![]() |
| Ning Lia Istifhama, Anggota MPR RI.(Dok/Istimewa). |
Dalam pemaparannya, Lia Istifhama yang akrab disapa Ning Lia mengatakan tantangan kebangsaan tidak cukup dihadapi dengan slogan, melainkan membutuhkan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing dan berkarakter kuat.
“Setiap persoalan jangan dilihat sebagai masalah, tapi jadikan tantangan. Dari situ kompetensi kita akan tumbuh,” ujar Ning Lia di hadapan peserta yang terdiri dari relawan, santri, dan civitas ICT Tuban.
Senator Jatim itu menekankan peningkatan kompetensi harus berjalan seiring dengan kemampuan membaca realitas sosial. Menurutnya, masyarakat hari ini sangat kritis, terutama di era digital. Karena itu, setiap program sosial maupun kebijakan publik harus disampaikan secara transparan dan berkualitas.
“Bukan harus yang paling mahal, tapi yang terbaik dan benar-benar bermanfaat. Jangan sampai publik justru melihat hal yang keliru karena kita tidak siap secara kompetensi,” tegasnya.
Dalam konteks penguatan sumber daya manusia, Ning Lia menggarisbawahi tiga pilar utama pengembangan diri, yakni identitas (identity), kemampuan non-teknis (soft skill), dan dedikasi. Ketiganya dinilai saling berkaitan dan menentukan kualitas kepemimpinan.
“Identitas itu soal siapa kita dan nilai apa yang kita pegang. Jangan berubah hanya karena jabatan atau posisi,” kata Ning Lia yang juga putri KH Maskur Hasyim tersebut.
Ning Lia yang juga keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu mendorong para relawan dan generasi muda untuk berani menunjukkan identitas positif melalui karya dan konten edukatif, termasuk menampilkan nilai kebersihan, profesionalisme, dan pelayanan yang tulus kepada masyarakat.
Ning Lia menekankan pemimpin sejati adalah mereka yang terbebas dari “cacat hati dan cacat pikiran”, bukan dalam arti fisik, melainkan dalam sikap dan niat.
“Tidak ada manusia yang sempurna. Tapi kita bisa melatih diri untuk berpikir positif, tulus, dan jujur. Jabatan apa pun jangan sampai mengubah jati diri kita,” ucap Ning Lia.
Ning Lia menegaskan karakter adalah aset terpenting dalam menjaga kepercayaan publik. Kepercayaan inilah yang menjadi kunci kuatnya relasi antara negara dan rakyat.
Dalam sesi diskusi kebangsaan, Ning Lia menjelaskan bahwa Empat Pilar Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika itu harus dihidupi dalam praktik sehari-hari, terutama dalam mendidik generasi muda.
Ning Lia mengingatkan melemahnya kepercayaan publik terhadap pemerintah dapat memicu polarisasi dan bahkan disintegrasi bangsa. Karena itu, semua elemen termasuk tokoh masyarakat, pendidik, dan orang tua memiliki tanggung jawab menjaga kohesi sosial.
“Di mana pun kita berada, Papua, Jawa, atau daerah lain, semuanya adalah keluarga besar Indonesia. Modal sosial inilah yang harus terus dirawat,” kata Wakil Rakyat Terpopuler dan Paling Disukai versi ARCI 2025 itu.
Sementara itu, Relawan Ning Lia Tuban Gus Ansori mengucapkan terima kasih atas kehadirian Ning Lia yang tidak berubah dari dulu. “ICT ini dibantu juga oleh Ning Lia, kami berharap bisa terus berkolaborasi dengan Ning Lia,” kata Ansori. (Red)


Komentar