![]() |
| Suasana Pasar Ketupat di depan gedung Rato Ebu Bangkalan.(Dok/Istimewa). |
Sejak pagi hari, ribuan warga tampak memadati area pasar. Mereka datang dari berbagai penjuru, baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Kepadatan bahkan sudah terlihat sejak dini hari, saat pasar kaget mulai ramai diserbu pengunjung.
Beragam kuliner khas tersaji di pasar ini, mulai dari topak lade, leppet, hingga aneka olahan ketupat lainnya. Aroma khas santan dan bumbu rempah yang menggoda semakin menambah semarak suasana.
Salah satu pengunjung, Atik, mengaku sengaja datang untuk membeli ketupat sebagai pelengkap hidangan di rumah.
“Saya ini kebetulan hanya beli ketupatnya saja, karena bumbu ladehnya sudah ada di rumah. Kalau lontong dari daun pisang tadi dapat harga Rp5 ribu per biji, sedangkan ketupat Rp10 ribu dapat tiga,” ujarnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, harga satu porsi topak lade bervariasi, tergantung lauk yang dipilih. Pengunjung dapat menikmati sajian tersebut dengan harga mulai Rp20 ribu hingga Rp35 ribu per porsi.
Tidak hanya pembeli dan pedagang, momentum ini juga dimanfaatkan oleh juru parkir dadakan yang turut meramaikan kawasan sekitar Jalan Ahmad Yani. Sejak pukul 03.00 WIB, aktivitas jual beli sudah berlangsung, menciptakan geliat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat.
Tradisi Lebaran Ketupat yang rutin digelar setiap H+7 Idulfitri ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang usaha bagi warga. Para pedagang memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan pendapatan, sekaligus memperkenalkan kuliner khas daerah kepada masyarakat luas.
Dengan tingginya antusiasme masyarakat, Pasar Ketupat Bangkalan tahun ini kembali membuktikan diri sebagai perayaan budaya yang tidak hanya meriah, tetapi juga berdampak positif bagi perekonomian lokal. (Fiq)


Komentar