![]() |
| Ahmad Ainol Horri, Komisioner KI Kabupaten Sumenep.(Dok/Istimewa). |
Pria yang akrab disapa Ainol Horri ini merupakan putra asli Desa Banuaju Timur, Kecamatan Batang-Batang. Ia dikenal sebagai figur yang tumbuh dari lingkungan desa dengan latar belakang sederhana.
Perjalanan hidupnya kerap dipandang sebagai cerminan ketekunan dan konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan publik. Dunia aktivisme dan jurnalisme menjadi ruang awal pembentukan karakternya.
Pendidikan dasar Ainol Horri ditempuh di MI dan MTs Taufiqurrahman, Desa Banuaju Timur. Dari lingkungan tersebut, ia mulai menyerap nilai kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian sosial.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah di Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Pangarangan, Sumenep. Kehidupan pesantren membentuk kedisiplinan, kedalaman spiritual, serta daya kritisnya.
Pendidikan strata satu ditempuh di Universitas Annuqayah, yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah. Kampus ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan pesantren terbesar di Madura.
Selain dunia pendidikan, Ainol Horri lama berkecimpung di dunia jurnalistik. Selama sekitar 12 tahun, ia aktif sebagai jurnalis di Kabupaten Sumenep.
Beragam isu publik pernah ia liput, mulai dari pemerintahan, kebijakan publik, pendidikan, sosial, hingga dinamika politik lokal. Pengalaman tersebut memperkuat pemahamannya tentang keterbukaan informasi dan etika pemberitaan.
Dari praktik jurnalistik, Ainol Horri menyaksikan langsung dampak minimnya transparansi terhadap keadilan publik. Sebaliknya, keterbukaan informasi dinilainya mampu membangun kepercayaan masyarakat.
Di luar jurnalisme, Ainol Horri juga aktif dalam organisasi ke-NU-an. Ia tercatat pernah terlibat di PMII, GP Ansor, ISNU, serta sejumlah organisasi sosial dan kepemudaan lainnya.
Bagi Ainol Horri, organisasi adalah ruang kaderisasi nilai, pengabdian, dan pembelajaran demokrasi. Aktivisme tersebut membentuk kepekaan sosial dan keberpihakannya pada kepentingan masyarakat.
Amanah sebagai Komisioner KI Sumenep kini menjadi titik temu dari seluruh pengalaman hidupnya. Ia bertekad mendorong terwujudnya Sumenep sebagai kabupaten yang informatif dan terbuka.
“Keterbukaan informasi adalah ruh demokrasi. Ini bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan hak warga negara,” ujarnya.
Menurut Ainol Horri, Komisi Informasi memiliki peran strategis dalam membangun tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Lembaga ini juga menjadi jembatan antara badan publik dan masyarakat.
Dari desa, dunia pesantren, jurnalisme, hingga aktivisme NU, Ainol Horri kini mengemban peran sebagai penjaga keterbukaan informasi. Kehadirannya di KI Sumenep diharapkan membawa angin segar bagi demokrasi lokal. (Yud)


Komentar