Oleh: H. Musaffa Safril
Lensajatim.id, Opini-Pesantren adalah salah satu fondasi penting peradaban Indonesia. Dari lingkungan pesantren, bangsa ini melahirkan ulama, pejuang kemerdekaan, pemimpin masyarakat, dan generasi yang tumbuh dengan kekuatan ilmu, akhlak, serta pengabdian. Pesantren memiliki akar sejarah yang panjang dan telah membuktikan kemampuannya bertahan menghadapi berbagai perubahan zaman.
Namun, sejarah panjang tidak boleh membuat pesantren berhenti bergerak. Justru karena memiliki warisan intelektual dan moral yang kuat, pesantren harus berani menatap masa depan dengan pikiran terbuka. Tantangan hari ini tidak lagi terbatas pada persoalan menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga bagaimana mempersiapkan santri menghadapi perubahan besar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan peradaban dunia.
Kita hidup pada masa ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), otomasi, bioteknologi, dan ekonomi digital mengubah cara manusia belajar, bekerja, berproduksi, bahkan memahami dunia. Perubahan ini berlangsung begitu cepat. Mereka yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan memiliki peluang lebih besar untuk menentukan arah masa depan. Sebaliknya, mereka yang tertinggal berisiko hanya menjadi penonton di tengah kemajuan yang diciptakan orang lain.
Dalam konteks ini, pesantren menghadapi persimpangan penting: bagaimana merawat tradisi tanpa terperangkap dalam romantisme masa lalu, serta bagaimana menyambut kemajuan tanpa kehilangan jati diri.
Belajar dari Tiongkok: Tradisi, Ilmu, dan Keberanian Berubah
Tiongkok memberikan pelajaran menarik tentang bagaimana sebuah bangsa membangun kekuatan melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, industrialisasi, dan pengembangan teknologi. Sejak reformasi ekonomi pada akhir 1970-an, Tiongkok melakukan transformasi besar-besaran dengan membuka ruang bagi pembaruan, memperkuat pendidikan, mengembangkan riset, dan membangun kapasitas industri nasional.
Kini, Tiongkok menjadi salah satu kekuatan utama dunia dalam bidang manufaktur, teknologi digital, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, dan energi terbarukan. Kemajuan tersebut tidak lahir dalam semalam. Di belakangnya terdapat perencanaan jangka panjang, investasi pendidikan, penguatan riset, kedisiplinan, serta keberanian untuk melakukan koreksi terhadap pendekatan yang tidak lagi memadai.
Tentu, Indonesia tidak harus menyalin sistem politik atau seluruh model pembangunan Tiongkok. Setiap bangsa memiliki sejarah, karakter, dan jalan perkembangannya sendiri. Namun, ada satu pelajaran yang relevan: kemajuan membutuhkan kesediaan untuk terus belajar, memperbarui cara berpikir, dan menyiapkan generasi agar mampu menguasai ilmu pengetahuan.
Pesantren memiliki modal yang sangat berharga untuk memasuki ruang tersebut. Tradisi keilmuan pesantren mengajarkan penghormatan terhadap guru, kesungguhan menuntut ilmu, kedisiplinan, kesabaran, dan adab dalam menggunakan pengetahuan. Nilai-nilai ini dapat menjadi fondasi kuat untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral.
Yang perlu diperkuat adalah jembatan antara tradisi keilmuan tersebut dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Merawat Tradisi, Memperluas Cakrawala
Tradisi pesantren tidak seharusnya dipertentangkan dengan sains dan teknologi. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila ditempatkan secara proporsional.
Kajian kitab kuning, pendalaman fikih, tafsir, hadis, tasawuf, dan ilmu-ilmu keislaman tetap menjadi kekuatan utama pesantren. Pada saat yang sama, santri perlu memperoleh akses yang lebih luas terhadap matematika, sains, teknologi informasi, bahasa asing, literasi digital, kewirausahaan, dan kecakapan riset.
