|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Lia Istifhama Apresiasi Bank Jatim, Optimis Jadi BPD Nomor 1 di Indonesia

Rabu, 08 Juli 2026 | 01.32 WIB

Anggota DPD RI, Lia Istifhama saat bertemu dengan Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, mengapresiasi kinerja PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) yang dinilainya sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) paling solid di Indonesia.


Apresiasi tersebut diberikan atas keberhasilan Bank Jatim mencatatkan laba tertinggi di industri Bank Pembangunan Daerah (BPD) sekaligus konsistensinya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.


Lia Istifhama menilai keberhasilan Bank Jatim tidak hanya tercermin dari sisi finansial, tetapi juga dari komitmennya membangun ekosistem ekonomi daerah yang inklusif.


Menurut senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu, soliditas Bank Jatim menunjukkan tata kelola yang baik, kepemimpinan yang visioner, serta keberpihakan terhadap sektor-sektor produktif.


"Bank Jatim hari ini menunjukkan bahwa BUMD bisa naik kelas, tidak hanya kuat secara angka, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat. Ini yang saya sebut sebagai BUMD paling solid, karena mampu menjaga keseimbangan antara profit, pelayanan publik, dan penguatan ekonomi daerah," ujarnya.


Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu juga mengapresiasi transformasi digital dan penguatan Kelompok Usaha Bank (KUB) yang dinilainya menjadi strategi penting untuk memperluas layanan sekaligus meningkatkan daya saing.


"Dengan roadmap yang jelas dan kolaborasi antar-BPD melalui KUB, saya optimistis Bank Jatim tidak hanya menjadi yang terbaik di daerah, tetapi juga mampu bersaing dan menjadi nomor satu di tingkat nasional," tegasnya.


Sementara itu, Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, mengatakan tujuan utama perseroan bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memperluas inklusi dan literasi keuangan serta membuka akses pembiayaan bagi masyarakat.


Untuk memperluas layanan, Bank Jatim saat ini didukung 244 kantor cabang, termasuk kantor cabang di Jakarta. Selain itu, perusahaan terus meningkatkan kapasitas layanan mobile banking agar nasabah dapat bertransaksi kapan saja dan di mana saja.


Kemudahan akses tersebut juga diharapkan dapat mendorong penyaluran kredit. Saat ini, komposisi kredit Bank Jatim masih didominasi sektor konsumtif sebesar 55 persen.


Meski demikian, manajemen terus memperbesar porsi kredit produktif sebagai upaya memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).


Dalam menjaga predikat sebagai BPD sehat dan terbaik, Bank Jatim memfokuskan strategi pada tiga pilar utama, yakni penguatan struktur permodalan, percepatan transformasi digital perbankan, serta peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia di era digital.


Bank Jatim juga telah menyusun peta jalan (roadmap) bisnis jangka panjang untuk periode 2027–2028. Roadmap tersebut diproyeksikan menjadi acuan pengembangan bisnis sekaligus percontohan bagi jajaran BUMN.


Strategi itu dirumuskan dalam lima pilar utama, yakni penguatan tata kelola perusahaan (corporate governance), optimalisasi ekosistem bisnis, transformasi teknologi informasi, penguatan human capital, dan optimalisasi Kelompok Usaha Bank (KUB).


Menurut Winardi, penguatan KUB menjadi langkah strategis seiring kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong pemenuhan modal inti minimum Rp3 triliun bagi seluruh BPD.


"Kami membuka peluang sinergi KUB dengan lima BPD lainnya di Indonesia, seperti BPD NTT dan NTB. Sinergi ini akan membuat pondasi perbankan daerah makin kuat. Jika ada pengusaha di daerah mereka yang butuh fasilitas pembiayaan besar, Bank Jatim siap meng-cover," katanya.


Sebelumnya, Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah, Syariah, dan Daerah OJK, Defri Andri, juga menilai industri BPD memiliki ketahanan yang baik dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.


Menurut Defri, hal itu tercermin dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) industri BPD yang mencapai 26,19 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata CAR industri perbankan nasional sebesar 25,09 persen.


OJK juga menilai skema KUB yang dijalankan Bank Jatim menjadi solusi untuk memperkuat stabilitas perbankan daerah. Melalui sinergi tersebut, BPD yang telah memiliki modal dan bisnis kuat dapat mendukung penguatan BPD lain yang masih berkembang.


"Sinergi bisnis yang dibangun di dalam KUB diharapkan tidak hanya terbatas pada aktivitas perbankan ritel semata. Namun, harus mampu mendorong akselerasi dan sinergi ekonomi riil antar-daerah," pungkas Defri Andri. (Red) 

Bagikan:

Komentar