|
Menu Close Menu

Podcast di Unusa, Ning Lia Sebut Publik Butuh Perempuan Kuat, Cerdas dan Berhati Lembut

Kamis, 11 Desember 2025 | 18.31 WIB

Ning Lia Istifhama, Anggota DPD RI asal Jawa Timur saat podcast di Unusa.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya— Senator muda Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, tampil sebagai tamu dalam Podcast Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan membagikan kisah perjalanan hidup, nilai-nilai yang membentuk dirinya, hingga dedikasinya dalam memperjuangkan aspirasi daerah di tingkat nasional. Perbincangan hangat tersebut dipandu oleh Dr. Sunanto, Dosen S1 PGSD Unusa, pada Kamis (11/12/2025). 


Dalam dialog yang berlangsung cair, Ning Lia menguraikan bahwa kiprahnya sebagai senator berangkat dari pengalaman masa kecil, pendidikan, serta lingkungan keluarga yang menanamkan karakter empati dan kepemimpinan sejak dini.


Menanggapi pertanyaan tentang tantangan perempuan muda yang memegang amanah publik, Ning Lia menyebut bahwa disiplin, komunikasi, dan manajemen diri menjadi kunci keseimbangan.


“Ada masa untuk keluarga, ada masa untuk bekerja. Perempuan bisa kuat, tapi juga tetap hangat,” ujarnya.


Menurutnya, sosok perempuan inspiratif bukan hanya yang tampil di panggung publik, tetapi juga yang mampu menjaga amanah keluarga serta lingkungan sosial secara seimbang.


Dalam diskusi tersebut, Ning Lia juga menyoroti pentingnya keberlanjutan pembangunan nasional tanpa terputus oleh dinamika politik lima tahunan. Ia menegaskan pentingnya Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) sebagai arah pembangunan yang berkelanjutan.


“PPHN adalah fondasi agar pembangunan tetap kokoh dan tidak berubah setiap pergantian kepemimpinan,” tegasnya.


Pandangan tersebut ia bangun dari berbagai diskusi dan kajian bersama akademisi serta pakar kebijakan.


Mengenang masa remajanya, putri KH Maskur Hasyim ini bercerita bahwa minat menulis sejak SMP menjadi titik balik yang meningkatkan rasa percaya dirinya. Salah satu cerpennya yang dibaca kakaknya membuatnya yakin memiliki bakat yang harus terus dikembangkan.


Ia juga membagikan salah satu kalimat reflektif yang pernah ia tulis untuk anak-anak di daerah konflik:


“Di mana pun kamu berada, jangan pernah merasa sendiri. Ada orang yang mengingatmu dan menyayangimu.”


Baginya, menulis adalah ruang untuk merawat empati—nilai yang kini mengiringi langkahnya sebagai senator.


Meski kerap ditanya soal usia, Ning Lia menegaskan bahwa kemudaan bukanlah soal angka, tetapi soal semangat.


“Semangat itu yang membuat kita tetap relevan,” ujarnya.


Sebagai sosok yang peduli pada pendidikan, kesehatan, dan lingkungan, ia ingin tampil sebagai “kakak” bagi generasi mahasiswa, bukan figur publik yang berjarak.


Ia juga menyinggung kepeduliannya pada isu kemanusiaan global seperti Palestina. Melihat aksi solidaritas sederhana, seperti warga bersepeda dengan bendera Palestina, menurutnya adalah tanda tumbuhnya kesadaran dunia.


Penerima DetikJatim Award 2025 dan Wakil Rakyat Terpopuler ARCI 2025 ini menutup sesi dengan pesan menyentuh untuk perempuan muda yang ingin berkarya:


“Beranilah membaca realitas. Jangan berhenti belajar. Pegang integritas. Dunia publik membutuhkan perempuan yang kuat, cerdas, dan berhati lembut," tandasnya. 


Dengan kehangatan, ketegasan, dan gagasan kebangsaan yang ia sampaikan, kehadiran Ning Lia di Podcast Unusa menghadirkan inspirasi bagi mahasiswa, perempuan muda, hingga masyarakat luas yang sedang mencari figur teladan di ruang publik. (Red) 

Bagikan:

Komentar