|
Menu Close Menu

Refleksi Lustrum Perdana ADP : Meneguhkan Peran Dosen ADP sebagai Arsitek Peradaban Bangsa

Kamis, 23 April 2026 | 12.51 WIB


Oleh : Firman Syah Ali


Lensajatim.id, Opini- Lima tahun lalu, tanggal 5-7 April 2021, sekitar seribu lebih kader pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berprofesi sebagai dosen berkumpul di Kampus Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung dalam rangka kegiatan Muktamar Pemikiran. Mereka datang dari segenap penjuru tanah air atas nama kerinduan yang sama. Tentu saja saya termasuk yang hadir dan banyak pegang mikrofon karena forum dialog memang dibuka seluas-luasnya. Meninjam istilah Bang Andi Jamaro, aktivis memang hobi pegang megafon atau mikrofon. Selain itu aktivis juga hobi tanda tangan, haha.


Di kota kecil itu, setelah sekian lama terpisah oleh pandemi, di masa landai mereka bersilaturahim dan beradu gagasan. Bisa juga forum tersebut disebut sebagai Muktamar para penyintas Covid-19 gelombang pertama. 


​Kini, lima tahun telah berlalu sejak peristiwa bersejarah di Tulungagung tersebut. Waktu yang silih berganti telah mengantarkan ADP pada momen Lustrum Perdananya. Sebuah titik pencapaian yang patut disyukuri, namun lebih penting lagi, sebuah momentum krusial untuk melakukan refleksi mendalam: Sejauh mana ADP telah melangkah, dan ke mana arah pergerakan ini akan ditiupkan?


​Judul refleksi ini sengaja menyematkan diksi "Arsitek Peradaban Bangsa". Ini bukanlah sekadar jualan slogan yang melangit. Ini adalah penegasan posisi ontologis dan epistemologis dosen-dosen PMII. Jika mahasiswa adalah agent of change (agen perubahan) yang bergerak dinamis di garda depan, maka dosen adalah architect of civilization (arsitek peradaban). Perubahan yang dilakukan oleh mahasiswa bisa terjadi dalam sekejap, bisa kehilangan arah, namun peradaban dibangun dengan ketelatenan, cetak biru (blueprint) yang presisi, dan fondasi nilai yang kokoh. Di sinilah ADP mengambil peran sentralnya.


​Sebagai arsitek peradaban, ada tiga cetak biru utama yang harus terus digarap dan disempurnakan oleh ADP dalam khidmahnya:


​Pertama, Arsitek Ilmu Pengetahuan yang Berbasis Nilai.


Dosen ADP bukan sekadar transmiter ilmu pengetahuan (transfer of knowledge). Lebih dari itu, mereka adalah produsen pengetahuan yang berkarakter. Di tengah arus disrupsi teknologi dan gempuran post-truth, dosen ADP harus mampu mendesain kurikulum, metodologi riset, dan narasi akademik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berjangkar pada nilai-nilai moderasi beragama (Wassathiyah), keislaman Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah, dan spirit pergerakan yang memihak pada kebenaran dan keadilan. Ini adalah fondasi peradaban yang merawat akal sehat bangsa.


​Kedua, Arsitek Karakter dan Kepemimpinan Masa Depan.


Ruang-ruang kelas dan laboratorium riset adalah "bengkel" peradaban. Di sanalah dosen ADP menggodok calon-calon pemimpin bangsa. Sebagai arsitek, dosen ADP tidak boleh abai terhadap pembentukan karakter (character building). Mahasiswa tidak hanya diajarkan how to do (bagaimana melakukan sesuatu), tetapi juga how to be (bagaimana menjadi manusia yang berintegritas). Dosen ADP harus menjadi teladan (uswatun hasanah) dalam integritas akademik, kejujuran intelektual, dan kepedulian sosial, sehingga "bangunan" manusia Indonesia masa depan adalah bangunan yang tidak hanya menjulang tinggi secara kompetensi, tetapi juga mengakar kuat secara moral.


​Ketiga, Arsitek Konektivitas dan Dialog Peradaban.


Kelahiran ADP yang direstui oleh para petinggi negara dan ulama NU di Tulungagung menunjukkan posisi strategis organisasi ini sebagai jembatan. Sebagai arsitek konektivitas, ADP harus mampu mendesain dialog yang produktif antara dunia akademik (menara gading) dengan realitas masyarakat (bumi nyata Indonesia). ADP harus menjadi penengah antara kebijakan negara dan aspirasi rakyat, serta menjadi penerjemah ajaran Islam yang ramah dalam bahasa sains modern. Melalui jaringan luas para anggotanya, ADP harus mampu merancang kolaborasi lintas disiplin, lintas institusi, bahkan lintas negara, untuk menjawab tantangan global seperti krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan polarisasi sosial.


​Refleksi Lustrum Perdana ini harus menjadi momentum bagi ADP untuk melakukan konsolidasi internal yang lebih solid. Kehadiran struktur yang agile (lincah) di bawah naungan IKA PMII harus dimanfaatkan untuk bergerak lebih cepat dalam merespons isu-isu strategis bangsa. Tantangan lima tahun ke depan tentu berbeda dengan lima tahun lalu. Kita tidak lagi hanya berbicara tentang bertahan dari pandemi, tetapi tentang bagaimana membangun kembali peradaban bangsa yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.


​Dosen-dosen ADP tidak boleh terjebak dalam rutinitas birokrasi akademik semata. Gelar "Dosen Pergerakan" yang melekat pada ADP adalah kutukan sekaligus berkah. Kutukan jika hanya menjadi beban identitas tanpa aksi; berkah jika menjadi api semangat yang tak pernah padam untuk terus mencipta, mendesain, dan membangun fondasi peradaban bangsa yang lebih mulia.


​Selamat Lustrum Perdana ADP. Teruslah melukis cetak biru terbaik bagi masa depan Indonesia. Karena di tangan para arsiteknyalah, wujud peradaban sebuah bangsa ditentukan.


*) Penulis adalah Pengurus Pusat ADP, Wasekjen PB IKA PMII dan Majelis Pakar PW IKA PMII Jatim

Bagikan:

Komentar