![]() |
| Pertemuan tokoh Madura di Pamekasan. (Dok/Istimewa). |
Pertemuan yang awalnya berlangsung dalam suasana hangat penuh nuansa silaturahmi dan diskusi ringan itu dihadiri oleh Prof. Abdur Rozaki selaku Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Firman Syah Ali sebagai Panglima Nahdliyin Bergerak, H. Badri Khumaini selaku Ketua GP Ansor Pamekasan terpilih, HM Ali Wasik sebagai Ketua Panitia, serta sejumlah tokoh Madura lainnya.
Dari forum tersebut, para tokoh sepakat bahwa Madura membutuhkan sebuah wadah besar yang mampu menghimpun berbagai kekuatan pemikiran, gerakan, dan potensi diaspora dalam satu agenda kolektif yang terstruktur demi kemajuan masyarakat Madura, baik di tanah leluhur maupun di berbagai wilayah perantauan.
Kongres Rakyat Madura digagas bukan tanpa alasan. Para inisiator menilai selama ini berbagai letupan gagasan dan aksi untuk kemajuan Madura masih berjalan sporadis dan belum terorganisir secara optimal, sehingga belum mampu melahirkan grand design pembangunan bersama yang berkelanjutan.
Selain itu, meskipun Jembatan Suramadu telah lama menjadi simbol konektivitas Madura dengan pusat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, percepatan pembangunan di wilayah Madura dinilai masih jauh dari ekspektasi awal.
"Karena itu, diperlukan perumusan ulang agenda pembangunan yang lebih konkret, inklusif, dan berpihak langsung kepada kesejahteraan masyarakat lintas sektor, " jelas Firman Syah Ali, Jumat (01/05/2026).
Isu budaya juga menjadi perhatian serius. Para tokoh menyoroti kekhawatiran akan semakin pudarnya nilai-nilai budaya Madura, termasuk penggunaan Bahasa Madura di kalangan generasi muda, khususnya komunitas diaspora. Kongres ini diharapkan mampu mendorong standarisasi ejaan serta pembaruan kamus Bahasa Madura agar tetap relevan sebagai identitas budaya kolektif di era digital.
Di sisi lain, kekuatan diaspora Madura yang tersebar luas di seluruh Indonesia hingga mancanegara dinilai sebagai aset besar yang belum sepenuhnya terintegrasi. Melalui Kongres Rakyat Madura, potensi sumber daya manusia, jejaring sosial, dan modal para perantau diharapkan dapat disatukan untuk berkontribusi nyata terhadap pembangunan kampung halaman.
Sektor ekonomi rakyat, khususnya nasib petani tembakau, juga menjadi agenda utama. Sebagai salah satu daerah penghasil tembakau terbesar di Indonesia, Madura dinilai perlu memiliki forum strategis untuk memperjuangkan kesejahteraan petani yang selama ini menghadapi tekanan fluktuasi harga, regulasi impor, serta kebijakan cukai. Kongres diharapkan dapat merumuskan solusi konkret agar nilai ekonomi “emas hijau” Madura benar-benar berpihak pada petani lokal.
Tak kalah penting, forum ini juga menyoroti peran strategis perguruan tinggi negeri di Madura, yakni Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan UIN Madura, sebagai motor transformasi sosial-ekonomi kawasan. Kongres dirancang untuk menggagas kolaborasi konkret antara birokrasi, akademisi, dan masyarakat melalui pembentukan pusat riset strategis, transformasi budaya dan moral, inkubasi bisnis kreatif, hingga peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Para tokoh juga menekankan pentingnya intelektualisasi organisasi kemasyarakatan Madura guna memperkuat citra positif etnis Madura di berbagai wilayah diaspora, sehingga identitas Madura tidak hanya dikenal karena tradisi, tetapi juga kontribusi intelektual dan pembangunan.
Sebagai langkah lanjutan, para penggagas Kongres Rakyat Madura akan segera bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh sepuh Madura untuk memohon restu serta mendapatkan arahan terbaik demi kesuksesan agenda besar ini.
Kongres Rakyat Madura diharapkan menjadi tonggak baru kebangkitan Madura modern—menggabungkan kekuatan budaya, ekonomi, pendidikan, dan diaspora dalam satu gerakan kolektif menuju Madura yang lebih maju, berdaya saing, dan bermartabat. (Man)


Komentar