Penguatan ini bukan berarti mengubah pesantren menjadi sekolah umum dengan identitas keagamaan yang semakin tipis. Tujuannya adalah memperluas kemampuan santri agar mampu memahami persoalan masyarakat secara lebih utuh dan menawarkan solusi yang relevan.
Santri yang memahami fikih muamalah, misalnya, akan memiliki perspektif lebih luas ketika mempelajari ekonomi digital, keuangan syariah, dan perkembangan transaksi berbasis teknologi. Santri yang mendalami etika Islam dapat mengambil peran dalam membahas tanggung jawab moral penggunaan kecerdasan buatan. Santri yang memahami persoalan lingkungan dapat mengembangkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab krisis ekologis.
Di sinilah pesantren memiliki peluang untuk menghadirkan keunggulan yang khas: mempertemukan kedalaman spiritual, kekuatan moral, keluasan ilmu, dan kemampuan menjawab persoalan nyata.
Kemajuan teknologi tanpa nilai dapat kehilangan arah. Sebaliknya, nilai-nilai luhur akan semakin kuat pengaruhnya apabila mampu diterjemahkan menjadi solusi bagi kehidupan manusia.
Santri dan Tantangan Kecerdasan Buatan
Kehadiran AI membuka peluang besar sekaligus menghadirkan tantangan baru. Teknologi ini dapat membantu proses pembelajaran, memperluas akses terhadap sumber pengetahuan, mendukung penelitian, dan meningkatkan produktivitas. Namun, AI juga membawa persoalan tentang kebenaran informasi, privasi, hak cipta, ketergantungan teknologi, serta tanggung jawab manusia dalam mengambil keputusan.
Karena itu, santri perlu dibekali lebih dari sekadar kemampuan menggunakan perangkat digital. Mereka harus memiliki literasi teknologi, daya kritis, kemampuan memeriksa kebenaran informasi, dan pemahaman etis mengenai dampak penggunaan teknologi.
Pesantren dapat mulai mengembangkan pembelajaran berbasis proyek, laboratorium digital, klub sains, pelatihan pemrograman, serta riset sederhana yang berangkat dari kebutuhan masyarakat sekitar. Pemanfaatan teknologi juga dapat diarahkan untuk mendokumentasikan manuskrip pesantren, mengembangkan perpustakaan digital, memperluas dakwah, dan mempromosikan produk ekonomi pesantren.
Langkah tersebut tidak harus dimulai dengan fasilitas mahal. Yang lebih mendasar ialah kemauan membangun ekosistem belajar, meningkatkan kompetensi guru, memperluas kemitraan, dan memastikan santri mendapatkan kesempatan untuk bereksperimen serta mengembangkan gagasan.
Di saat yang sama, pesantren harus tetap mengajarkan bahwa teknologi adalah alat, bukan otoritas moral. Kecanggihan mesin tidak menggantikan kebijaksanaan, dan kemampuan menghasilkan jawaban tidak selalu berarti kemampuan memahami kebenaran.
Santri masa depan perlu menguasai teknologi sekaligus memiliki kedalaman akhlak untuk menentukan bagaimana teknologi seharusnya digunakan.
Dari Pendidikan Menuju Kemandirian Ekonomi
Persoalan lain yang tidak kalah penting ialah kemandirian ekonomi pesantren. Banyak pesantren telah mengembangkan usaha di bidang pertanian, peternakan, perdagangan, makanan, kerajinan, dan berbagai sektor jasa. Potensi ini dapat diperkuat melalui inovasi, digitalisasi, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pasar.
Santri perlu mendapatkan ruang untuk mempelajari kewirausahaan, manajemen usaha, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, serta pengembangan produk. Pesantren juga dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan melibatkan petani, pelaku UMKM, koperasi, dan kelompok usaha di sekitarnya.
Kemandirian ekonomi akan memperluas ruang gerak pesantren dalam mengembangkan pendidikan dan pelayanan sosial. Pesantren yang memiliki ekosistem usaha sehat berpeluang menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, dan mengurangi ketergantungan pada bantuan yang tidak selalu berkelanjutan.
