|
Menu Close Menu

Khofifah Bersama Rombongan Khataman Manaqib Syech Abdul Qadir Al-Jailani Bersama Syekh Afeefuddin

Kamis, 30 Mei 2024 | 16.31 WIB

Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum PP Muslimat NU bersama rombongan dalam acaranya di Baghdad. (Dok/Istimewa). 

Lensajatim.id, Surabaya- Rangakaian perjalanan muhibah Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa juga diisi dengan khataman manaqib Syech Abdul Qadir Jailani  dengan dipimpin fatichah oleh Mauluana Assayyid Assyech Afeefuddin Al Jailani yang merupakan cicit Syekh Abdul Qadir Al Jailani. 


Manaqib yang dilakukan Rabu (29/5/2024) malam itu berlangsung sangat khidmad dan khusyuk lengkap dengan mendoakan kondisi bangsa Indonesia dan juga mendoakan kedamaian dunia.


“Kami satu rombongan berkesempatan untuk khataman manaqib dengan dipimpin langsung oleh Syekh Afeefuddin. Beliau membuka dan mengawali manaqib dan kemudian dibacakan oleh Gus Chafidzul Hakim yang merupakan pimpinam jamaah sholawat Syubbanul Muslimin,” kata Khofifah, Kamis (30/5/2024). 


“Khataman manaqib ini berlangsung indah dan luar biasa khidmat. Ini adalah bentuk kita berharap keberkahan dan karomah dari sosok Syekh Abdul Qadir Al Jailani, karena kita juga mendoakan kebaikan bangsa dan juga kedamaian dunia,” ucap Khofifah yang juga Gubernur Jatim periode 2019-2024 ini. 


Lebih lanjut Khofifah menegaskan bahwa semua waliyullah atau wali Allah merupakan hamba-hamba yang saleh, dekat dengan Allah, dan dipilih pula oleh Allah SWT. Banyak sejarah hidup para wali yang telah dibukukan, seperti manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jaelani. Sebab, mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah maka sudah sewajarnya jika kita mencintai mereka. 



Menurut Khofifah, salah satu hal yang bisa menambah rasa kecintaan kita kepada para wali Allah  adalah dengan membaca manaqibnya. Dengan membaca manaqibnya, umat muslim bisa mengetahui kesalehan dan kebaikannya, dan diharapkan bisa meneladaninya.  



“Dari sini dapat kita pahami bahwa membaca manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilani itu sangat baik. Apalagi, beliau juga menyandang gelar sebagai sulthan al-awliya`atau pemimpin para wali,” terang Tokoh Inspiratif Versi Forkom Jurnalis Nahdliyyin ini. 


Sebelum melakukan manaqib, Khofifah bersama rombongan telah lebih dulu berziarah langsung ke makam sulthonil auliya Syekh Abdul Qodar Al Jailani. Di kesempatan itu Khofifah juga dipandu Syekh Afeefuddin ke maqbaroh Syekh Abdul Qodir Al-Jailani untuk doa dan tawasul. Serta juga diajak untuk berkeliling di komplek makam dan masjid Abdul Qadir Al-Jailani yang megah dan indah. 


“Kami ziarah ke makam beliau di hari pertama kami tiba di Baghdad. Saat itu kami langsung diterima oleh Mauluana Assayyid Assyech Afeefuddin Al Jailani di kantornya yang megah di areka kompleks makam dan masjid Syekh Abdul Qodir Al-Jailani,” terang Khofifah.


“Kami diterima dua kali. Sebelum dan sesudah ziyaroh.  Ini merupakan kebanggaan untuk kami karena beliau dengan keramahannya memberikan doa dan juga berkah pada kami semua satu rombongan,” tegas Khofifah. 


Sebagaimana diketahui, Syekh Abdul Qadir Al Jaelani dikenal sebagai salah satu tokoh sufi terbesar dalam sejarah Islam dan dihormati oleh umat Muslim di seluruh dunia. Syekh Abdul Qadir Al Jaelani merupakan seorang ulama fiqih bermazhab 

Hambali yang memiliki segudang karomah dan sangat dihormati oleh umat Muslim Sunni.


Ia dikenal sebagai Sulthonul Auliya atau rajanya para wali dan Al-Imam Al-Quthubul Aqthab atau pemimpin dan penguasa seluruh wali di alam semesta.

Syekh Abdul Qadir Al Jaelani merupakai  sebagai waliyullah yang paling agung dan keramat dari wali lainnya.


“Jasadnya memang sudah terkubur lebih dari delapan abad. Namun nama dan tauladan hidupnya tetap membekas kuat di kalangan umat Islam. Beliau adalah Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani ra, ulama sufi dunia,” kata Khofifah. 


Usai ziaroh, banyak yang dibincangkan oleh Khofifah bersama cicit ke-33 dari Syekh Abdul Qodil Al Jailani yaitu Syekh Afeefuddin. Mulai dari kondisi muslim  dunia, perkembangan Islam dan tasawuf dan juga kondisi bangsa. 


Khofifah menegaskan bahwa warga NU di Indonesia aktif mengikuti  tariqoh, pengajian dalam majelis manaqiban, dan juga tahlilan. Semua itu dilakukan sebagai upaya untuk semakin dekat pada Allah dan bermunajat dalam kebaikan. (Red) 

Bagikan:

Komentar