|
Menu Close Menu

Tiga Besar Bursa Cagub Jatim Versi ARCI: Emil Dardak Teratas, Disusul Ning Lia, Eri Cahyadi di Posisi Ketiga

Sabtu, 25 Juli 2026 | 19.19 WIB

 

Dari Kiri: Emil Elestianto Dardak, Lia Istifhama, dan Eri Cahyadi.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya – Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) merilis hasil survei terbaru terkait preferensi politik generasi muda Jawa Timur terhadap sejumlah tokoh yang dinilai berpeluang maju pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2029. Hasilnya, Emil Elestianto Dardak berada di posisi teratas, diikuti Lia Istifhama dan Eri Cahyadi.


Survei dilakukan pada 25 Juni hingga 5 Juli 2026 dengan melibatkan 1.200 responden berusia 17–40 tahun yang tersebar secara proporsional di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Pengambilan sampel menggunakan metode Stratified Multistage Random Sampling dengan margin of error ±2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.


Berdasarkan hasil survei, Emil Dardak meraih elektabilitas 32,1 persen. Posisi kedua ditempati Lia Istifhama dengan 17,5 persen, disusul Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sebesar 10,3 persen.


Sementara itu, Ahmad Fauzi memperoleh 7,7 persen, Muhammad Fawait 5,8 persen, Muhammad Nur Arifin 5,2 persen, Yuhronur Efendi 4,1 persen, Aditya Halindra Faridzky 3,9 persen, dan Hanindhito Himawan Pratama 2,1 persen. Sebanyak 7,1 persen responden memilih nama lain, sedangkan 4,2 persen mengaku belum menentukan pilihan.


Direktur ARCI Nanang Haromain menegaskan, survei ini tidak dimaksudkan menggambarkan keseluruhan pemilih Jawa Timur, melainkan secara khusus memotret preferensi generasi muda berusia 17–40 tahun yang diproyeksikan menjadi kelompok penentu dalam kontestasi politik Jawa Timur pada masa mendatang.


Menurutnya, terdapat sejumlah temuan penting dari hasil survei tersebut.


Temuan pertama menunjukkan Emil Dardak masih menjadi figur paling kuat di kalangan pemilih muda. Elektabilitas sebesar 32,1 persen dinilai mencerminkan tingginya tingkat pengenalan publik sekaligus penerimaan yang baik di kelompok usia produktif.


Meski demikian, Nanang mengingatkan bahwa angka tersebut juga menunjukkan sekitar dua pertiga responden masih berada di luar basis dukungan Emil.


"Artinya, persaingan menuju Pilgub Jawa Timur masih sangat terbuka," ujarnya.


Temuan kedua yang dinilai paling menarik adalah munculnya Lia Istifhama sebagai peraih suara terbanyak kedua dengan elektabilitas 17,5 persen.


Menurut Nanang, capaian tersebut cukup signifikan mengingat Lia bukan kepala daerah aktif. Hasil itu menunjukkan mulai terbentuknya basis dukungan serta tingkat pengenalan yang kuat di kalangan generasi muda.


Ia menilai komunikasi publik, aktivitas organisasi, dan kedekatan dengan kelompok muda menjadi faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya elektabilitas Lia.


Sementara itu, Eri Cahyadi berada di posisi ketiga dengan elektabilitas 10,3 persen. ARCI menilai popularitas sebagai kepala daerah di kota terbesar di Jawa Timur belum otomatis berbanding lurus dengan tingkat dukungan di level provinsi.


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perluasan pengaruh politik ke luar daerah asal masih menjadi tantangan bagi sejumlah kepala daerah yang diproyeksikan maju pada Pilgub Jawa Timur mendatang.


Pada kelompok kandidat papan tengah, persaingan dinilai masih sangat terbuka. Selisih elektabilitas antara Ahmad Fauzi, Muhammad Fawait, Muhammad Nur Arifin, Yuhronur Efendi, dan Aditya Halindra Faridzky relatif tipis sehingga masih berpotensi berubah seiring meningkatnya intensitas sosialisasi maupun dinamika politik menjelang Pilgub.


ARCI juga mengingatkan agar hasil pada kelompok menengah dibaca secara hati-hati karena masih berada dalam rentang margin of error ±2,8 persen.


Dengan demikian, selisih elektabilitas yang kecil belum tentu mencerminkan perbedaan kekuatan politik yang signifikan secara statistik. Sebaliknya, keunggulan Emil Dardak atas kandidat lainnya dinilai cukup lebar sehingga menunjukkan posisi yang relatif lebih stabil pada saat survei dilakukan.


Selain itu, 11,3 persen responden masih memilih nama lain atau belum menentukan pilihan. Angka tersebut menunjukkan ruang kompetisi menuju Pilgub Jawa Timur 2029 masih terbuka lebar dan preferensi politik generasi muda masih sangat dinamis.


Nanang mengatakan, hasil survei ini memperlihatkan bahwa generasi muda mulai membentuk preferensi politik jauh sebelum tahapan Pilgub dimulai.


"Survei ini memberikan pesan bahwa generasi muda Jawa Timur mulai membentuk preferensi politiknya jauh sebelum tahapan Pilgub dimulai. Mereka tidak hanya mempertimbangkan popularitas, tetapi juga melihat rekam jejak, kedekatan dengan publik, dan kemampuan figur dalam membangun komunikasi," katanya.


Ia menambahkan, meski Emil Dardak unggul cukup jauh, posisi tersebut belum bisa dianggap aman.


"Emil Dardak memang memimpin cukup jauh pada survei kali ini. Namun angka 32,1 persen belum dapat dianggap sebagai posisi yang aman karena mayoritas pemilih muda masih berada di luar basis dukungannya. Artinya, kontestasi menuju Pilgub Jawa Timur masih sangat terbuka," ujarnya.


Nanang juga menyoroti kemunculan Lia Istifhama sebagai pesaing terdekat Emil Dardak.


"Lia Istifhama menjadi salah satu kejutan dalam survei ini. Sebagai figur yang bukan kepala daerah aktif, elektabilitasnya mampu menempati posisi kedua. Ini menunjukkan bahwa peta politik Jawa Timur mulai mengalami regenerasi dan publik mulai memberi ruang kepada figur-figur alternatif," tuturnya.


Menutup paparannya, Nanang menegaskan bahwa Pilgub Jawa Timur 2029 berpotensi ditentukan oleh figur yang mampu membangun kedekatan dengan generasi muda.


"Pilgub Jawa Timur 2029 kemungkinan besar tidak hanya ditentukan oleh kekuatan partai politik, tetapi juga oleh siapa yang paling mampu membangun kedekatan emosional dengan generasi muda. Kelompok usia 17–40 tahun akan menjadi salah satu penentu utama arah politik Jawa Timur dalam beberapa tahun ke depan," pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar