> Gus Firjaun, Glory of The Shiddiq Family?
|
Menu Close Menu

Gus Firjaun, Glory of The Shiddiq Family?

Minggu, 03 Januari 2021 | 16.44 WIB



Oleh : Achmad Said


Pasca wafatnya, KH Yusuf Muhammad dan KH Nadzir Muhammad, The Shiddiq Family atau Bani Shiddiq, seakan meredup. Hingar bingar dunia politik nasional, sejak Nahdlatul Ulama (NU) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri, selalu menampilkan anak keturunan KH Muhammad Shiddiq sebagai pelakunya, ulama asli Lasem Rembang Jawa Tengah.


Dalam waktu 10 tahun lebih, panggung politik nasional dan regional menjauh dari keluarga politisi kiai ini. Di tingkat lokal, memang masih ada, KH Afton Ilman Huda dan KH Madini Faruoq pada pentas politik lokal Jember. Namun, kasus korupsi yang menjeratnya, memukul balik kharisma politik Bani Shiddiq yang moncer selama ini. Ini masa ujian terberat yang harus dilalui menuju Glory of The Shiddiq Family (kemenangan Bani Shiddiq) pada Rabu, 9 Desember 2020 lalu.


KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman bersama Ir H Hendy Siswanto, memenangkan Pilkada Jember 2020 dengan suara 489 ribu lebih. Bagi Bani Shiddiq, sebuah kemenangan yang ditunggu-tunggu semenjak 1955. Gus Firjaun--panggillan akrabnya, membayar lunas kekalahan demi kekalahan dua kali pemilihan bupati melalui DPRD.


M Khusna Amal, mengungkapkan kekalahan KH Achmad Shiddiq atas Bupati Soedjarwo pada Pilbup 1955, dan kekalahan KH Yusuf Muhammad atas Bupati Samsul Hadi Siswoyo pada Pilbup 2010, disinyalir karena praktek money politic (politik uang) dalam pemilihan tersebut. Sebab, tak ada satupun teori yang bisa menjelaskan secara detail dan masuk akal, kecuali praktek politik uang tersebut. Kiai Achmad maupun Gus Yus berangkat dari partai politik yang memiliki kursi terbanyak di dewan.


Dalam bukunya, "Kelas Menengah NU: Dinamika Intelektual, Konstestasi Kekuasaan, Stagnasi Demokrasi di Indonesia Pasca Orde Baru", disebutkan bahwa Partai NU yang mengusung Kiai Achmad merupakan pemenang Pemilu 1955 di Jember, dengan 14 kursi. Sedangkan, Bupati Soedjarwo diusung oleh PNI (7 kursi), PKI (4 kursi), Masyumi (3 kursi), AKUI dan PSII (masing-masing 1 kursi). Kiai Achmad kalah 2 kursi atas Bupati Soedjarwo.


Kekalahan semisal terjadi, PKB partai yang mengusung Gus Yus juga adalah pemenang Pemilu 1999, dengan 17 kursi, dan PAN 2 kursi. Sedangkan Bupati Samsul Hadi Siswoyo diusung oleh PDIP, PPP, Partai Suni, dan TNI/Polri dengan 22 kursi. Satu calon lagi, H  Moh Zainuri diusung oleh Partai Golkar dengan 4 kursi. Gus Yus kalah 3 kursi atas Bupati Samsul.


Memang, pemilihan melalui dewan, sangat rentan konspirasi elite untuk mengeblok calon dari partai pemenang. Balantika politik nasional dan regional pasca Orde Baru, menyajikan teks calon yang dikalahkan oleh koalisi partai yang kalah pada pemilu. Contoh nasional, kekalahan Megawati Soekatnoputri atas KH Abdurrahman Wahid pada Pilpres 1999. Dan contoh regional, kekalahahan Jenderal Abdul Kahfi atas Jenderal Imam Utomo pada Pilgub Jatim 2003. Padahal, PDIP pemenang pemilu nasional dengan jumlah kursi 153, dan PKB pemenang pemilu Jatim dengan jumlah kursi 32.


Konspirasi elite dilhami oleh gagasan Woodrow Wilson dan Winston Churchill tentang persekongkolan elite untuk membentuk New World Order (Tatanan Dunia Baru). Dalam kontestasi kekuasaan, sekelompok elite yang kalah bersekongkol untuk mewujudkan New Politic Order (Tatanan Politik Baru) dengan mengalahkan partai pemenang pemilu. Persekongkolan elite tersebut pada banyak kasus justru menjadi penguasa atas kemenangan semu tanpa  kemenangan pemilu raya.


Praktek ganjil demokrasi di atas, berpeluang terjadi lantaran pemenang hanya mendapatkan mayoritas relatif yang tak sampai separuh lebih suara atau kursi yang tersedia. Mau tidak mau, untuk menguasai kekuasaan pemerintah atau parlemen, pemenang harus piawai membangun koalisi plus konsesinya terhadap partai yang mendukungnya. Bila tidak, dalam sistem multipartai seperti Pemilu 1955 dan 1999, maka pemenang pemilu bisa jadi tak memperoleh posisi apapun di pemerintahan maupun di parlemen. Sebuah kekalahan tragis dalam kemenangan pemilu.


Namun demikian, tampilnya Gus Firjaun sebagai pemenang bersama Haji Hendy pada Pilkada Serentak 2020 di Jember, telah membangkitkan kembali trah politik Bani Shiddiq. Gus Firjaun mampu menyatukan kekuatan politik Bani Shiddiq yang berserakan di berbagai partai politik menjadi satu kekuatan yang dahsyat dan luar biasa. 


Hasilnya, adalah kemenangan. Sebuah kemenangan pada pemilihan langsung rakyat yang jauh lebih rumit dan membutuhkan perjuangan yang lebih keras daripada pemilihan lewat anggota DPRD. Air mata haru pun banyak berjatuhan di sana-sini, dari para pendukung Gus Firjaun yang total menginfakkan fikiran, tenaga dan dana untuk kemenangan tokoh yang dicintainya.


Enta apa perasaan Gus Firjaun-Gus Saif saat berpelukan erat dan menangis menjelang acara pidato kemenangan di markas Hendy Siswanto Center (HSC) pada Rabu sore, selepas LSI mengumumkan hasil quick count yang memenangkan pasangan nomor 2. Dua saudara sepupu ini secara simbolik telah mengawinkan gerakan kultur dan struktur Bani Shiddiq pada rezim pemerintahan pasca Faida. Lengkap sudah, apa yang menjadi cita-cita Bani Shiddiq berdakwah di jalur masyarakat sipil dan kekuatan negara. 


Disadari, kata para petarung, merebut itu lebih mudah daripada mempertahankan. Kata Abraham Lincoln, " kalau mau melihat tabiat asli seseorang, maka berilah dia kekuasaan". Oleh karena itu, apakah kemenangan Gus Firjaun merupakan Glory of The Shiddiq Family? Biar sejarah yang menjawabnya.


Penulis adalah Penggiat Tadarrus Politik Jember

Bagikan:

Komentar