|
Menu Close Menu

Rudy Saladin: Ada Nama yang Tinggal Lebih Lama daripada Jabatan

Senin, 12 Oktober 2026 | 14.57 WIB

Catatan H. Musaffa Safril, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, tentang Persahabatan, Keteladanan, dan Jejak Pengabdian.


Lensajatim.id, Catatan- Ada orang yang kita kenal karena jabatannya. Ada pula orang yang kita kenang karena sikap dan ketulusannya. Jabatan bisa membuat seseorang dihormati, tetapi kerendahan hati membuatnya dicintai. Bagi saya, Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A., adalah salah satu sosok yang meninggalkan kesan mendalam karena hal itu.


Saya mengenal beliau ketika baru menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya, bertepatan dengan masa-masa awal saya terpilih sebagai Ketua PW GP Ansor Jawa Timur pada pertengahan Agustus 2024. Pertemuan pertama kami berlangsung dalam suasana yang jauh dari kesan formal. Kami duduk bersama, ngopi, dan berbincang santai di sela-sela kesibukan beliau menjalankan tugas sebagai seorang panglima.


Dari perjumpaan sederhana itu, saya menangkap kesan yang begitu kuat. Beliau orang yang asyik diajak bicara, bersahaja, peduli, tidak jaim, dan tidak membangun jarak dengan lawan bicaranya. Ada suasana persahabatan yang terasa begitu alami. Bagi saya, beliau seperti sahabat, kakak asuh, sekaligus orang tua yang baik.


Dalam hati, saat itu saya berkesimpulan, “Ini jenderal yang merakyat.”


Kesimpulan itu ternyata bukan kesan sesaat. Waktu kemudian memberi saya banyak kesempatan untuk mengenal lebih dekat sosok Rudy Saladin, baik dalam forum resmi maupun perjumpaan-perjumpaan sederhana yang justru memperlihatkan sisi kemanusiaannya.


Dari obrolan sambil ngopi, lahir sebuah gagasan besar


Dalam pertemuan awal itu, beliau bertanya kepada saya, “Anggotamu berapa, Bro?”


Saya menjawab sambil bergurau, “Di mana ada masjid dan musala, di situ ada anggota saya, Jenderal.”


Beliau tertawa dan menimpali, “Wah, jutaan itu!”


“Betul,” jawab saya.


Obrolan ringan itu kemudian berkembang menjadi gagasan yang lebih besar. Beliau langsung mengajak kami menggelar apel bersama.


“Nanti apel gelar pasukan kita, biar aku jadi irup-nya,” kata beliau.


Kalimat sederhana itu akhirnya menjadi kenyataan.


Menjelang pelantikan PW GP Ansor Jawa Timur pada April 2025, kami menggelar apel bersama Ansor, Banser, MDS Rijalul Ansor, dan TNI. Sekitar 20 ribu peserta hadir di halaman Jatim Expo Surabaya. Pasukan muda Nahdlatul Ulama dari berbagai penjuru Jawa Timur membaur bersama prajurit TNI dalam sebuah apel yang menghadirkan semangat kebangsaan, persaudaraan, dan pengabdian.


Mayjen TNI Rudy Saladin sendiri bertindak sebagai inspektur upacara.


Beliau hadir di tengah ribuan kader Ansor. Beliau menyapa, membaur, dan merasakan langsung energi anak-anak muda NU yang datang dari berbagai daerah. Bagi kami, apel itu lebih dari sebuah pertemuan dua institusi. Ada pesan kuat yang hendak ditegaskan: bahwa TNI dan elemen kepemudaan, khususnya Ansor dan Banser, memiliki ruang luas untuk saling menguatkan dalam menjaga persatuan, merawat kebangsaan, dan mengabdi kepada masyarakat.


Sejak saat itu, nama Rudy Saladin semakin melekat di kalangan kader Ansor Jawa Timur.


Bagi banyak sahabat, beliau adalah gambaran seorang panglima yang dekat dengan rakyat. Sebagian besar kader Ansor di Jawa Timur mungkin belum pernah berjabat tangan atau berbincang langsung dengan beliau. Namun, nama dan sosoknya telah dikenal luas. Ada sahabat-sahabat yang bahkan membingkai foto beliau dan memasangnya di dinding rumah.


