|
Menu Close Menu

Takbir Kolektif Jadi Media Penguatan Spiritualitas, IBS PKMKK Hadirkan Pendekatan Kreatif di Pamekasan

Jumat, 20 Maret 2026 | 23.06 WIB

Kegiatan Takbir IBS PKMKK.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Pamekasan– Di tengah derasnya arus modernitas yang kerap menggerus kesadaran spiritual, IBS PKMKK menghadirkan pendekatan inovatif melalui kegiatan takbir keliling yang dikemas secara menarik dan partisipatif. Program ini tidak hanya menjadi agenda seremonial menjelang Idulfitri, tetapi juga diposisikan sebagai upaya membangun kembali kesadaran kolektif masyarakat.


Kegiatan yang melibatkan masyarakat dan kalangan remaja tersebut diramaikan dengan takbir keliling, pembagian doorprize, hingga penutupan dengan kembang api. Rangkaian acara ini sukses menciptakan suasana religius yang inklusif, di mana masyarakat tidak sekadar menjadi penonton, tetapi terlibat aktif dalam ekspresi keagamaan.


Direktur Utama IBS PKMKK, Achmad Muhlis, menjelaskan bahwa pendekatan ini merupakan strategi persuasif berbasis pengalaman kolektif. Menurutnya, dalam kondisi masyarakat yang semakin terdistraksi oleh dunia digital dan gaya hidup individualistik, diperlukan cara-cara kreatif untuk menghadirkan kembali nilai-nilai spiritual di ruang publik.


“Pendekatan ini bukan paksaan dalam arti negatif, melainkan dorongan kultural yang mengajak masyarakat terlibat melalui simbol dan pengalaman bersama,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/3/2026).


Ia menuturkan, takbir keliling menjadi ruang sosial yang mempertemukan nilai religius dengan dinamika kebersamaan. Dalam perspektif sosiologi, kegiatan ini memperkuat ikatan sosial sekaligus membangun kesadaran kolektif melalui pengalaman spiritual yang dirasakan bersama.


Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur kepolisian dari Polsek Larangan, Ferlian Qurrata A’yun, serta Kepala Desa Lancar, Mohammad Hosli. Keduanya menyambut positif inisiatif yang dinilai mampu memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat.


Lebih lanjut, Muhlis mengungkapkan bahwa penggunaan doorprize menjadi bagian dari strategi untuk menarik partisipasi, khususnya dari generasi muda. Pendekatan ini dinilai efektif sebagai pintu masuk untuk menumbuhkan keterlibatan awal, yang kemudian diharapkan berkembang menjadi kesadaran intrinsik.


“Partisipasi yang diawali oleh motivasi eksternal dapat bertransformasi menjadi kesadaran internal ketika individu mulai merasakan makna dari aktivitas tersebut,” jelasnya.


Tak hanya itu, penampilan kembang api di akhir acara juga dimaknai sebagai simbol kebahagiaan dan rasa syukur atas keberhasilan menjalani ibadah Ramadan. Elemen visual tersebut menjadi pelengkap yang memperkuat pengalaman emosional peserta.


Meski demikian, Muhlis tidak menampik adanya potensi kritik terkait penggunaan unsur hiburan dalam kegiatan keagamaan. Ia menegaskan bahwa keseimbangan antara substansi dan kemasan menjadi kunci agar nilai spiritual tetap terjaga.


Menurutnya, tausiah yang disampaikan sebelum kegiatan menjadi fondasi penting untuk menjaga arah dan makna seluruh rangkaian acara. Dengan demikian, seluruh aktivitas tetap berada dalam koridor ibadah dan refleksi spiritual.


“Kegiatan ini dirancang sebagai pengalaman yang utuh, tidak hanya menyentuh aspek kognitif melalui ceramah, tetapi juga emosional melalui keterlibatan langsung masyarakat,” imbuhnya.


IBS PKMKK menilai, pendekatan adaptif semacam ini menjadi relevan dalam menjawab tantangan dakwah di era modern. Dengan memadukan nilai keagamaan dan kreativitas, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kembali kesadaran spiritual masyarakat secara berkelanjutan.


Melalui inisiatif tersebut, IBS PKMKK menunjukkan bahwa dakwah dapat hadir dalam bentuk yang lebih kontekstual tanpa kehilangan esensinya, yakni mengajak masyarakat untuk terus mengingat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di tengah dinamika kehidupan masa kini. (Man) 

Bagikan:

Komentar