![]() |
Lensajatim.id,Bondowoso – Di balik aktivitas padat di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukowiryo, Desa Sukowiryo, Kecamatan Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, tersimpan kisah tentang perjuangan, ketulusan, dan harapan hidup yang terus diperjuangkan setiap hari.
SPPG Sukowiryo tidak hanya menjadi tempat pelayanan pemenuhan gizi bagi masyarakat. Kehadirannya juga membuka ruang kesempatan kerja bagi warga sekitar, termasuk bagi penyandang disabilitas yang selama ini kerap menghadapi keterbatasan akses pekerjaan.
Program yang menjadi bagian dari kebijakan unggulan Presiden RI, Prabowo Subianto, itu dinilai membawa dampak sosial nyata. Selain berfokus pada pemenuhan gizi untuk menyiapkan generasi emas, program tersebut juga menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat kecil.
Salah satu sosok yang merasakan manfaat itu adalah Herawati, perempuan penyandang disabilitas wicara asal Sukowiryo yang kini bekerja sebagai tim pencuci ompreng di SPPG Sukowiryo.
Setiap hari, Herawati mengayuh sepeda ontelnya sejauh sekitar dua kilometer menuju tempat kerja. Rutinitas itu telah dijalaninya selama lima bulan terakhir sejak SPPG Sukowiryo mulai beroperasi.
Ia mulai bekerja sekitar pukul 11.00 WIB hingga malam hari, bahkan terkadang sampai pukul 20.00 WIB. Meski dijalani dengan penuh keterbatasan, Herawati tetap bekerja dengan semangat dan ketulusan demi membantu menafkahi keluarganya.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden RI Prabowo Subianto dan terima kasih kepada Bapak Haji Ali selaku owner Mitra SPPG Sukowiryo,” ujar Herawati, Senin (18/5/2026).
“Berkat mereka saya bisa bekerja menafkahi keluarga,” tambahnya.
Di lingkungan kerja SPPG Sukowiryo, Herawati dikenal sebagai sosok pekerja keras. Keterbatasan fisik yang dimilikinya tidak mengurangi dedikasi dan semangatnya dalam menyelesaikan pekerjaan setiap hari.
Owner SPPG Sukowiryo, Ali Hasan Mun'im, mengaku bangga dengan semangat yang ditunjukkan Herawati. Menurutnya, setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh kesempatan berkarya dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Ia menegaskan bahwa SPPG Sukowiryo dibangun dengan semangat keterbukaan dan kebermanfaatan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
“Semoga program ini terus berjalan dan bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi,” ujar Ali Hasan.
Sebagai Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (BPP HIPKA) sekaligus Wakil Ketua Komite Tetap Pembiayaan Fiskal Perumahan Kadin Indonesia, Ali Hasan menilai keberadaan SPPG bukan sekadar dapur pelayanan gizi.
Menurutnya, program tersebut juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil melalui kesempatan kerja yang mampu membantu meningkatkan kemandirian keluarga.
“Program ini harus dipandang sebagai investasi sosial. Ketika masyarakat sekitar dilibatkan bekerja, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan penerima makanan bergizi, tetapi juga keluarga-keluarga yang memperoleh penghasilan dari program ini,” kata Ali Hasan.
Sementara itu, PIC SPPG Sukowiryo, Rita Rahayu, menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan kerja yang ramah bagi semua tanpa memandang usia, agama, maupun kondisi fisik.
“Rumah besar kita semua, tanpa memandang agama, usia dan fisik. Jadikan SPPG Sukowiryo sebagai SPPG yang ramah untuk semua,” ujar Rita.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim manajemen, relawan, supplier, serta pihak-pihak yang terus mendukung operasional SPPG Sukowiryo.
“Terima kasih para Team Manajemen, Ka SPPG, AG, AK, Aslap dan Chef. Terima kasih kepada relawan, supplier dan semua yang support SPPG Sukowiryo. Salam cinta,” tambahnya.
Di tengah hiruk pikuk aktivitas dapur pelayanan gizi itu, Herawati terus mengayuh sepeda ontelnya setiap hari. Bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk menjaga harapan agar keluarganya dapat menjalani hidup yang lebih baik. (Had)


Komentar