![]() |
| Aisyah saat berjualan Maison. (Dok/Aisyah). |
Perempuan 27 tahun itu mendirikan Maison Coffee pada 11 Agustus 2026. Usaha tersebut dirintis dari rumahnya di Jl. Jeruk VII No. 20, Perumnas Kamal.
Maison Coffee berawal dari keresahan Aisyah yang sulit menemukan kopi sesuai selera di wilayah Kamal.
Aisyah biasanya harus pergi ke Telang atau Bangkalan untuk mendapatkan kopi yang menurutnya enak. Kondisi itu kemudian dilihat sebagai peluang untuk menghadirkan kopi di wilayah tempat tinggalnya.
“Karena sebelumnya saya memiliki pengalaman bekerja di Starbucks selama kurang lebih lima tahun, saya melihat hal tersebut sebagai peluang,” kata Aisyah, Kamis (10/09/2026).
Berbekal pengalaman tersebut, Aisyah ingin menghadirkan kopi berkualitas dengan harga yang tetap terjangkau bagi masyarakat Kamal.
Maison Coffee dirintis dengan modal sekitar Rp2 juta dari dana pribadi. Modal itu digunakan untuk membeli bahan baku, kemasan, serta kebutuhan promosi.
Nama Maison berasal dari bahasa Prancis yang berarti rumah. Nama tersebut dipilih karena usaha itu berawal dan diproduksi dari rumah.
Meski belum memiliki kedai, Maison Coffee sudah melayani pesanan dengan sistem take away dan delivery. Setiap minuman dibuat setelah pelanggan melakukan pemesanan.
Konsep tersebut sesuai dengan slogan Maison Coffee, “Freshly Brewed, Made to Order”. Aisyah memastikan minuman tidak dibuat dalam jumlah banyak untuk disimpan.
Menu yang tersedia meliputi Maison Latte sebagai signature menu, Aren Latte, Caffe Latte, Americano, Thai Tea, dan Matcha.
Aren Latte dan Maison Latte menjadi dua menu yang paling banyak diminati pelanggan. Aisyah juga memperhatikan kualitas bahan dan keseimbangan rasa dalam setiap minuman.
Pada hari biasa, Maison Coffee mampu menjual sekitar 10 hingga 15 cup. Omzet harian berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp200 ribu.
Pemasaran dilakukan melalui Instagram dan WhatsApp. Media sosial digunakan untuk mengenalkan produk, membagikan menu dan promo, sekaligus menerima pesanan.
Aisyah juga menggandeng kurir lokal di Kamal. Katalog menu dan harga Maison Coffee dibagikan kepada kurir untuk membantu mengenalkan produk kepada pelanggan.
Menurut Aisyah, media sosial memiliki peran penting dalam usahanya karena Maison Coffee belum memiliki toko fisik. Platform tersebut menjadi tempat konsumen mengenal produk sebelum melakukan pemesanan.
Meski masih menjadi usaha sampingan, hasil penjualan Maison Coffee mulai membantu memenuhi sebagian kebutuhan keluarga Aisyah.
Seluruh operasional usaha masih ditangani sendiri. Mulai dari menerima pesanan, membuat minuman, mengatur stok, hingga melakukan pemasaran.
Tantangan terbesar saat ini adalah memperkenalkan brand baru kepada masyarakat. Aisyah mengatasinya dengan memperkuat promosi dan menjaga kualitas produk serta pelayanan.
Ke depan, Aisyah menargetkan Maison Coffee memiliki tempat sendiri di Kamal. Dia ingin pelanggan dapat datang, duduk, dan menikmati kopi secara langsung.
Dia berharap Maison Coffee semakin dikenal sebagai pilihan kopi lokal di Kamal. Usaha tersebut juga diharapkan berkembang dari bisnis rumahan menjadi usaha yang lebih besar dan berkelanjutan. (rif)


Komentar