|
Menu Close Menu

Panen Semangka Kuning di Tuban, GP Ansor Jatim Siap Pasok Kebutuhan MBG dan KDMP

Minggu, 29 Maret 2026 | 18.41 WIB

H.Deni Prasetya, Kasatgaswil Patriot Ketahanan Pangan PW GP Ansor Jatim saat hadir dalam kegiatan panen semangka kuning di Tuban.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Tuban – Komitmen membangun kemandirian ekonomi kader berbasis sektor pertanian terus ditunjukkan Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Rengel, Kabupaten Tuban. Hal itu terlihat dalam kegiatan panen semangka kuning di Desa Campurejo, Kecamatan Rengel, Minggu (26/03/2026).


Kegiatan tersebut turut dihadiri Kasatgaswil Patriot Ketahanan Pangan PW GP Ansor Jawa Timur, H. Deni Prasetya. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap upaya kader Ansor dalam memperkuat sektor pangan sekaligus mendorong ekonomi produktif di tingkat akar rumput.


Kaji Deni, sapaan akrab H. Deni Prasetnya, mengapresiasi inisiatif PAC GP Ansor Rengel sebagai langkah nyata memperkuat ketahanan pangan daerah. Menurutnya, sektor pangan merupakan fondasi utama dalam membangun kemandirian bangsa.


“Ini bukan sekadar panen, tetapi bagian dari gerakan membangun kesadaran kolektif bahwa ketahanan pangan harus dimulai dari tingkat lokal. Apa yang dilakukan Ansor Rengel ini adalah contoh nyata bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari desa dan oleh kader sendiri,” tegasnya.


Lebih lanjut, ia menilai kegiatan ini sejalan dengan arah kebijakan nasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat.


Kaji Deni menjelaskan, hasil pertanian seperti semangka kuning berpotensi mendukung program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara rasional, program MBG membutuhkan pasokan bahan pangan segar yang stabil, berkualitas, dan terjangkau. Kehadiran petani lokal, termasuk kader Ansor, menjadi solusi untuk mempersingkat rantai distribusi sekaligus menjaga kualitas hasil panen.


“Jika pasokan pangan bisa dipenuhi dari daerah sendiri, maka biaya distribusi bisa ditekan, kualitas lebih terjamin, dan petani lokal juga mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung. Ini juga membuka peluang kemitraan antara petani dengan pelaksana program MBG,” jelasnya.


Selain itu, program ini juga dinilai relevan dalam mendukung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Melalui skema ini, hasil panen dapat dikelola secara kolektif oleh koperasi desa, sehingga memiliki daya tawar lebih tinggi di pasar.


Secara rasional, keterlibatan koperasi dalam pengelolaan hasil pertanian akan memperkuat ekosistem ekonomi desa. Mulai dari produksi, distribusi, hingga pemasaran dapat terintegrasi dengan baik, sehingga tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor agribisnis.


“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti di satu titik, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang terintegrasi dengan program nasional. Ansor harus hadir sebagai bagian dari solusi, baik dalam sektor pangan maupun ekonomi,” pungkasnya.


Kaji Deni menambahkan bahwa peran kader Ansor dan Banser tidak hanya terbatas pada aspek sosial dan keagamaan, tetapi juga turut menjaga stabilitas ketahanan pangan nasional.


“Ansor dan Banser selama ini dikenal membela dan mengawal kiai serta ulama. Kini, kami juga mengambil peran dalam menjaga stabilitas swasembada pangan sebagai bagian dari penguatan kedaulatan bangsa,” tambahnya.


Dengan sinergi antara kader, masyarakat, dan program pemerintah, kegiatan panen semangka kuning ini diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis pertanian yang dapat direplikasi di daerah lain.


Ketua PAC GP Ansor Rengel, Taufiqurrahman, menegaskan bahwa program pertanian ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah konkret membangun kemandirian ekonomi kader secara berkelanjutan. Menurutnya, semangka kuning dipilih karena memiliki nilai ekonomis tinggi dan peluang pasar yang menjanjikan.


“Ini adalah bukti bahwa kader Ansor mampu mandiri dan produktif. Kami ingin menghadirkan gerakan ekonomi yang berkelanjutan dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.


Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan pascapanen agar hasil pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan demikian, dampak ekonomi yang dihasilkan bisa lebih luas dan berkesinambungan. (Had) 

Bagikan:

Komentar