Saya melihat itu sebagai ekspresi kekaguman yang tumbuh dari cerita, pengalaman bersama, dan kesan yang menyebar dari satu kader ke kader lainnya.


Tentu, kedekatan semacam itu tidak lahir hanya karena seseorang memiliki pangkat tinggi atau memegang jabatan strategis. Ada sesuatu yang lebih mendasar: sikap yang membuat orang merasa dekat, dihargai, dan diakui keberadaannya.


Jenderal yang tidak hanya memberi komando, tetapi juga turun ke lapangan


Satu hal yang paling saya ingat dari persiapan apel bersama itu adalah cara beliau bekerja.


Beliau tidak hanya memberikan arahan dari mimbar komando, lalu menyerahkan seluruh urusan kepada anak buah. Beliau turun langsung ke lapangan, memantau persiapan, mengecek kebutuhan, dan memastikan berbagai detail berjalan dengan baik.


Hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian justru menjadi bagian yang beliau periksa. Bagi beliau, keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya ditentukan oleh besarnya pasukan atau gagahnya barisan, tetapi juga oleh kesiapan setiap unsur yang terlibat.


Dari situ saya belajar bahwa kepemimpinan memiliki dimensi yang sering kali tidak terlihat dari luar. Seorang pemimpin memang harus mampu memberi arah, tetapi ia juga perlu hadir untuk memastikan bahwa arah itu benar-benar diterjemahkan menjadi kerja nyata.


Komando itu penting. Namun, keteladananlah yang membuat komando memiliki wibawa.


Perhatian terhadap hal-hal kecil sering kali menjadi tanda bahwa seseorang sungguh-sungguh memikul tanggung jawab atas hal-hal besar.


Saya juga menyaksikan bagaimana beliau tidak canggung duduk bersama siapa pun. Pada beberapa kesempatan, saya melihat sendiri Rudy Saladin ngopi bersama Babinsa, duduk lesehan, berbincang dengan aktivis mahasiswa, serta berdialog dengan berbagai elemen muda di Jawa Timur.


Tidak harus selalu ada podium, meja rapat, protokoler, atau susunan acara yang kaku untuk membicarakan persoalan penting.


Beliau memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Beliau mendengarkan, menanggapi, dan membangun percakapan dengan cara yang membuat orang nyaman menyampaikan pikirannya.


Bagi saya, itulah salah satu kekuatan kepemimpinan: kemampuan membangun ikatan emosional tanpa menghilangkan batas tanggung jawab dan kehormatan jabatan.


Sebab, wibawa tidak selalu lahir dari jarak. Ada kalanya wibawa justru tumbuh ketika seseorang yang memiliki kekuasaan memilih untuk mendekat.


Ngopi di Gili Genting, berlebaran bersama masyarakat Sumenep


Salah satu pengalaman yang membekas dalam ingatan saya terjadi menjelang Iduladha 2025. Saat itu, saya berkesempatan membersamai beliau mengunjungi sejumlah pulau di Kabupaten Sumenep, Madura.


Kami bermalam di Pantai Sembilan, Pulau Gili Genting. Pada malam hari, beliau mengajak kami ngopi bersama masyarakat setempat.


Suasananya sangat cair. Tidak ada jarak yang terasa antara seorang panglima dan warga yang duduk di hadapannya. Kami berbincang seperti orang-orang yang telah lama saling mengenal. Orang-orang yang ngopi bersama beliau malam itu mungkin bahkan tidak semuanya menyadari bahwa sosok yang duduk di hadapan mereka adalah seorang jenderal bintang dua, Panglima Kodam V/Brawijaya.


Bagi saya, pemandangan itu begitu berkesan.


Di tengah kebiasaan yang sering menempatkan jabatan sebagai pembatas hubungan sosial, beliau memperlihatkan bahwa kedudukan tinggi tidak harus membuat seseorang kehilangan kesederhanaannya. Seorang panglima tetap bisa menjadi teman ngobrol bagi masyarakat, mendengarkan cerita mereka, dan menikmati secangkir kopi tanpa membuat orang lain merasa rendah diri.


