|
Menu Close Menu

Ning Lia Dorong Pengaturan Impor Gula Berbasis Momentum, Lindungi Petani Saat Produksi Melimpah

Kamis, 26 Maret 2026 | 21.38 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat melakukan kunjungan ke Kantor Perhutani Jawa Timur di Surabaya.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan pentingnya pengaturan waktu impor gula agar tidak dilakukan saat produksi dalam negeri sedang melimpah. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi kesejahteraan petani tebu di tengah meningkatnya hasil panen.


Menurut Ning Lia, fenomena melimpahnya produksi gula saat musim panen kerap berbanding terbalik dengan harga di tingkat petani. Masuknya gula impor pada waktu yang tidak tepat berpotensi menekan harga pasar, sehingga merugikan petani lokal.


“Impor bukan berarti tidak boleh. Dalam kondisi tertentu, itu memang dibutuhkan. Tapi harus melihat momentum, jangan dilakukan saat produksi dalam negeri sedang tinggi,” ujarnya saat kunjungan ke Kantor Perhutani Jawa Timur di Surabaya, Kamis (27/3/2026).


Dalam kunjungan tersebut, Ning Lia disambut Direktur Utama Perhutani Tio Handoko bersama jajaran direksi. Pertemuan ini menjadi forum diskusi strategis terkait tata kelola gula nasional, mulai dari produksi hingga distribusi.


Ning Lia mengakui bahwa Indonesia masih menghadapi kekurangan pasokan gula, sehingga kebijakan impor menjadi opsi yang tidak terhindarkan. Namun demikian, ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tetap berpihak pada petani, terutama saat musim panen berlangsung.


“Kalau gula rafinasi masuk bersamaan dengan hasil panen petani, tentu ini menimbulkan ketimpangan. Petani bisa kalah sebelum bertanding karena harga langsung tertekan,” tegasnya.


Lebih lanjut, ia juga mendorong peran aktif lembaga riset seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam meningkatkan produktivitas gula nasional. Menurutnya, riset yang dilakukan harus lebih aplikatif dan mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan.


“Riset tidak harus rumit, tapi harus berdampak langsung. Harus bisa membantu petani meningkatkan hasil dan efisiensi,” imbuhnya.


Sementara itu, Direktur Utama Perhutani, Tio Handoko, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendorong modernisasi sektor pertanian tebu. Ia menyebut produktivitas gula nasional masih tertinggal dibandingkan negara produsen utama seperti Brasil, Thailand, dan India.


Menurutnya, pemanfaatan teknologi seperti mekanisasi pertanian hingga penggunaan drone untuk pemupukan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya.


“Kalau rendemen dan produksi per hektare meningkat, ketergantungan impor bisa ditekan. Kuncinya ada pada inovasi dan teknologi,” jelasnya.


Sebagai solusi jangka panjang, ia juga mendorong adanya klasifikasi yang jelas antara gula konsumsi rumah tangga dan gula rafinasi untuk kebutuhan industri. Selain itu, tata kelola impor diharapkan berbasis data produksi dan kebutuhan riil nasional.


Dengan langkah tersebut, Ning Lia optimistis keseimbangan antara kepentingan petani dan kebutuhan industri dapat terjaga, sehingga ketahanan pangan nasional semakin kuat.


“Jika kebijakan berbasis data dan momentum diterapkan dengan konsisten, kita bisa melindungi petani sekaligus memenuhi kebutuhan nasional,” pungkasnya. (Red)

Bagikan:

Komentar