|
Menu Close Menu

Beras, Lobster, dan Batubara: Gus Lilur Rintis Jalan Kedaulatan Pangan dari Vietnam untuk Indonesia

Jumat, 01 Agustus 2025 | 08.21 WIB


Lensajatim.id, Surabaya- Sepuluh tahun lalu, HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, tertawa ketika seorang kawan di Vietnam menawarinya berbisnis beras. “Saya ini orang dusun. Rumah saya dikelilingi sawah milik eyang saya. Jenuh saya dengan segala hal yang bau-bau sawah,” ujarnya, kala itu, sambil tersenyum lepas, lewat rilis yang diterima redaksi, Jumat (01/08/2025). 


Namun waktu berjalan, dan seperti banyak kisah yang tak terduga, kehidupan membawanya kembali ke jejak lamanya, dengan sudut pandang dan misi yang jauh lebih besar. Kini, satu dekade kemudian, Gus Lilur kembali menginjakkan kaki di Vietnam, bukan sebagai tamu biasa, melainkan sebagai pelaku bisnis. Di tengah kesibukan mengurus perizinan budidaya lobster, tawaran berbisnis beras kembali datang, kali ini dari rekan-rekan konglomerat sektor pertanian dan pertambangan Vietnam.


“Lingkungan usaha yang tidak bisa saya tolak,” ujarnya singkat namun penuh makna.


Tawaran itu datang dari kalangan elite bisnis yang juga menjalankan perdagangan batubara dan benih lobster. Tiga komoditas utama yang menjadi poros hubungan dagang Indonesia–Vietnam: pertanian (beras), pertambangan (batubara), dan perikanan (lobster).


“Saya ini petani. Anak petani. Cucu petani. Eyang saya adalah pemilik sawah terbanyak di desa. Saat panen tiba dan harga gabah jatuh, kami, keluarga petani, merasa benar-benar marah!” tegas Gus Lilur, yang kini dikenal sebagai Founder Owner BAPANTARA Grup, sebuah holding yang menaungi 18 anak perusahaan di bidang pangan, tambang, dan perikanan.


Pernyataan tegas itu menjelaskan sikap vokalnya terhadap kebijakan impor beras, khususnya jenis CBP (Cadangan Beras Pemerintah) yang ia nilai merusak harga gabah dan menyengsarakan petani lokal. “Saya anti impor beras CBP! Tapi saya tidak menolak beras khusus, karena tidak mengganggu pasar dalam negeri dan bahkan bisa mendorong peningkatan kualitas produksi,” ujarnya.


Beras khusus, menurutnya, berada di kelas premium dengan harga yang jauh di atas rata-rata Rp25.000 hingga Rp65.000 per kilogram. Jumlah petani yang menanam varietas ini pun masih sangat terbatas di Indonesia. Adapun pada tahun 2025, pemerintah telah membuka kuota impor beras khusus sebanyak 420 ribu ton, angka yang besar namun tetap bisa dikelola tanpa mengorbankan petani lokal.


Kunjungan terbaru ke Vietnam menjadi momen kontemplatif bagi Gus Lilur. Di tiga provinsi lumbung padi utama Vietnam yaitu Dong Thap, An Giang, dan Can Tho, Ia menyaksikan ribuan pabrik padi beroperasi secara masif dan efisien. Pemandangan itu membakar kembali semangat lama yang selama ini tertahan.


“Tekad untuk jadi petani besar sudah saya canangkan tujuh tahun lalu. Tapi saya lebih dulu fokus ke tambang dan perikanan. Kini, waktunya kembali ke akar,” ujar Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI) itu.


Melalui BAPANTARA Grup (Bandar Pangan Nusantara), Gus Lilur ingin menghadirkan mimpi besar: membangun pabrik-pabrik padi di banyak kabupaten, mencetak sawah-sawah baru, dan menciptakan kemandirian pangan sejati.


“Di negara agraris seperti Indonesia, tidak boleh ada warga yang kelaparan hanya karena tidak mampu membeli beras,” tegasnya dengan nada idealis.


Langkah Gus Lilur bukan sekadar ekspansi bisnis. Ini adalah misi sosial, napas panjang dari seorang anak dusun yang pernah jenuh dengan sawah, namun kini justru menjadikan sawah sebagai jalan pengabdian.


“Bismillah,” tulis Gus Lilur. 


“Salam keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," pungkas Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif Versi Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN) ini. (Had) 

Bagikan:

Komentar