Namun, pengembangan ekonomi harus tetap berpijak pada prinsip keadilan, kejujuran, dan kebermanfaatan. Orientasi bisnis tidak boleh menggeser tujuan pendidikan dan pengabdian. Justru kegiatan ekonomi harus menjadi laboratorium nyata bagi santri untuk belajar tentang etika, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Negara Harus Hadir, Pesantren Harus Bergerak
Transformasi pesantren tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pengasuh, ustadz, dan santri. Negara memiliki tanggung jawab memastikan bahwa setiap lembaga pendidikan memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang.
Dukungan terhadap pesantren perlu diarahkan pada peningkatan kualitas guru, infrastruktur pendidikan, akses internet, laboratorium, beasiswa, penguatan riset, dan kemitraan dengan perguruan tinggi maupun dunia industri. Program-program tersebut harus dirancang dengan memperhatikan keragaman kondisi pesantren, termasuk pesantren kecil di wilayah pedesaan dan daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa kebijakan pengembangan teknologi dan pendidikan tidak hanya dinikmati lembaga yang sudah maju. Kesenjangan fasilitas dapat berubah menjadi kesenjangan kesempatan apabila tidak ditangani sejak awal.
Di sisi lain, pesantren juga perlu terus berbenah. Keterbukaan terhadap evaluasi, pembaruan metode pembelajaran, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, serta pengembangan jejaring kerja sama menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Organisasi kepemudaan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas teknologi dapat mengambil peran sebagai mitra. Mereka dapat membantu membuka akses pelatihan, mempertemukan santri dengan para ahli, menyediakan pendampingan usaha, dan mengembangkan program yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pesantren.
Bagi GP Ansor, agenda ini merupakan bagian dari tanggung jawab kaderisasi. Kader muda NU perlu didorong untuk menguasai ilmu pengetahuan, mengembangkan kewirausahaan, memahami perubahan global, dan tetap kokoh dalam nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Pengabdian kepada agama dan bangsa pada masa kini menuntut kapasitas yang semakin luas.
Berakar Kuat, Melangkah Jauh
Masa depan pesantren tidak ditentukan oleh seberapa keras ia mempertahankan seluruh cara lama, tetapi oleh kemampuannya menjaga nilai-nilai utama sambil memperbarui metode untuk menjawab tantangan baru.
Tradisi adalah akar yang memberi identitas dan kekuatan. Ilmu pengetahuan adalah jalan untuk memahami perubahan. Teknologi adalah sarana untuk memperluas kemampuan. Sementara akhlak menjadi kompas agar seluruh kemajuan tetap berpihak pada kemanusiaan.
Pesantren tidak perlu kehilangan jati diri untuk menjadi modern. Sebaliknya, pesantren harus percaya diri membawa tradisi keilmuan dan moralnya ke ruang-ruang kemajuan. Santri harus mampu berdiri di masjid dan ruang riset, membaca kitab kuning dan literatur sains, memahami persoalan umat sekaligus membaca arah perubahan global.
Kita berharap lahir generasi santri yang tidak hanya mampu menjelaskan persoalan masa lalu, tetapi juga berani merancang masa depan; tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut menciptakan inovasi; tidak hanya berbicara tentang kemandirian, tetapi membangun kekuatan ekonomi yang nyata.
Selamat Hari Santri Nasional 2026.
Mari merawat tradisi, membuka cakrawala, menguasai ilmu pengetahuan, dan menjemput masa depan dengan keberanian untuk terus belajar dan berubah.
Santri harus tetap berakar pada nilai-nilai luhur pesantren, tetapi tidak boleh kehilangan kesempatan untuk berdiri di garis depan kemajuan sains, teknologi, dan peradaban dunia.
Dari pesantren, kita rawat warisan para ulama. Dengan ilmu, kita bangun masa depan bangsa. Dengan akhlak, kita pastikan kemajuan tetap berpihak pada kemanusiaan.
(*Penulis adalah Ketua PW GP Ansor Jawa Timur sekaligus Ketua Ikatan Santri dan Alumni Al-Ishlah (IKSALIS)


Komentar