![]() |
| Kantor CV Firmansyah di Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember.(Dok/Istimewa). |
Pengakuan tersebut disampaikan oleh beberapa pekerja yang telah lama bekerja di gudang pengolahan tembakau tersebut. Salah seorang pekerja perempuan menyebutkan bahwa gaji yang ia terima setiap hari hanya sebesar Rp32 ribu.
“Gejina ka assak 32 ebu (gajinya 32 ribu) per hari,"ujar salah seorang pekerja kepada wartawan, Kamis (12/03/2026).
Para pekerja di gudang tersebut diketahui mulai bekerja sejak pukul 06.30 WIB hingga pukul 14.30 WIB. Sistem bayaran atau gaji setiap sepuluh hari. Mayoritas pekerja merupakan ibu-ibu yang berasal dari lingkungan sekitar gudang.
“Bhen are deri satengah petto’ sampek satenga tello’ (dari jam setengah tujuh sampai setengah tiga),” tambahnya.
Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, media ini kemudian mencoba mengonfirmasi kepada pekerja lain di gudang yang sama. Hasilnya, pengakuan serupa kembali disampaikan.
Salah seorang pekerja lainnya mengaku menerima upah dengan nominal yang sama, yakni Rp32 ribu per hari.
“Nggih 32 ebu, pade rata kabbi (iya Rp32 ribu, sama rata semua),” ungkapnya.
Namun, keterangan berbeda justru disampaikan oleh seorang penjaga pos keamanan gudang yang mengaku telah bekerja selama sekitar 20 tahun di lokasi tersebut. Ia menyebutkan bahwa upah pekerja mencapai Rp65 ribu per hari.
“Iya besar, per satu orang Rp65.000 per hari,” terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa jumlah pekerja di gudang pengolahan tembakau tersebut diperkirakan mencapai sekitar 200 orang, dengan mayoritas merupakan ibu-ibu dari wilayah sekitar.
“Saya sudah 20 tahun di sini. Iya, rata-rata ibu-ibu semua yang bekerja di sini,” jelasnya.
Jika dugaan pemotongan upah tersebut benar terjadi, maka selisih dari upah yang seharusnya diterima pekerja berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi para buruh.
Dengan jumlah pekerja sekitar 200 orang, potensi nilai pemotongan bisa mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pihak penanggung jawab gudang belum membuahkan hasil. Saat didatangi wartawan, kepala gudang bernama Wahyu disebut tidak berada di lokasi.
“Pak Wahyu tidak ada di gudang hari ini, beliau mengecek di gudang Kalisat,” ujar salah seorang pekerja.
Pekerja tersebut juga menyebutkan bahwa seorang petugas bernama Rosi dijadwalkan datang untuk menemui wartawan.
“Tapi Mbak Rosi petugas di sini datang sebentar lagi,” katanya.
Namun setelah menunggu sekitar satu jam, pihak yang dimaksud belum juga datang sehingga konfirmasi lebih lanjut belum dapat diperoleh. (Eko)


Komentar