|
Menu Close Menu

Wakil Ketua MPR RI Minta Reformasi Besar-Besaran Tata Kelola Riset

Kamis, 11 Desember 2025 | 23.06 WIB

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta— Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyerukan percepatan pembangunan kultur riset dan inovasi yang lebih produktif serta berdampak langsung bagi masyarakat. Dorongan itu ia sampaikan menanggapi masih lebarnya kesenjangan antara innovation input dan innovation output di Indonesia, meski peringkat inovasi global tanah air terus meningkat.


“Beragam penelitian dilakukan selama ini, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat luas. Kita membutuhkan riset yang benar-benar menjawab tantangan masa depan bangsa,” ujar Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/12/2025).


Dalam laporan Global Innovation Index 2024, peringkat Indonesia tercatat naik signifikan dari posisi 87 (2021) menjadi 54 dari 133 negara. Indonesia juga menempati posisi ke-8 di antara negara berpendapatan menengah atas.


Namun, temuan tersebut sekaligus memperlihatkan ketimpangan yang mengkhawatirkan: Indonesia dinilai kuat di aspek innovation inputs—seperti pendanaan, infrastruktur, dan kualitas pendidikan—tetapi lemah di innovation outputs seperti jumlah paten, komersialisasi riset, dan produk inovatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat.


“Jurang ini harus segera dipersempit dengan langkah konkret untuk mendorong hasil riset agar benar-benar teraplikasikan dan memberi nilai tambah bagi pembangunan,” tegas politisi yang akrab disapa Rerie itu.


Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan dan riset, Rerie menilai sejumlah aturan yang dinilai menghambat pemanfaatan hasil penelitian perlu segera direvisi. Menurutnya, tata kelola riset nasional harus lebih adaptif, transparan, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat.


“Regulasi yang direvisi harus mampu meningkatkan produktivitas riset sekaligus membuka ruang lebih besar bagi pemanfaatan hasil-hasil penelitian,” ujarnya.


Rerie menambahkan, peningkatan kualitas riset tidak boleh hanya berhenti pada kemudahan akses pendanaan, tetapi juga harus menyentuh aspek hilirisasi, kerja sama industri, serta perlindungan inovasi melalui paten dan mekanisme komersialisasi yang efisien.


Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem tersebut berharap percepatan pembenahan riset nasional dapat memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi persaingan global.


“Dengan riset yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat luas, Indonesia dapat mempercepat peningkatan daya saing bangsa di masa depan,” tutup Rerie. (Red) 

Bagikan:

Komentar