![]() |
| Acsanul Qosasi.(Dok/Istimewa). |
Hal tersebut disampaikan oleh Moh Iskil El Fatih yang menilai bahwa generasi muda sejatinya memiliki peluang besar untuk menjadi lebih bijak dalam membaca situasi, asalkan mampu mengedepankan ketenangan berpikir dan keluasan perspektif.
Menurutnya, dalam konteks Madura, sosok Achsanul Qosasi tidak hanya dikenal sebagai figur publik semata, tetapi juga sebagai representasi nyata dari pengabdian yang berkelanjutan.
“Nama Pak Achsanul Qosasi hadir bukan sekadar karena posisinya, melainkan karena jejak nyata yang ditinggalkannya di berbagai lini kehidupan masyarakat,” ujar Iskil, Jumat (27/3/2026).
Salah satu kontribusi yang menonjol terlihat dalam dunia olahraga, khususnya melalui kiprahnya bersama Madura United. Kehadiran klub tersebut dinilai tidak hanya sebagai wadah kompetisi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda Madura.
Lapangan sepak bola, kata Iskil, telah bertransformasi menjadi medium pembentukan karakter, mengajarkan nilai kerja keras, disiplin, serta semangat meraih mimpi. Generasi muda tidak sekadar bertanding, tetapi juga belajar tentang arti perjuangan dan kebanggaan terhadap daerah asal.
“Di sana, anak-anak muda tidak hanya mengejar bola, tetapi juga mengejar masa depan. Mereka memahami bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh,” ungkapnya.
Lebih lanjut, mahasiswa UNIBA Madura tersebut menegaskan bahwa pengabdian Achsanul Qosasi tidak berhenti pada sektor olahraga. Perannya juga merambah ke bidang pendidikan dan sosial, dengan mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia serta turut hadir dalam berbagai dinamika masyarakat.
Menurut Iskil, langkah-langkah tersebut mencerminkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari konsistensi dalam melakukan hal-hal sederhana namun berdampak.
“Ini menjadi pelajaran penting bagi generasi hari ini, bahwa menilai seseorang tidak cukup dari apa yang tampak di permukaan, tetapi dari kontribusi nyata yang telah diberikan kepada masyarakat,” tuturnya.
Di tengah anggapan bahwa generasi muda cenderung reaktif, Iskil melihat mulai tumbuh kesadaran baru yang lebih reflektif. Generasi saat ini dinilai mulai memahami bahwa setiap pencapaian memiliki proses panjang yang layak dihargai.
Dari Madura, nilai-nilai pengabdian tersebut terus hidup dan menjadi inspirasi. Bahwa dedikasi yang tulus tidak akan lekang oleh waktu, melainkan akan terus tumbuh dalam semangat generasi penerus.
“Pada akhirnya, yang akan bertahan adalah jejak pengabdian itu sendiri, yang dirasakan manfaatnya, tertanam dalam kehidupan, dan diwariskan dalam bentuk harapan bagi masa depan,” pungkasnya. (Yud)


Komentar