Sebelum menghadiri rangkaian haul, Wakil Presiden bersama rombongan terlebih dahulu melaksanakan ziarah ke makam KH Abdul Wahab Chasbullah di area pemakaman keluarga pesantren. Suasana berlangsung khidmat dengan pembacaan doa sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan salah satu ulama besar pendiri bangsa itu.
Ribuan jamaah, ulama, habaib, masyaikh, dan santri memadati kawasan pondok pesantren untuk mengikuti doa bersama sekaligus mengenang perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab. Sosok pendiri Nahdlatul Ulama tersebut dikenal sebagai ulama visioner yang berperan besar dalam menjaga persatuan umat dan kebangsaan.
Dalam sambutannya, Khofifah menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wakil Presiden di tengah keluarga besar pesantren dan para ulama. Menurutnya, kehadiran negara dalam haul tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan ulama yang telah meletakkan fondasi keislaman, kebangsaan, dan persatuan Indonesia.
“Kehadiran Bapak Wakil Presiden menjadi kehormatan besar sekaligus bentuk perhatian nyata terhadap sosok Al Maghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah, seorang ulama besar, pejuang bangsa, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh penggerak umat yang jejak perjuangannya tetap hidup hingga hari ini,” ujar Khofifah.
Khofifah menegaskan, haul bukan sekadar tradisi mengenang sosok besar, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali nilai perjuangan, keteladanan, dan pengabdian ulama dalam membangun peradaban bangsa.
Menurutnya, KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan ulama visioner yang sejak awal menunjukkan bahwa agama dan pembangunan berjalan beriringan. Kemajuan umat, kata dia, harus dibangun di atas fondasi ilmu, akhlak, persatuan, dan kecintaan kepada tanah air.
“Atas jasa dan perjuangannya dalam membangun pendidikan, persatuan umat serta kontribusinya bagi bangsa Indonesia, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2014. Nilai-nilai perjuangan beliau harus terus kita hidupkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” katanya.
Khofifah juga menjelaskan bahwa KH Abdul Wahab Chasbullah menempatkan pesantren bukan hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat peradaban, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kebangsaan.
Spirit itu, lanjutnya, terus menjadi pijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menjalankan pembangunan daerah. Menurut Khofifah, pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan, keadilan sosial, serta membangun manusia berkarakter dan berakhlakul karimah.
“Karena itu Pemprov Jatim terus memperkuat sinergi dengan pesantren, ulama dan organisasi keagamaan sebagai mitra strategis pembangunan. Kami meyakini bahwa kekuatan moral dan spiritual masyarakat merupakan pondasi utama kemajuan daerah,” tegasnya.
Khofifah menilai keteladanan Mbah Wahab juga tampak dalam komitmennya menjaga persatuan melalui penguatan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan di tengah tantangan global, perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga dinamika ekonomi saat ini.
“Kiai Wahab mengajarkan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan perpecahan. Justru persatuan, kebersamaan dan semangat gotong royong adalah kekuatan utama bangsa,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kemandirian umat sebagaimana diwariskan KH Abdul Wahab Chasbullah. Menurutnya, santri tidak hanya dituntut alim dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan sosial, ekonomi, dan jiwa kewirausahaan.
“Maka pesantren harus terus kita dorong menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat, pusat kewirausahaan, pusat inovasi sekaligus pusat lahirnya generasi yang berintegritas, mandiri dan berdaya saing,” ucap Khofifah.
Khofifah menambahkan, Jawa Timur memiliki kekuatan besar karena ditopang kultur pesantren yang kuat. Ribuan pesantren di Jawa Timur selama ini dinilai menjadi benteng moral masyarakat sekaligus kekuatan sosial yang menjaga harmoni dan stabilitas daerah.
Ia pun mengajak generasi muda dan para santri untuk terus meneladani perjuangan Mbah Wahab. Menurutnya, menjadi santri berarti siap mengabdi untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan.
“Cinta tanah air adalah bagian dari iman. Dan perjuangan harus dilakukan dengan ilmu, kebijaksanaan serta akhlakul karimah,” katanya.
Khofifah berharap momentum haul menjadi penguat spiritual bagi seluruh elemen masyarakat dalam melanjutkan perjuangan ulama membangun Jawa Timur yang maju, adil, makmur, dan penuh keberkahan.
“Jawa Timur tidak hanya harus unggul secara ekonomi, tetapi juga kokoh dalam nilai religiusitas dan kemanusiaan. Mari kita jadikan doa-doa dalam haul ini sebagai kekuatan batin untuk menghadapi berbagai tantangan bangsa dan daerah,” pungkasnya.
Sementara itu, Wapres Gibran menegaskan pentingnya generasi muda dan para santri meneladani perjuangan serta pemikiran KH Abdul Wahab Chasbullah di tengah berbagai tantangan global saat ini.
Menurut Gibran, KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan tokoh penggerak yang mewariskan semangat persatuan, cinta tanah air, keberanian berpikir maju, serta komitmen kuat terhadap kemajuan bangsa.
“Santri sebagai generasi muda harus mampu meneladani Mbah Kiai Wahab. Tidak hanya berakhlak mulia dan cinta tanah air, tetapi juga berani berinovasi serta mampu beradaptasi menghadapi perubahan zaman, termasuk disrupsi teknologi, perubahan iklim, hingga dinamika geopolitik global,” ujarnya.
Gibran juga menyampaikan apresiasi kepada para kiai, pengasuh pondok pesantren, guru, bu nyai, dan keluarga besar pesantren yang selama ini berkontribusi melahirkan generasi penerus bangsa yang berilmu, beriman, dan memiliki keterbukaan berpikir.
Menurutnya, Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar memiliki kekuatan besar melalui keberadaan pesantren dan para santri. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dinilai telah melahirkan banyak tokoh bangsa dan menjadi contoh pesantren yang mampu mengikuti perkembangan zaman, termasuk melalui pengembangan pendidikan tinggi.
Selain itu, Wapres turut menyampaikan dukungan terhadap pengembangan layanan haji yang tengah diinisiasi pemerintah melalui program Kampung Haji. Program tersebut diharapkan mampu memperlancar layanan administrasi, mempermudah proses keberangkatan, serta menekan biaya haji bagi masyarakat.
Di akhir arahannya, Gibran meminta seluruh jajaran pemerintah daerah dan Forkopimda terus mengawal berbagai program prioritas Presiden agar berjalan optimal di daerah, khususnya di Jawa Timur. (Red)


Komentar