![]() |
Oleh: Ach. Zainuddin
Lensajatim.id, Opini- Lebaran Ketupat bukan sekadar perayaan kuliner atau tradisi pasca-Idulfitri yang bersifat seremoni belaka. Ia adalah simpul kebudayaan yang menyatukan nilai spiritual, sosial, dan filosofis dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Tradisi ini umumnya dirayakan sepekan setelah Idulfitri, tepatnya pada 8 Syawal, sebagai penutup rangkaian ibadah Ramadan yang sarat makna.
Kalau di kaji secara historis sejarah. Lebaran Ketupat sering dikaitkan dengan dakwah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh penting dalam Wali Songo. Ia menggunakan pendekatan kultural dalam menyebarkan Islam, termasuk melalui simbol-simbol lokal seperti ketupat. Dalam konteks ini, ketupat bukan hanya makanan, tetapi medium pendidikan nilai. Kata “ketupat” atau “kupat” dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai ngaku lepat (mengakui kesalahan), sebuah refleksi mendalam tentang pentingnya kerendahan hati dan kesediaan untuk saling memaafkan.
Sedangkan Anyaman janur pada ketupat melambangkan kompleksitas kehidupan manusia—penuh simpul dan persilangan. Namun ketika dibuka, ia menampakkan isi yang putih bersih. Ini adalah metafora tentang hati manusia: setelah melalui proses introspeksi dan permohonan maaf, manusia kembali pada kesucian. Filosofi ini selaras dengan esensi Idulfitri sebagai momentum kembali ke fitrah.
Lebaran Ketupat juga tidak bisa dilepaskan dari praktik silaturahmi.
Dalam perspektif sosiologis, silaturahmi berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk memperkuat kohesi dan solidaritas. Tradisi saling mengunjungi, berbagi makanan, dan mempererat hubungan kekerabatan menjadi ruang rekonsiliasi sosial. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, praktik ini memiliki nilai strategis dalam menjaga harmoni.
Lebih jauh, dalam kajian Antropologi Budaya, tradisi seperti Lebaran Ketupat mencerminkan kemampuan masyarakat dalam mengintegrasikan nilai agama dengan kearifan lokal. Ia bukan hanya bentuk ritual, tetapi juga narasi kolektif yang diwariskan lintas generasi. Hal ini memperlihatkan bahwa identitas bangsa tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses panjang dialektika budaya.
Namun, di tengah arus modernisasi dan individualisme, makna filosofis Lebaran Ketupat kerap tereduksi menjadi sekadar seremoni. Silaturahmi bergeser menjadi formalitas, bahkan terkadang kehilangan substansi emosional dan spiritualnya. Di sinilah pentingnya refleksi: bahwa tradisi bukan hanya untuk dirayakan, tetapi untuk dimaknai ulang secara kontekstual.
Lebaran Ketupat mengajarkan bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesadaran untuk saling memahami dan memaafkan. Ketupat menjadi simbol bahwa di balik kerumitan hidup, selalu ada ruang untuk kembali pada kesederhanaan dan keikhlasan.
Pada akhirnya, memperkuat persatuan tidak cukup dengan slogan saja, tetapi mampu diwujudkan dalam tindakan nyata—melalui silaturahmi yang tulus, empati yang hidup antar sanak famili, dan kesediaan untuk merajut kembali hubungan yang sempat renggang. Lebaran Ketupat inilah dengan konsep sederhana justru menawarkan pelajaran besar: bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menjaga ikatan batin antar warganya.
Penulis adalah Sekjen PPMI Nasional


Komentar