|
Menu Close Menu

Mengenal Sosok Ana Sopanah Supriyadi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyagama Malang

Sabtu, 20 Januari 2024 | 21.06 WIB

Dr. Ana Sopanah Supriyadi ,S.E., M.Si, Ak, CA, CMA saat hadir dalam acara Launching dan Bedah Buku. (Dok/Istimewa).

Lensajatim.id, Surabaya- Mengenal sosok Dr. Ana Sopanah, S.E., M.Si, Ak, CA, CMA. Ia ibarat seperti Emas di mana pun berada Emas di manapun disimpan akan tetap menjadi emas. Mau di wadah kecil murah, ia emas. Ditaruh di wadah besar, mahal, dan mewah, tetaplah emas. Terjatuh dalam kubangan lumpur kotor tak menjadikannya berubah menjadi perak atau perunggu, ia tetap emas. 


Gambaran itu rasanya sedikit banyak mewakili perjalanan hidup Dr. Ana Sopanah Supriyadi, S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., yang saat tulisan ini dibuat mendapatkan amanah sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Widya Gama, Malang. Ana Sopanah merupakan anak tunggal dari pasangan H. Wahidin dan Hj. Darningsih. Ia lahir di Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.


Ana menjadi Lulusan terbaik di S1 Akuntansi UWG,  S2 Universitas Gadjah Mada dan S3 di Universitas Brawijaya. Emas di manapun ditempatkan akan tetap menjadi emas, tidak akan berubah menjadi perak atau perunggu. Ana membuktikan kualitas dirinya dalam hal akademik. Ana menyukai belajar dan mengajar, karena itu ia sangat menikmati pekerjaannya sebagai dosen. “Dosen itu pengabdian, bukan pekerjaan yang dapat memperkaya seseorang. Jadi kalau mau penghasilan tambahan yang lebih banyak, ya harus berbisnis,” tandasnya.


Australia, Titik Awal Keliling Dunia, Tahun 2010 Ana mendapat beasiswa ke Australia untuk mengikuti Program Sandwich di University of South Australia (UniSa). Tahun bersejarah karena waktu itu adalah pertama kalinya ia bikin pasport dan pertama kali pula ke luar negeri. Kesempatan belajar dan bertemu banyak teman baru dari berbagai negara kembali membuka cakrawala Ana tentang dirinya. Bahwa ada banyak negara lain di dunia, bahwa ia belum menjadi apa-apa di Indonesia.


Selesai tugas belajar, ia kembali ke kampus dan mendapatkan amanah sebagai Ketua Program Studi Akuntansi di Universitas Widya Gama Malang pada 2015. Menjabat di kampus membawa konsekuensi. Ana memutuskan untuk tidak aktif di bisnis yang dirintis sebelumnya. “Itu komitmen saya sejak awal. Tugas utama tetap di kampus, lagi pula sistem perusahaan sudah berjalan dengan baik,” katanya. Jabatan bagi Ana bukan sekadar prestise, ada tanggung jawab besar yang diemban bersama dengan amanah yang diberikan. Ia punya target akreditasi Akuntansi harus A. Pekerjaan yang tidak mudah namun akhirnya berhasil ia raih di tahun 2016. Bahkan, Akreditasi A Akuntansi itu menjadi yang pertama dari 15 program studi yang ada di Universitas Widya Gama Malang. Sukses membawa akreditasi A ke UWG, Ana ditawari menjabat Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) pada 2017, double jabatan. Ia terima amanah tersebut dan menjalankan dengan totalitas sehingga program-program KUI makin dikenal. Kariernya terus menanjak dan Ana terpilih menjadi Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UWG pada 2020, bertepatan dengan pandemi Covid-19.


Pendidikan itu Bekal Utama. “Pendidikan adalah bekal masa depan, hanya pendidikan yang bisa mengubah nasib kita. Punya wawasan, punya pengetahuan lebih, bisa menghasilkan ide-ide kreatif, dan membuka cakrawala kita tentang apa saja,” urai perempuan yang juga menjadi salah satu Bendahara LPNU Kota Malang ini periode 2022-2027. Prinsip Ana rupanya sejalan dengan pandangan suaminya. Mereka mewajibkan pendidikan tinggi untuk anak. Ana sendiri memberikan contoh lewat dirinya, selain menyelesaikan jenjang S1 sampai S3, ia memiliki 10 gelar profesi (Ak, CA, CMA, CIBA, CBV, CAPM, CAPF, CERA, CDMS, CPS) hingga tahun 2023. Ana mengambil pendidikan profesi akuntan tersertifikasi internasional dan tersertifikasi Australia di samping pendidikan profesi lainnya. Ia tidak menuliskan semua gelar itu di namanya, karena terlalu panjang.


​Saat ini Ana fokus dengan pekerjaan dan tugasnya sebagai pendidik dan membuat target dapat mengajukan profesor pada tahun 2025. Ia menata segala kebutuhan yang diperlukan untuk pengajuan tersebut. Salah satunya dengan menulis 20 buku, 8 publikasi di jurnal internasional dan 80-an publikasi dalam jurnal dalam nasional terakreditasi maupun yang belum terakreditasi. Selain itu Ana juga sibuk mendampingi Suami H. Mohammad Supriyadi seorang pengusaha  dan 2 anak perempuannya Rabindra Annesa Danesjvara dan Rabiya Alawiy Supriyadi.


Pesan untuk Perempuan. Ketua Forum Akuntansi Manajemen Ekonomi (FAME) Indonesia DPW Jatim ini mengatakan kepada seluruh perempuan di Indonesia, bahwa hidup itu pilihan. Siapapun berhak memilih mau menjadi apa saja, asalkan mulia. Mau menjadi dosen, pengusaha, atau fokus sebagai ibu rumah tangga. Semuanya baik. “Terpenting melakukannya dengan baik sesuai target kita masing-masing. Saya menghargai semua pilihan tersebut, sebab perempuan harus berani memilih hidupnya mau sukses di bidang apa,” tandasnya.  


​Untuk mencapai kesuksesan, lanjut Ana, seseorang harus fokus dalam bekerja, pasti akan berhasil. Walaupun kadar dan standar keberhasilan itu berbeda-beda di setiap orang.  “Saya paling suka melihat perempuan sukses. Perempuan itu multi talent. ” kata Ana.  


Ana mengungkapkan, ia sering berbicara dengan dirinya sendiri: “Harus cinta pekerjaanmu, harus cinta lingkunganmu. Kalau lingkunganmu nggak mencintaimu, ya lakukan sesuatu supaya ia suka dengan kamu," ungkapnya.


​“Itu motivasi dan pengingat untuk diri sendiri. Caranya, bukan sekadar dengan kata-kata, tapi aksi nyata. Sebab orang sukses adalah yang tidak hanya punya rencana, tapi juga melaksanakannya,” pungkas Ana.(*)

Bagikan:

Komentar