Keesokan harinya, kami melaksanakan salat Iduladha di Masjid Agung Sumenep. Kami berbaur bersama masyarakat di salah satu wilayah paling timur Pulau Madura itu, kemudian melanjutkan kegiatan dengan penyembelihan hewan kurban.


Saya masih ingat ungkapan sejumlah warga saat itu.


“Baru kali ini ada Panglima Kodam salat Id di sini.”


Ungkapan spontan itu menggambarkan betapa kehadiran seorang pejabat tinggi negara di tengah masyarakat dapat meninggalkan kesan mendalam. Bukan karena kemegahan acaranya, melainkan karena kedekatan yang mungkin jarang mereka rasakan.


Di tempat yang jauh dari pusat kekuasaan, masyarakat dapat melihat langsung bahwa negara hadir melalui sosok yang bersedia datang, berbaur, dan merayakan hari besar bersama mereka.


Saya percaya, bagi masyarakat yang kami temui hari itu, kenangan tentang Iduladha tersebut akan tersimpan cukup lama. Bagi saya sendiri, perjalanan itu semakin meneguhkan kesan tentang Rudy Saladin: seorang jenderal yang tidak kehilangan sisi kemanusiaannya di tengah besarnya tanggung jawab yang ia emban.


Dari petani tembakau hingga prajurit di pulau terpencil


Ada sisi lain dari beliau yang patut saya catat, yakni perhatian terhadap persoalan masyarakat dan kepedulian terhadap orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kepemimpinannya.


Beberapa kali saya menyaksikan perhatian beliau kepada petani tembakau di Madura. Beliau bahkan berjumpa langsung dengan para petani, mendengarkan keluhan dan persoalan yang mereka hadapi, serta berupaya mencari jalan keluar yang dapat ditempuh.


Bagi masyarakat Madura, tembakau memiliki arti ekonomi yang besar. Ia menyangkut penghidupan keluarga, biaya pendidikan anak, keberlangsungan usaha kecil, dan denyut ekonomi desa. Karena itu, persoalan tembakau tidak cukup dipahami dari angka produksi atau harga di atas kertas. Ada kehidupan masyarakat yang bergantung di dalamnya.


Mendengarkan petani secara langsung menjadi langkah penting untuk memahami persoalan tersebut secara lebih utuh.


Saya menghargai kesediaan beliau untuk hadir dan mendengar. Sebab, suara dari lapangan sering kali menyampaikan hal-hal yang tidak sepenuhnya tertangkap dalam laporan resmi.


Namun, ada satu cerita lain yang menurut saya memperlihatkan sisi kepemimpinan beliau secara lebih mendalam: perhatian terhadap sejumlah Babinsa yang bertugas di Pulau Masalembu.


Beberapa waktu silam, sejumlah Babinsa yang bertugas di pulau terpencil itu terlibat dalam upaya pengamanan narkoba di jalur perairan Masalembu. Bagi saya, ada hal penting dari cara beliau merespons peristiwa tersebut.


Beliau berpandangan bahwa prajurit yang menunjukkan integritas dan menjalankan tugas dengan baik patut mendapatkan apresiasi. Apalagi, bertugas di wilayah terpencil dengan berbagai keterbatasan tentu menghadirkan tantangan tersendiri.


Dalam pandangan beliau, pengabdian seperti itu perlu dilihat dan dihargai. Sebab, menjaga integritas di tempat yang jauh dari pusat perhatian bukanlah perkara ringan. Justru ketika pengawasan tidak selalu mudah dan kesempatan untuk menyimpang mungkin terbuka, komitmen terhadap tugas dan tanggung jawab menjadi semakin berarti.


Beliau tidak berhenti pada apresiasi dalam bentuk ucapan. Sejumlah prajurit tersebut mendapatkan penghargaan, di antaranya kesempatan menunaikan ibadah umrah dan peluang mengikuti pendidikan. Beliau bahkan berjumpa langsung dengan mereka.


Bagi saya, ini menyampaikan pesan yang kuat tentang kepemimpinan.


