|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Ning Lia Sebut Idul Fitri 1447 H sebagai Momentum Rekonsiliasi Sosial dan Penguat Harmoni Bangsa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 00.49 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama dalam sebuah acara.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta— Di tengah dinamika geopolitik global dan perkembangan politik domestik, peringatan Idul Fitri 1447 Hijriah dinilai memiliki makna strategis sebagai momentum memperkuat rekonsiliasi sosial serta mempererat persatuan nasional. Hal tersebut disampaikan Anggota DPD RI, Lia Istifhama, dalam keterangannya, Jumat (20/3/2026). 


Perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu menegaskan bahwa Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan semata, tetapi juga sebagai ruang refleksi untuk memperbaiki relasi sosial yang mungkin sempat renggang.


“Idul Fitri bukan sekadar kemenangan spiritual setelah Ramadan, tetapi juga kesempatan untuk membersihkan hati, menghapus dendam, dan membuka ruang rekonsiliasi sosial yang tulus,” ujarnya.


Menurutnya, tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas Idul Fitri harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, tidak berhenti pada simbol atau formalitas. Hal ini, lanjutnya, penting diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam konteks berbangsa dan bernegara.


Keponakan Gubernur Jawa Timur tersebut menekankan bahwa nilai memaafkan merupakan ajaran fundamental dalam Islam. Ia merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 134 yang menekankan pentingnya menahan amarah dan memberi maaf, serta Surah Al-Hujurat ayat 10 yang menegaskan persaudaraan antarumat manusia.


Selain itu, ajaran serupa juga ditegaskan oleh Nabi Muhammad melalui hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik dan segera mengakhiri konflik antarsesama.


Lebih lanjut, Lia menilai bahwa Indonesia sebagai bangsa majemuk membutuhkan energi moral seperti yang terkandung dalam nilai-nilai Idul Fitri. Di tengah perbedaan pandangan dan potensi polarisasi di ruang publik, semangat saling memaafkan dinilai dapat menjadi fondasi kuat untuk memperkuat kohesi sosial.


“Idul Fitri adalah risalah moral bagi bangsa. Jika nilai maaf dipraktikkan secara tulus, maka kehidupan sosial dan politik akan lebih sehat, inklusif, dan damai,” tegasnya.


Ia pun mengajak seluruh masyarakat menjadikan Idul Fitri sebagai momentum refleksi bersama, tidak hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


“Jika dimaknai secara mendalam, Idul Fitri dapat menjadi gerakan moral untuk memperbaiki hubungan sosial dan memperkuat persatuan bangsa,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar