|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Lia Istifhama Terpesona Batik Alami Lamongan, Sebut Rugi Jika Tak Mampir ke Sanggar Mbah Guru

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 16.51 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat berkunjung ke Sanggar Batik Mbah Guru di Kabupaten Lamongan.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Lamongan– Di balik keindahan selembar kain batik, tersimpan kekayaan alam, ketekunan tangan para perajin, serta warisan budaya yang terus dijaga. Pesona itulah yang membuat Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, terpikat saat menyaksikan langsung keindahan batik tulis karya Sanggar Batik Mbah Guru di Kabupaten Lamongan.


Senator yang akrab disapa Ning Lia itu bahkan mengaku kagum melihat bagaimana bahan-bahan sederhana dari alam mampu disulap menjadi karya seni bernilai tinggi.


Kekaguman tersebut disampaikan Ning Lia saat mengunjungi Sanggar Batik Mbah Guru milik Endang Dzunuraini, Jumat (23/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Ning Lia melihat langsung berbagai koleksi batik tulis dengan motif khas Lamongan yang menggunakan pewarna alami.


Mulai dari bunga telang, akar mengkudu, tanaman indigo, hingga sabut kelapa, semuanya diolah menjadi pewarna yang menghadirkan karakter tersendiri pada setiap lembar kain.


"Cakep banget. Batik tulis asli Lamongan," ujar Ning Lia dengan penuh kekaguman saat mengamati koleksi batik yang dipamerkan.


Bagi Ning Lia, keindahan batik tersebut bukan sekadar soal motif dan warna. Ada kreativitas, ketekunan, serta semangat menjaga warisan leluhur yang patut terus dikembangkan.


Ia menilai Sanggar Batik Mbah Guru telah menunjukkan bahwa kekayaan alam dan budaya daerah dapat berjalan beriringan dengan inovasi ekonomi kreatif.


Sementara itu, pendiri Sanggar Batik Mbah Guru, Endang Dzunuraini, mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki kebun dengan lebih dari 100 jenis tanaman yang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami.


"Kami menggunakan pewarna alami yang bisa diregenerasi. Di kebun kami ada lebih dari 100 jenis tanaman pewarna alami yang dimanfaatkan untuk produksi batik," jelas Endang.


Menariknya, bahan pewarna tidak hanya berasal dari tanaman yang sengaja dibudidayakan. Limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak berguna justru diolah menjadi bahan bernilai ekonomi.


"Kami berinovasi mengubah limbah yang awalnya tidak berguna atau dibuang begitu saja menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, yaitu batik dengan pewarna alami dari limbah pertanian," katanya.


Salah satu inovasi tersebut adalah pemanfaatan sabut kelapa sebagai pewarna batik. Bahan yang mudah dijumpai dan kerap terbuang itu kini menjadi bagian dari proses kreatif menghasilkan batik tulis khas Lamongan.


Tidak hanya mengandalkan warna alami, Sanggar Batik Mbah Guru juga mempertahankan identitas budaya daerah melalui motif yang terinspirasi dari bunga melati dan bunga tanjung.


Endang bahkan terus mempelajari perkembangan selera pasar internasional agar batik tulis Lamongan mampu menembus pasar lebih luas tanpa kehilangan jati dirinya.


Melihat berbagai inovasi tersebut, Ning Lia berharap Sanggar Batik Mbah Guru tidak hanya dikenal sebagai tempat produksi batik, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi dan pusat ekonomi kreatif masyarakat.


Menurutnya, kekayaan budaya seperti ini harus semakin dikenal masyarakat luas, termasuk wisatawan yang datang ke Jawa Timur.


Ning Lia pun menyampaikan ajakan khusus kepada wisatawan agar tidak melewatkan kesempatan berkunjung dan menyaksikan sendiri keindahan batik tulis khas Lamongan.


"Kalau ke Jawa Timur, rasanya rugi sekali kalau tidak mampir ke Lamongan, lebih tepatnya ke Sanggar Batik Mbah Guru. Batik tulis asli Lamongan ini sangat bagus," pungkas Ning Lia. (Red) 

Bagikan:

Komentar