Seorang pemimpin tidak cukup hanya hadir ketika pasukannya berhasil menjalankan tugas besar yang terlihat banyak orang. Ia juga perlu mengetahui siapa yang bekerja dalam senyap, siapa yang bertugas jauh dari pusat perhatian, dan siapa yang tetap menjaga integritas ketika tidak banyak mata menyaksikan.


Prajurit yang bertugas di pulau terpencil mungkin tidak selalu muncul dalam pemberitaan. Pengabdiannya bisa jadi tidak terdengar hingga ke pusat. Namun, mereka tetap memiliki keluarga yang menunggu di rumah, memiliki harapan, dan membutuhkan keyakinan bahwa kerja baik mereka tidak luput dari perhatian pimpinannya.


Ketika seorang panglima bersedia menemui mereka secara langsung dan memberikan penghargaan atas pengabdian mereka, ada pesan moral yang melampaui bentuk penghargaan itu sendiri: bahwa integritas diperhatikan, loyalitas dihargai, dan pengabdian memiliki arti.


Saya kira, salah satu tugas penting seorang pemimpin adalah memastikan agar orang-orang yang bekerja dengan benar tidak merasa sendirian.


Sebab, organisasi yang kuat bukan hanya organisasi yang mampu memberikan perintah, melainkan juga organisasi yang mampu menumbuhkan kepercayaan bahwa setiap pengabdian yang tulus akan mendapatkan tempat.


Di situlah saya melihat perhatian Rudy Saladin kepada prajuritnya sebagai bagian dari keteladanan yang layak dikenang.


Ada jabatan yang berakhir, tetapi ada kedekatan yang tidak ikut berakhir


Oktober 2026 ini, saya mendengar kabar bahwa Mayjen TNI Rudy Saladin akan berpindah tugas untuk mengemban amanah sebagai Wakil Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI (Wadansesko TNI).


Sebagai seorang sahabat, saya tentu ikut mendoakan kelancaran perjalanan pengabdian beliau. Namun, saya tidak bisa menyembunyikan rasa kehilangan.


Ada rasa kehilangan ketika kita harus melepas seseorang yang selama ini terasa dekat, yang kehadirannya memberikan kesan baik, dan yang telah menghadirkan begitu banyak pengalaman berharga dalam perjalanan kami.


Bagi saya pribadi, Rudy Saladin adalah sahabat, kakak asuh, sekaligus orang tua yang baik. Seseorang yang dapat diajak berbicara tanpa kecanggungan, dimintai pandangan tanpa rasa sungkan, dan ditemui dalam suasana yang selalu terasa bersahabat.


Bagi Ansor Jawa Timur, beliau adalah bagian dari cerita tentang bagaimana persahabatan dapat tumbuh di antara institusi yang berbeda, bagaimana komunikasi dapat membuka jalan bagi kolaborasi, dan bagaimana keteladanan seorang pemimpin dapat meninggalkan jejak jauh melampaui masa jabatannya.


Saya meyakini bahwa kedekatan yang telah terbangun antara TNI dan Ansor-Banser Jawa Timur akan terus terawat. Sebab, yang mempertemukan kami bukan semata-mata agenda atau acara seremonial. Ada semangat pengabdian, kecintaan terhadap tanah air, serta komitmen untuk menjaga persatuan yang menjadi titik temu.


Tugas boleh berganti. Tempat pengabdian boleh berpindah. Amanah baru boleh menanti. Namun, persahabatan yang dibangun dengan ketulusan tidak harus berakhir bersama pergantian jabatan.


Dan bagi jutaan sahabat Ansor di Jawa Timur, nama Rudy Saladin akan tetap menjadi bagian dari ingatan tentang seorang panglima yang pernah hadir begitu dekat.


Mungkin suatu hari nanti, ketika kami kembali mengenang apel besar di Jatim Expo, perjalanan ke pulau-pulau Sumenep, obrolan sederhana sambil menikmati kopi, atau kisah para prajurit yang bertugas di Masalembu, kami akan tersenyum dan berkata, “Dulu, kami pernah punya panglima yang begitu dekat dengan kami.”


