|
Menu Close Menu

Wakil Ketua DPRD Sri Wahyuni Minta Antisipasi Penyebaran Hantavirus di Jatim

Rabu, 13 Mei 2026 | 10.11 WIB

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Demokrat, Sri Wahyuni. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya — Wakil Ketua DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Demokrat, Sri Wahyuni meminta pemerintah daerah memperkuat kewaspadaan terhadap potensi penyebaran hantavirus di Jawa Timur. Imbauan itu disampaikan menyusul data Kementerian Kesehatan RI yang mencatat 23 kasus seoul virus dalam tiga tahun terakhir, termasuk satu kasus yang ditemukan di Jawa Timur.


Menurut Sri Wahyuni, temuan tersebut perlu menjadi perhatian bersama meski jumlah kasus di wilayah Jawa Timur masih relatif terbatas. Apalagi, tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) penyakit tersebut mencapai 13 persen.


“Ini harus menjadi alarm kewaspadaan bersama. Jangan sampai masyarakat lengah terhadap ancaman penyakit yang bersumber dari lingkungan dan hewan pengerat,” ujar Sri Wahyuni, Senin (11/5/2026).


Ia menilai langkah pencegahan perlu diperkuat melalui kolaborasi antara Dinas Kesehatan dan pemerintah kabupaten/kota. Edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta pengendalian populasi tikus dinilai menjadi upaya utama untuk menekan risiko penularan.


Politikus Partai Demokrat itu juga menyoroti kelompok pekerja yang memiliki risiko tinggi terpapar, seperti petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, hingga pembersih saluran air. Menurutnya, kelompok tersebut perlu mendapatkan sosialisasi rutin dan perlindungan kesehatan kerja yang memadai.


“Pencegahan paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan. Karena virus ini berkaitan erat dengan sanitasi dan paparan dari tikus yang terinfeksi,” katanya.


Selain penguatan edukasi, Sri Wahyuni meminta fasilitas kesehatan meningkatkan kemampuan deteksi dini terhadap pasien dengan gejala yang mengarah pada hantavirus, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat kontak dengan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi.


Ia menegaskan koordinasi lintas sektor harus diperkuat agar potensi penyebaran penyakit dapat diantisipasi sejak awal. Pemerintah daerah, lanjutnya, diharapkan bergerak cepat tanpa menunggu lonjakan kasus terjadi.


“Kami mendorong langkah preventif dilakukan secara masif. Edukasi masyarakat dan pengendalian lingkungan harus diperkuat supaya kasus tidak berkembang,” tegasnya.


Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 23 kasus hantavirus jenis seoul virus dalam tiga tahun terakhir dengan tiga pasien meninggal dunia. Pada 2026, tercatat tambahan lima kasus baru, sementara jumlah kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta dan DIY.


Kemenkes juga menjelaskan penularan hantavirus dapat terjadi melalui gigitan tikus maupun paparan urine, saliva, kotoran, serta debu yang telah terkontaminasi. Hingga saat ini, belum ditemukan penularan antarmanusia di Indonesia. (Had) 

Bagikan:

Komentar