|
Menu Close Menu

Bendera One Piece Berkibar, Willy Aditya: Jangan Sampai Rumah Dibakar karena Tikus

Minggu, 03 Agustus 2025 | 17.47 WIB

Willy Aditya, Ketua Kordinator IOK DPP Partai NasDem.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Jakarta – Ketua Kordinator IOK DPP Partai NasDem, Willy Aditya, angkat bicara mengenai fenomena pengibaran bendera bergambar tengkorak bertopi khas film animasi One Piece yang marak terjadi di berbagai daerah. Menurutnya, fenomena ini merupakan bentuk ekspresi politik dari kalangan muda yang sayangnya diarahkan ke sasaran yang keliru.


"Ini adalah ekspresi politik yang sayangnya salah alamat. Gugatan terhadap pemerintah jangan sampai mengurangi patriotisme atau rasa cinta Tanah Air," ujar Willy dalam keterangannya, Sabtu (2/7/2025).


Ketua Komisi XIII DPR RI ini menilai, tindakan tersebut mencerminkan minimnya literasi politik sebagian masyarakat dalam membedakan antara negara dan pemerintah.


“Gugatannya seharusnya kepada pemerintah, tapi yang terkena justru negara. Ini menunjukkan masih lemahnya pemahaman sebagian anak bangsa tentang perbedaan antara keduanya,” jelasnya.


Namun demikian, Willy menegaskan bahwa pengibaran bendera One Piece tak bisa serta merta disamakan dengan tindakan melecehkan simbol negara, selama tidak menyentuh atau mengganggu kehormatan Bendera Merah Putih.


“Selama tidak melecehkan Merah Putih, seperti menempelkan simbol di atasnya, saya rasa itu bukan pelanggaran serius. Yang saya lihat, posisinya juga di bawah Merah Putih,” tambahnya.


Ia pun mengajak publik untuk menyikapi fenomena ini secara proporsional dan tidak reaktif.


“Membunuh nyamuk tak perlu pakai granat. Respons kita harus tetap rasional dan proporsional. Jangan sampai kita justru ikut terjebak dalam provokasi,” ujarnya.


Lebih lanjut, Willy memandang bahwa ekspresi seperti itu adalah bagian dari energi kaum muda yang penuh idealisme dan keberanian, namun seringkali belum diiringi dengan kedalaman nalar dan arah yang tepat.


“Ekspresinya genuine dan unik, tapi sering sporadis,” ucapnya.


Menurutnya, jika negara hadir dengan keadilan dan kesejahteraan yang merata, maka ekspresi protes seperti pengibaran bendera One Piece tidak akan mendapat ruang.


“Kalau negara hadir untuk menjawab ketimpangan, bendera itu pun tak akan digubris. Karena gugatan terhadap ketidakadilan akan kehilangan relevansi,” tegasnya.


Willy menolak respons represif terhadap fenomena ini. Ia juga tidak mendorong adanya dialog langsung terhadap pelaku, melainkan cukup dengan pemahaman kontekstual yang tepat.


“Fenomena seperti ini cukup dicermati dan dipahami. Jangan sampai kita justru terseret ke dalam pusaran provokasi,” katanya.


Ia menutup dengan pesan bahwa memperjuangkan keadilan tetap penting, namun harus dilakukan dengan cara yang benar dan pada pihak yang tepat.


“Menggugat ketidakadilan itu penting, tapi jangan salah alamat. Ingat, Indonesia ini rumah kita. Kalau ada tikus di rumah, jangan rumahnya yang dibakar,” pungkasnya. (Had) 


Bagikan:

Komentar