|
Menu Close Menu

Warga Tambak Wedi Tolak Mutasi Lurah, Minta Wali Kota Surabaya Tinjau Ulang Keputusan

Jumat, 10 Juli 2026 | 08.50 WIB

Warga Tambak Wedi yang menyatakan menolak mutasi Lurah Tambak Wedi.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Keputusan Pemerintah Kota Surabaya memutasi Lurah Tambak Wedi, Muhammad Yusufian, menyusul viralnya dugaan pungutan liar (pungli) di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Tambak Wedi, memicu penolakan dari masyarakat setempat. Warga menilai kebijakan tersebut tidak sejalan dengan harapan masyarakat yang selama ini merasakan langsung kepemimpinan Muhammad Yusufian.


Penolakan itu disampaikan dalam rapat luar biasa yang dihadiri tokoh masyarakat, pengurus RT/RW, LPMK, hingga tokoh pemuda. Pertemuan yang digelar pada Kamis (09/07) tersebut diikuti perwakilan RW 01 hingga RW 04 yang membawahi 56 RT.


Ketua RW 01, Achmad Sholeh, mengaku kecewa atas keputusan mutasi yang dinilai dilakukan secara mendadak. Menurutnya, kebijakan tersebut mengejutkan seluruh elemen masyarakat karena Muhammad Yusufian dikenal sebagai lurah yang dekat dengan warga serta responsif terhadap berbagai persoalan di lingkungan.


"Kami sangat kecewa dan sedih. Mutasi ini membuat syok seluruh elemen masyarakat di Tambak Wedi," ujarnya.


Senada dengan itu, Ketua RW 03, Ade Sugiarto, mengatakan seluruh peserta rapat sepakat menyampaikan aspirasi kepada Wali Kota Surabaya agar mempertimbangkan kembali keputusan mutasi tersebut dan mengembalikan Muhammad Yusufian sebagai Lurah Tambak Wedi.


Menurut Ade, selama memimpin Tambak Wedi, Muhammad Yusufian dinilai mampu menghadirkan perubahan positif melalui berbagai program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.


"Kami sudah merasakan angin segar di bawah kepemimpinan Pak Fian. Beliau adalah pemimpin yang memahami kondisi warganya dan memiliki gagasan yang cemerlang untuk kemajuan Tambak Wedi," katanya.


Salah satu program yang mendapat apresiasi warga adalah Kopasga (Ngopi Bareng Warga). Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap bulan secara bergilir di masing-masing RW sebagai sarana komunikasi langsung antara pemerintah kelurahan dengan masyarakat.


Melalui program itu, lurah bersama perangkat kelurahan turun langsung menemui warga untuk menyerap aspirasi, berdialog hingga malam hari, sekaligus mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.


Dalam rapat tersebut, seluruh elemen masyarakat juga menyepakati sejumlah poin sikap. Salah satunya meminta Pemerintah Kota Surabaya membatalkan mutasi Muhammad Yusufian dan mengembalikannya sebagai Lurah Tambak Wedi.


Warga berpendapat pemerintah merupakan pelayan masyarakat sehingga setiap kebijakan, termasuk mutasi pejabat di tingkat kelurahan, semestinya mempertimbangkan aspirasi masyarakat.


"Kami berkumpul di sini menyatukan suara untuk meminta Bapak Wali Kota Surabaya mengabulkan aspirasi kami. Mencari pemimpin seperti Pak Fian bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, sangat sulit," tegas Ade Sugiarto.


Masyarakat berharap aspirasi tersebut dapat didengar oleh Pemerintah Kota Surabaya sehingga Muhammad Yusufian dapat kembali memimpin Kelurahan Tambak Wedi dan melanjutkan berbagai program yang selama ini dinilai membawa perubahan positif bagi lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan warga. (Red) 

Bagikan:

Komentar