|
Menu Close Menu

Gelar Pahlawan Nasional untuk Syaikhona Kholil Bisa Jadi Momentum Kebangkitan Pesantren

Minggu, 16 November 2025 | 07.49 WIB

Gus Kholili Kholil saat menerima penghargaan dari Forkom Jurnalis Nahdliyin di Surabaya.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya—Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Kholil Bangkalan mendapat sambutan luas dari berbagai kalangan, terutama keluarga besar pesantren. Mewakili Majelis Keluarga, Gus Kholili Kholil menilai penghargaan tersebut sebagai bentuk pengakuan negara terhadap kontribusi besar ulama kharismatik itu dalam membangun tradisi keilmuan Islam di Nusantara.


Gus Kholili menuturkan, gelar Pahlawan Nasional bagi Syaikhona Kholil tidak hanya mengafirmasi peran beliau dalam sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap pesantren yang selama ini menjadi pilar pembentukan karakter dan moral masyarakat.


“Penghargaan Pahlawan Nasional kepada beliau adalah penghargaan terhadap pesantren, terhadap Nahdlatul Ulama, dan semua elemen kaum muslim di Indonesia,” ujar Gus Kholili usai menerima penghargaan sebagai Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif dari Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN) di Surabaya, Sabtu (15/11/2025) malam.


Ia menyebut Syaikhona Kholil sebagai “Bapak Pesantren Indonesia”, mengingat perannya sebagai guru bagi para pendiri NU dan berbagai ulama besar di Nusantara.


Gus Kholili menilai, momentum penganugerahan gelar ini hadir di saat dunia pesantren tengah menjadi sorotan akibat sejumlah kasus yang melibatkan oknum tak bertanggung jawab. Karena itu, penghargaan untuk Syaikhona Kholil diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga pemantik semangat untuk menjaga marwah lembaga pesantren.


Menurutnya, nilai-nilai perjuangan dan keteladanan Syaikhona Kholil harus menjadi pedoman bagi generasi pesantren hari ini. 


Dalam kesempatan yang sama, Gus Kholili menyampaikan kritik tegas terhadap fenomena “Gus-Gusan”, yakni munculnya figur-figur muda yang mengatasnamakan keturunan kiai namun tidak mencerminkan akhlak santri.


"Ada banyak sekali Gus-Gusan yang problematik. Ada orang-orang dari kalangan pesantren yang problematik,” ujarnya.


Ia menegaskan, fenomena itu tidak boleh diabaikan karena dapat mencoreng reputasi pesantren. Menurutnya, kritik masyarakat harus dipandang sebagai upaya bersama untuk memperbaiki keadaan.


“Kritik itu penting agar tidak muncul hal-hal yang meresahkan pesantren atau oknum yang membuat citra pesantren buruk,” katanya.


Gus Kholili juga mengingatkan bahwa sebagian kalangan pesantren cenderung memberikan pembelaan berlebihan terhadap kritik yang beredar di ruang publik. Sikap tersebut, menurutnya, berpotensi menghambat proses introspeksi yang justru dibutuhkan.


“Kalau berlarut-larut, ini akan menjadi overreact, yang membuat insan pesantren sulit untuk introspeksi,” jelasnya.


Ia menekankan bahwa kritik yang muncul belakangan ini seharusnya menjadi ruang dialog dan refleksi, bukan pemicu polarisasi.


Menanggapi maraknya penyebaran potongan video yang dinilai memojokkan KH. Anwar Mansyur, Gus Kholili menilai tindakan tersebut sebagai bentuk manipulasi yang mengabaikan konteks budaya serta tradisi keilmuan pesantren.

 

“Membuat framing melalui potongan video tanpa pengamatan antropologis adalah kejahatan besar,” tegasnya.


Sebagai alumni Pondok Pesantren Lirboyo selama 10 tahun, ia mengenal betul sosok KH. Anwar sebagai ulama yang rendah hati, istiqomah mengajar, dan jauh dari perilaku kontroversial.


“Selama saya 10 tahun di Lirboyo, beliau istiqomah ngaji dan ngajar. Tidak pernah mengusik orang, bahkan tidak pegang HP,” kenangnya.


Di akhir penyampaiannya, Gus Kholili mengajak seluruh elemen pesantren untuk menjadikan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi Syaikhona Kholil sebagai momentum memperkuat kembali nilai-nilai luhur pesantren.


“Momentum ini harus menjadi ajakan untuk introspeksi dan perbaikan,” pungkasnya.


Ia berharap pesantren tetap mampu menjaga martabatnya sekaligus meneruskan warisan perjuangan Syaikhona Kholil yang dikenal sebagai sosok ikhlas, sederhana, dan cinta tanah air. (Had) 

Bagikan:

Komentar