> Relijiusasi Taqline Lensajatim.id
|
Menu Close Menu

Relijiusasi Taqline

Rabu, 09 September 2020 | 21.30 WIB

 

Gambar Bacabup-Bacawabup Kabupaten Sumenep pada Pilkada tahun 2020

Oleh : A. Dardiri Zubairi 

Pilkada di kabupaten Sumenep sepertinya sudah fix soal calon. Dengan selesainya 2 bakal calon yang mendaftar ke KPU, sepertinya tak akan ada calon lagi yang  mendaftar. 2 bakal calon itu tinggal menunggu waktu untuk disahkan sebagai calon. 


Sebagai daerah basis santri, tentu calon (lebih tepatnya konsultan politik yang dibayar calon) tahu soal itu. Tak heran jika taqline yang dibuat calon begitu relijius. Satu calon merilis taqline "Bismillah Melayani", sementara calon lainnya merilis "Sumenep Barokah". 


Dalam kajian semiotis, taqline itu adalah tanda. Sama posisinya seperti bahasa verbal, bahasa visual, perabotan, gerakan, aksesoris, menu, dls yang terbuka bagi penafsiran semiotis (semiotic decoding). Berarti taqline itu tak memiliki makna dan konsep tunggal. Ia hanya memberi "petunjuk" yang bisa mengantarkan kita melalui interpretasi. 


Tanda menurut sausure setidaknya memiliki dua elemen; 

penanda (signifier), atau citra-bunyi (sound image), dan petanda (signified), atau konsep yang diacu. Misalnya, bunyi " B-i-s-m-i-l-l-a-h  M-e-l-a-y-a-n-i.." atau "S-u-m-e-n-e-p  B-a-r-o-k-a-h" adalah penanda, sementara konsep bahwa "bismillah melayani .." merupakan komitmen calon untuk melayani rakyat atas nama Allah, dan "Sumenep Barokah" yang menegaskan bahwa jika pengusung taqline ini menang maka Sumenep akan diguyur keberkahan, itu adalah petanda. 


Tetapi sausure bilang tak ada makna mutlak antara penanda dan petanda. Sebagai sebuah tanda, penafsir bisa mengajukan makna lain. Untuk menemukan makna, maka perlu menyandingkan (baik berbeda atau berkaitan) tanda (taqline) di atas dengan tanda-tanda lain. 


Sebagai sebuah tanda, tagline di atas ditulis dalam keadaan sadar dan dalam konteks tertentu, pertarungan pilkada dan perebutan suara. Taqline di atas juga hadir dalam sebuah masyarakat yang memiliki kultur tertentu (katakanlah masyarakat Sumenep yang dikenal sebagai basis santri). Maka diksi yang dipilih dan frase yang dibingkai perlu diseleksi, karena hendak merepresentasikan (kebijakan) calon sebagai sama religiusnya dengan voter yang hendak dijadikan lumbung suara. Inilah kenapa kemudian yang dipilih " Bismillah......" dan ".......Barokah", diksi yang boleh dibilang akrab dengan santri. 


Makna dalam tagline di atas tentu berbeda dengan "Bismillah" yang diucapkan ketika kita makan. Diksi "barokah" juga berbeda dengan makna ucapan doa misalnya yang dikatakan oleh seorang guru sama muridnya, " semoga ilmumu barokah nak". Jadi, mengacu pada pendapat sausure di atas, "penanda" bisa sama tapi "petanda" bisa berbeda. 


Karena tagline itu dibuat dalam konteks pertarungan pilkada dan perebutan suara, maka konteks menjadi penting untuk memahami makna. Artinya, taqline itu (di)hadir(kan) dalam waktu tertentu dan maksud serta tujuan tertentu pula.  Jadi taqline itu adalah tindakan politis untuk meraih kepentingan yang bersifat politis juga. Tentu taqline itu penuh selubung politis, dimana satu sisi merepresentasikan apa yang hendak dikatakan, tetapi sisi lain menyimpan apa yang tidak ingin dikatakan. 


Menjadi penting kemudian kita mengungkap selubung taqline itu agar apa yang tidak dikatakan menjadi terang benderang. Termasuk mengungkap selubung ideologis di belakangnya. 


Pertanyaan yang bisa diajukan, apakah benar calon yang taqlinenya " Bismillah Melayani" akan selalu menempatkan Tuhan sebagai awal dan titik tuju dari segenap kebijakannya nanti? Atau sebenarnya mau melayani siapa? Oligarkhi? Membawa nama Tuhan dengan maksud berbeda tentu resikonya sangat besar. Karena sama Tuhan saja sudah ingkar janji, apalagi sama makhluk-Nya. 


Belum lagi jika dipersandingkan dengan tanda-tanda lainnya, misalnya bagi-bagi amplop kepada jamaah tarawih ketika bulan romadlan, oligarkhi yang menjadi penyuplai dana, kebijakan alih fungsi lahan selama menjadi wakil bupati dalam pemerintahan sekarang, mobilisasi birokrasi yang dalam undang-undang dilarang, dsb, apakah senafas dengan "Bismillah Melayani"? Dimana "Dengan Nama Allah...." mau ditempatkan dalam taqline itu?


Itu juga berlaku bagi calon yang taqlinenya "Sumenep Barokah". Dimana letak barokahnya ketika disandingkan dengan janjinya bahwa "Kangean Akan Dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus", dan itu artinya menggelar karpet merah bagi investor untuk mengeruk sumberdaya alamnya? Dimanakah barokahnya jika disandingkan dengan video yang sempat viral yang kemudian memunculkan kosa kata baru dalam dunia politik, Epengkot? Sebenarnya barokahnya untuk siapa ya?


Ideologi para calon yang mengusung taqline yang nampak relijius itu, apalagi jika menghadirkan tanda-tanda lain seperti saya ungkap di atas, nampaknya sekali sebagai pendukung developmentalisme (pembangunisme). Suatu ideologi yang membuka pintu seluas-luasnya bagi pasar alias ramah investasi, tanpa berpikir bahwa ideologi itu akan makin meminggirkan rakyatnya, yang salah satunya ditandainya dengan lepasnya tanah rakyat yang dialihfungsikan menjadi pembangunan di sepanjang pesisir ( dan sebentar lagi meluas tidak saja di pinggir, tapi ke tengah). Melayani siapa? Barokah untuk siapa?


Nah, taqline yang nampak relijius di atas menghamparkan apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai hyperrealitas, dimana ilusi dan yang real sulit dikenali. Bahkan, kekuatan hyperrealitas ada pada kekuatannya  untuk membelokkan yang ilusi bukan sebagai ilusi. Kekuasaan dalam praktiknya selalu memainkan hyperrealitas ini untuk menopang sistem sosial, struktur ekonomi, dan ideologinya sekaligus. 


Gapura, 9 September 2020

Bagikan:

Komentar