Bukan karena beliau selalu berada di tengah kami, melainkan karena ketika hadir, beliau membuat kami merasa bahwa jarak antara seorang panglima dan anak-anak muda di akar rumput tidaklah sejauh yang dibayangkan.


Bagi saya, itulah arti merakyat yang sesungguhnya: hadir tanpa membuat orang merasa kecil, memimpin tanpa kehilangan kerendahan hati, dan memiliki kewenangan tanpa kehilangan kepekaan.


Doa untuk Sahabat, Kakak, dan Orang Tua Kami


Jenderal Rudy Saladin, terima kasih atas persahabatan, keteladanan, dan kehangatan yang telah kami rasakan selama ini.


Terima kasih telah menunjukkan bahwa di balik pangkat dan seragam seorang jenderal, selalu ada ruang untuk menjadi sahabat, mendengarkan, tertawa bersama, dan duduk sederhana dengan siapa saja.


Terima kasih juga karena telah memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari besarnya kewenangan, tetapi juga dari kesediaan untuk turun ke lapangan, mendengar suara masyarakat, memperhatikan prajurit, dan menghargai mereka yang menjalankan tugas dalam senyap.


Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kesehatan, kekuatan, keberkahan umur, dan kelapangan hati dalam setiap langkah pengabdian Bapak. Semoga amanah baru sebagai Wakil Komandan Sesko TNI menjadi jalan bagi semakin luasnya manfaat yang dapat Bapak berikan kepada bangsa dan negara.


Semoga Allah membimbing setiap keputusan, melapangkan setiap urusan, menguatkan Bapak dalam menghadapi setiap tantangan, serta menjaga hati agar senantiasa teguh dalam amanah dan rendah hati dalam keberhasilan.


Untuk istri dan anak-anak Bapak, semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayang, kesehatan, ketenteraman, dan kebahagiaan. Semoga keluarga selalu menjadi rumah tempat Bapak menemukan kedamaian setelah panjangnya perjalanan pengabdian; tempat untuk pulang, berbagi cerita, mengurai lelah, dan kembali mengumpulkan kekuatan.


Semoga setiap langkah Bapak dicatat sebagai amal kebaikan, setiap kesulitan dibukakan jalan keluar, dan setiap pengabdian berbuah kemanfaatan bagi sebanyak-banyaknya manusia. Semoga Allah menjaga Bapak dan keluarga di mana pun amanah membawa langkah, serta mempertemukan Bapak dengan orang-orang baik yang menguatkan perjalanan pengabdian.


Jika selama kebersamaan kita ada tutur kata atau sikap yang kurang berkenan, izinkan kami memohon maaf. Semoga silaturahmi ini tetap terjaga, meski kelak jarak dan kesibukan membuat kita tidak lagi sesering dahulu duduk bersama.


Sebab, ada perjumpaan yang selesai ketika acara berakhir. Namun, ada perjumpaan yang terus hidup dalam kenangan dan doa.


Selamat melanjutkan pengabdian, Jenderal.


Bagi kami, Bapak akan selalu menjadi bagian dari cerita baik Ansor Jawa Timur. Bukan semata sebagai Pangdam V/Brawijaya, melainkan sebagai sahabat yang merakyat, kakak yang mengayomi, dan orang tua yang meninggalkan keteladanan.


Semoga Allah senantiasa meridai setiap langkah pengabdian Bapak, menjaga keluarga dalam lindungan-Nya, dan mempertemukan kita kembali dalam keadaan sehat, bahagia, serta tetap dalam semangat khidmah kepada bangsa, negara, dan umat.


Jabatan boleh berganti, medan pengabdian boleh berbeda, tetapi ketulusan akan selalu menemukan tempatnya di hati orang-orang yang pernah merasakannya.


Dan ketika suatu hari nanti nama Rudy Saladin kembali disebut dalam percakapan kami, semoga yang hadir bukan hanya ingatan tentang seorang panglima, melainkan juga kehangatan tentang seorang sahabat yang pernah duduk bersama kami, tertawa bersama kami, dan meninggalkan jejak kebaikan dalam perjalanan kami.


Hormat dan doa kami selalu menyertai.


H. Musaffa Safril

Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur

Bagikan:

Komentar