|
Menu Close Menu

Kuliah Sambil Jualan, Nur Laylatul Rintis Usaha Siwil hingga Cireng

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22.31 WIB

Nur Laylatul Khoiriyah Syaka melayani pembeli. (Dok/Nur Laylatul) 
Lensajatim.id, Bangkalan— Menjalani perkuliahan tidak membuat Nur Laylatul Khoiriyah Syaka, 21, berhenti mengembangkan diri. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Matematika semester V tersebut memilih merintis usaha makanan berupa siwil goreng, bakdabak, dan cireng di sela kesibukannya sebagai mahasiswa.


Nur Laylatul mulai merintis usaha tersebut sekitar satu hingga dua tahun lalu. Awalnya, ia hanya mencoba menawarkan dagangannya kepada tetangga dan teman dekat. Respons positif dari pembeli kemudian membuatnya tertarik untuk terus mengembangkan usaha tersebut.


“Awalnya cuma coba-coba nawarin ke tetangga dan teman dekat, tapi ternyata responsnya bagus dan ketagihan,” ujar Nur Laylatul, Kamis (20/8/2026).


Menurutnya, keputusan berjualan dilakukan untuk menambah uang saku sekaligus melatih kemandirian finansial agar tidak terlalu membebani orang tua. Dari usaha tersebut, ia juga mendapat pengalaman dalam mengelola usaha, melayani pelanggan, hingga menerapkan strategi bisnis secara langsung.


Nur Laylatul menjalankan usaha tersebut dari rumah yang sekaligus menjadi lokasi berjualan di Desa Tunjung, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan. Ia biasanya mulai melayani pesanan pada sore hari sekitar pukul 15.00 WIB hingga malam sekitar pukul 20.00 WIB.


“Biasanya saya mulai jualan atau melayani pesanan dari sore jam 15.00 sampai malam sekitar jam 20.00,” katanya.


Sistem penjualan sebagian besar dilakukan dari rumah melalui sistem pre-order atau pembeli mengambil langsung pesanannya. Selain itu, ia juga menerima pesanan secara daring.


Untuk pesanan COD maupun pengantaran di sekitar kampus dan rumah, jarak yang ditempuh rata-rata sekitar 1–3 kilometer dengan menggunakan sepeda motor.


Pembelinya pun cukup beragam, mulai dari sesama mahasiswa, tetangga sekitar rumah, hingga anak-anak les dan orang tua mereka yang memesan jajanan.


Namun, dalam menjalankan usaha tersebut, ia tetap harus membagi waktu dengan kegiatan perkuliahan. 


“Tantangan terbesarnya jelas di manajemen energi dan rasa lelah. Kadang kalau tugas kuliah lagi menumpuk barengan sama jadwal pesanan jualan yang ramai, rasanya lumayan menguras fisik,” ungkapnya.


Untuk mengatasi hal tersebut, Nur Laylatul menerapkan jadwal harian dan skala prioritas. Ketika kegiatan akademik sedang padat, seperti saat ujian, ia memilih membatasi jumlah pesanan agar tidak mengganggu kewajiban kuliah.


“Kalau memang jadwal kuliah lagi padat banget seperti saat ujian, saya bakal batasi kuota pesanan jualan sementara waktu,” ujarnya.


Meski masih dijalankan dalam skala kecil, Nur Laylatul berharap usaha siwil, bakdabak, dan cireng yang dirintisnya dapat terus berkembang dan semakin dikenal.


Ia bahkan berharap suatu saat dapat memiliki outlet sendiri dengan pengelolaan yang lebih tertata.


“Harapannya, usaha jualan siwil, bakdabak, dan cireng ini bisa terus berkembang, makin dikenal luas, bahkan kalau bisa punya outlet sendiri yang lebih tertata,” pungkasnya. (Tik) 

Bagikan:

Komentar