuai jadwal awal.
Sidak tersebut dilakukan tanpa melibatkan atau memberi informasi kepada media yang sebelumnya diajak berkoordinasi.
Langkah ini memicu tanda tanya besar terkait komitmen transparansi Dinas Peternakan Jember dalam menangani persoalan kandang sapi perah yang sudah lama dikeluhkan warga.
Pihak dinas bahkan menyebut hasil sidak menyatakan kandang telah sesuai dengan regulasi. Padahal, lokasi kandang berada di tengah permukiman padat penduduk.
Warga setempat mengaku sudah berulang kali menyampaikan keluhan, baik kepada pengelola kandang maupun pemerintah desa. Namun hingga kini, tidak ada respons yang berarti.
Keluhan utama warga adalah bau menyengat dari kotoran sapi yang tercium setiap hari. Selain itu, limbah kandang juga diduga mencemari Sungai Mayang yang berada tepat di belakang lokasi.
“Baunya sangat mengganggu, apalagi kalau pagi dan sore. Kami sudah lama protes, tapi tidak pernah ditanggapi,” kata Samiun yang rumahnya tepat berada di depan kandang tersebut.
Kondisi ini memperkuat dugaan adanya pembiaran, bahkan potensi kerja sama terselubung antara pihak tertentu dengan pengelola kandang. (Eko)


Komentar