|
Menu Close Menu

Aktifkan Politik Konfrontasi, Aktivis Muda NU Desak GP Ansor Jatim Lawan Kebijakan Mutasi Pendamping Desa oleh Kemendes

Jumat, 11 September 2026 | 06.48 WIB

 Zulkarnain Mahmud, aktivis muda NU saat orasi memimpin demo.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya- Semakin banyaknya laporan mengenai pemindahan tugas pendamping desa ke lokasi yang jauh dari tempat tinggal mereka memicu reaksi dari berbagai pihak.


Kebijakan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) yang saat ini dipimpin Menteri Yandri Susanto dari Partai Amanat Nasional (PAN) dinilai telah mengabaikan aspek profesionalisme dan manajerial dalam mengelola para pendamping desa.


Zulkarnain Mahmud, aktivis muda NU yang pernah menjabat Ketua Lakpesdam NU Kota Pasuruan, menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut. Ia menanggapi narasi yang berkembang di masyarakat, khususnya di ruang digital, terkait kebijakan mutasi tersebut.


“Dahulu kita memiliki kenangan buruk tentang persekusi terhadap amaliyah NU, dengan narasi yang menyakitkan terhadap warga nahdliyin. Tragedi itu kini terulang, bukan lagi melalui narasi, melainkan melalui perlakuan terhadap kader NU yang bertugas sebagai pendamping desa,” ujar Zulkarnain, Jumat (11/09/2026). 


Menurutnya, sikap Kemendes PDTT berpotensi membuka kembali sejarah kelam hubungan dengan warga NU. Ia mengingatkan pernyataan KH Abdul Wahab Chasbullah yang menyebut perilaku lalim itu sebagai ukhuwah kusiriyah, di mana nahdliyin diperlakukan semena-mena oleh mereka yang menjadi kusirnya.


Zulkarnain juga mengapresiasi langkah tegas Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur, H. Musyafa Safril, yang telah mengecam keras kebijakan tersebut. Ia menegaskan dukungan penuh para aktivis NU terhadap sikap tersebut.


“Kami, para aktivis NU, mendukung sepenuhnya langkah Ketua Ansor Jatim. Apabila dalam beberapa hari ke depan belum ada kebijakan yang berpihak dari Kemendes, kami tegas mengusulkan agar PW GP Ansor Jawa Timur segera memutuskan sikap organisasi berupa Gerakan Politik Konfrontasi terhadap Kemendes dan kekuatan politik manapun yang mendukungnya,” tegas Zulkarnain.


Ia menambahkan, GP Ansor memiliki rekam jejak historis dalam melakukan politik konfrontasi demi menegakkan keadilan dan melawan kedzaliman.


“Tidak perlu ragu. DNA gerakan konfrontasi GP Ansor masih tertanam dalam jiwa jutaan kadernya. Jika keputusan organisasi itu disahkan, seluruh kader siap cancut taliwondo melawan kedzaliman dalam segala aspek perjuangan,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar