![]() |
| Ria saat melayani pelanggan. (dok/Ria) |
Ria merupakan warga Dusun Bargan, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan. Awalnya, ia hanya mencoba membuat sewel. Namun, camilan tersebut ternyata diminati berbagai kalangan, terutama pelajar dan mahasiswa.
“Awal mula hanya coba-coba bikin dan ternyata saat itu salah satu makanan khas Socah ini begitu diminati mulai dari berbagai kalangan khususnya pelajar dan mahasiswa,” jelas Ria, Selasa (13/10/2026).
Seiring bertambahnya pelanggan, Ria mulai memperluas penjualan. Awalnya, ia hanya berjualan di rumah. Kemudian, ia membuka lapak di pinggir jalan Bangkalan hingga akhirnya menyewa kedai.
Kini, Ria menjalankan usaha dari dua lokasi. Rumahnya di Socah buka pukul 07.00–21.00. Sementara itu, kedainya berada di Jalan KH. Moch. Kholil Gang IX Nomor 40, Bangkalan, dan beroperasi pukul 11.00–17.00.
Seluruh varian sewel yang dijual dibuat sendiri. Ria menyediakan lima pilihan, yakni sewel original, sewel kukus udang, sewel nyelkennyel atau puli, sewel isi keju, dan sewel sosis.
Pelanggan juga dapat memesan campuran kelima varian dalam satu porsi. Harga sewel berkisar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu, menyesuaikan permintaan pelanggan.
Selain penjualan langsung, Ria menyediakan sewel dalam kemasan vakum untuk pengiriman melalui jasa ekspedisi. Kemasan tersebut ditujukan agar produk lebih awet pada suhu ruang.
Dalam sehari, Ria dapat menjual sekitar 20–50 porsi sewel. Omzet penjualannya berkisar Rp250 ribu hingga Rp600 ribu per hari.
Pendapatan tersebut menjadi sumber penghasilan utama Ria. Hasil penjualan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai operasional usaha, termasuk sewa kedai serta promosi melalui media sosial dan media cetak.
Perkembangan usaha tersebut juga membuka lapangan kerja bagi orang lain. Ria awalnya mempekerjakan satu karyawan sejak usaha dirintis. Setelah usahanya berkembang, ia menambah dua karyawan sehingga kini memiliki tiga karyawan.
Dalam menjalankan usaha, Ria menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku. Kondisi tersebut membuatnya perlu menyesuaikan harga jual dan mempertimbangkan respons pelanggan.
“Kenaikan harga bahan pokok dan lainnya yang naik, jadi kami harus menyesuaikan dengan harga sewel yang dijual,” ungkapnya.
Persaingan dengan pedagang makanan serupa dan produk kuliner kekinian juga menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, promosi menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan produknya kepada pelanggan.
Ke depan, Ria berencana mengembangkan usaha dengan membuka cabang di lokasi lain. Ia berharap Sewel Kriuk Apalah-apalah terus berkembang dan menjadi camilan favorit berbagai kalangan.
“Semoga usaha kami ini Sewel Kriuk Apalah-apalah selalu menjadi camilan favorit semua kalangan,” harap Ria. (rif)


Komentar