|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Lia Istifhama Bagikan Empat Kunci Keseimbangan bagi Pelajar Muhammadiyah

Selasa, 07 Juli 2026 | 08.31 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat hadir dalam acara Seminar Nasional Musyawarah Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur di BBPPMPV BOE Malang.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Malang– Anggota DPD RI Dapil Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak pelajar untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter yang utuh melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan kepedulian sosial.


Pesan tersebut disampaikan Lia saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Musyawarah Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur di BBPPMPV BOE Malang. Kegiatan itu menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan arah gerakan pelajar di tengah tantangan era disrupsi.


Dalam paparannya, Lia menilai pelajar Muhammadiyah memiliki posisi strategis sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa. Namun, potensi tersebut perlu diiringi kemampuan menjaga keseimbangan diri agar tidak hanya berorientasi pada capaian akademik.


Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama, mengatakan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Karena itu, pelajar dituntut tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki karakter yang tangguh.


"Pelajar Muhammadiyah harus melampaui sekadar capaian akademik. Mereka dituntut menjadi subjek perubahan, memiliki daya pikir kritis, integritas moral, serta kepekaan terhadap problem sosial di sekitarnya," ujarnya.


Menurutnya, karakter yang kuat tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses yang melibatkan keluarga, lingkungan pendidikan, dan kesadaran individu. Ia menegaskan keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk kepribadian generasi muda.


"Keluarga adalah fondasi peradaban. Dari sana lahir pribadi yang mampu menghargai perbedaan, mengelola konflik secara konstruktif, dan menolak kekerasan sebagai solusi," tegasnya.


Selain keluarga, Lia menilai institusi pendidikan memiliki peran penting sebagai ruang pembentukan kesadaran. Sekolah, katanya, harus mampu melampaui fungsi formal sebagai tempat transfer ilmu dan menjadi ekosistem yang menumbuhkan nalar kritis serta empati sosial.


"Pendidikan harus bergerak dari sekadar transfer pengetahuan menuju pembentukan kesadaran. Di situlah pelajar dilatih menjadi aktor yang mampu membaca realitas dan menawarkan solusi," imbuhnya.


Pada kesempatan itu, Lia juga membagikan empat prinsip yang dapat menjadi pedoman kader IPM dalam membangun keseimbangan diri.


Prinsip pertama adalah menjaga integritas antara ilmu dan akhlak. Menurutnya, kecerdasan tanpa nilai akan melahirkan ketimpangan, sedangkan ilmu yang dibarengi etika akan menghadirkan manfaat bagi banyak orang.


Kedua, melatih kepekaan sosial sejak dini. Pelajar didorong untuk tidak bersikap apatis terhadap lingkungan, tetapi aktif memahami persoalan masyarakat dan mengambil peran sesuai kemampuan.


Ketiga, membangun ketahanan emosional. Lia menilai kemampuan mengelola emosi sangat penting agar generasi muda tidak mudah terprovokasi, termasuk saat menghadapi perbedaan maupun tekanan sosial.


Keempat, memperluas wawasan dan jejaring. Menurutnya, keterbukaan terhadap ide, dialog, dan kolaborasi akan membentuk pola pikir yang matang sekaligus inklusif.


"Ilmu harus bertransformasi menjadi kemanfaatan. Pelajar Muhammadiyah perlu hadir sebagai solusi, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan masa depan bangsa," pungkasnya.


Sementara itu, Ketua PW IPM Jawa Timur terpilih, Muhammad Yuda Wahyu Saputra, menyambut baik gagasan yang disampaikan Lia. Ia menilai materi tersebut menjadi penguatan strategis bagi arah gerakan pelajar Muhammadiyah di tengah dinamika zaman.


"Kami sebagai kader pelajar Muhammadiyah melihat bahwa apa yang disampaikan Ning Lia bukan sekadar motivasi, tetapi juga kerangka berpikir yang relevan dalam menjawab tantangan generasi hari ini. Ini menjadi penguatan bagi kami untuk terus bergerak secara progresif, namun tetap berpijak pada nilai," ujarnya.


Ia menambahkan, PW IPM Jawa Timur berkomitmen menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam berbagai program nyata, mulai dari penguatan kapasitas kader, pengembangan literasi, hingga keterlibatan aktif dalam berbagai isu sosial kemasyarakatan.

"Ke depan, kami ingin kader IPM tidak hanya hadir sebagai pelajar yang berprestasi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang memiliki kepekaan sosial, kemampuan intelektual, serta integritas moral yang kuat," tandasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar