> Dunia Sepi Tanpamu
|
Menu Close Menu

Dunia Sepi Tanpamu

Minggu, 17 Januari 2021 | 22.33 WIB

 


Oleh : Yulianto


Eko Purnomo nama lengkapnya. Para sahabatnya akrab memanggil Eko KPJ. Kebetulan, Sahabat Eko adalah crew dari Konco Pembalap Jember (KPJ). Sebuah klub para pembalap yang sering kali memenangkan lomba. Terakhir, ikut meramaikan lomba di Surabaya pada Desember 2020 lalu.


Di Bali, pernah memborong piala 1 dan 2. Klub KPJ sesungguhnya, sudah banyak mengharumkan nama Jember di Eks Keresidenan Besuki, Malang Raya, Blitar Raya, Surabaya, Semarang dan Bali. Namun begitu, perhatian pemerintah belum ada. Semua biaya ditanggung renteng pengurus dan anggota KPJ. Ada juga terkadang bantuan dari sahabat politisi dan pengusaha yang peduli dengan olah raga kegemaran anak muda tersebut.


Sahabat Eko dalam sepanjang berbagai even lomba yang berlangsung maupun dalam kehidupan keseharian, ia seorang crew yang sangat riang. Pemuda kelahiran Jember, 6 Februari 1982 ini, selalu bisa membuat gelak tawa dengan celoteh dan aksinya, meski banyak orang sedang tegang dan serius. Sehingga, kepergiannya menghadap Sang Rab, tak disangka-sangka. Usianya tak sepanjang jalan kenangan di arena balap yang mendebarkan.


Sahabat Eko menemui ajal pada Rabu, 13 Januari 2021, lantaran sakit jantung. Putra pertama Pak Sahri Gugut Rambipuji ini, selama ini tak pernah mengeluh penyakit apa pun. Ia selalu terlihat segar dengan tumbuh tinggi besar dan selalu tersungging senyum di bibirnya. Sosok pribadi yang riang menyenangkan, serta sopan nan santun.


Keluarga dan para sahabatnya, benar-benar merasa kehilangan sosok anak, suami, bapak dan teman yang sangat hangat. Bapak dari 1 seorang putri yang bernama Diana kelas 6 SD tersebut, jauh dari sikap pura-pura, nampak tulus dan ikhlas dalam menjalani persahabatan.


Saya saksi mata, bahwa Sahabat Eko adalah sahabat terbaik. Seorang sahabat yang selalu ada, kala suka maupun duka. Saya sudah menjalin persahabatan sejak Sekolah Menangah Pertama (SMP) sampai Sang Khalik memanggil untuk selama-lamanya.


Meninggalnya Sahabat Eko memiliki arti penting dalam 3 hal berikut:


Pertama, kematian datang tak disangka-sangka. Mau siap atau tidak, ketika ajal tiba, manusia yang lemah ini tak bisa mengelak. Gegap gempita arena balap, hanya mencatat sang juara. Selebihnya, hilang ditelan kebisingan bunyi knalpot dan asap yang mengudara. Sejatinya, sang juara itu bukan pemenang lomba, tapi ia yang menang atas hawa nafsu sendiri.


Kedua, sahabat sejati itu tak lekang oleh waktu. Kematian bukanlah pemisah. Persahabatan akan dibawa sampai di akhirat. Kontak batin bukan hubungan fisik dan psikis, akan tetapi silaturrahmi yang menghubunkan ruh antar sahabat. Kematian itu hanya diderita oleh jasmani, sementara ruh hidup dalam keabadian. Sebab, ruh itu min amri robbi (bagian dari urusan Tuhan).


Ketiga, perpisahan merupakan sebuah keniscayaan. Kata pepatah, "ada pertemuan pasti juga ada perpisahan". Pertemuan saya dengan Sahabat Eko, merupakan nikmat terbesar dalam hidup. Dan, perpisahaan juga merupakan musibah terbesar pula. Namun diyakini, keterpautan hati antar sahabat tak akan pernah putus, sampai maut sekalipun. Hati itu tempat ruh bersemayam, yang bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat, bisa mencium sesuatu yang tak bisa dicium, bisa mendengar sesuatu yang tak bisa didengar. Itulah "mutgha" (sepotong daging) tempat bertahta nilai persahabatan yang lintas batas dan sepanjang waktu.


Oleh karena itu, semua orang yang mencintai Sahabat Eko, terutama di awal minggu kepergiannya, dunia ini pasti terasa sepi. Kendati berada di tengah orang yang datang bertakziyah dan tahlil bersama. Jiwa ini terasa bergoncang hebat, terasa ia masih hadir, tegur sapa dan tersenyum lebar.  Selamat jalan iya Bro, semoga selamat sampai tujuan! 


Saya jadi teringat lagu Opick yang berjudul "Bila Waktu Tlah Berakhir", sebagai bahan renungan kita bersama atas kematian sahabat Eko:


"Bagaimana kau merasa bangga

Akan dunia yang sementara?

Bagaimanakah bila semua

Hilang dan pergi meninggalkan dirimu?

Bagaimanakah bila saatnya

Waktu terhenti tak kau sadari?

Masihkah ada jalan bagimu

Untuk kembali mengulang ke masa lalu?

Dunia dipenuhi dengan hiasan

Semua dan segala yang ada

Akan kembali pada-Nya

Bila waktu telah memanggil

Teman sejati hanyalah amal

Bila waktu telah terhenti

Teman sejati tinggallah…"


Penulis Adalah Ketua Konco Pembalap Jember (KPJ)

Bagikan:

Komentar