|
Menu Close Menu

Kopi Hitam, Doa yang Tak Pernah Putus, dan Rindu yang Tak Bisa Pulang

Kamis, 07 Agustus 2025 | 20.16 WIB

H. Mohammad Supriyadi, Ketua Umum IKAWIGA Malang.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Jakarta — Malam belum sepenuhnya tiba, tapi lampu-lampu kota sudah lebih dulu menyala, membingkai langit Jakarta yang kelabu. Di salah satu sudut warung kopi langganan, duduk seorang pria paruh baya, H. Mohammad Supriyadi — Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Widya Gama (IKAWIGA) Malang, dalam diam yang tak benar-benar sunyi. Tangannya menggenggam cangkir kopi hitam panas, tapi yang terasa bukan hanya pahitnya kopi, melainkan getirnya rindu yang belum juga menemukan jalan pulang.


Hari itu, Kamis (07/08/2025), adalah hari puasa sunnah. Tapi bagi pria asal Pamekasan ini, bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Melainkan juga menahan rindu yang kian mendesak, menyusup tanpa aba-aba. Ramadan masih jauh, lebaran masih sekian minggu, tapi rasa ingin pulang tak pernah mengenal kalender. Rindu itu, seperti luka yang tak sembuh oleh waktu, hanya semakin akrab ketika sunyi datang.


"Aku cuma ingin pulang, mencium tangan emak dan eppak, kalau saja mereka masih ada," gumamnya perlahan, nyaris hanya untuk dirinya sendiri. Tapi yang tersisa kini hanyalah batu nisan, yang terakhir diziarahi tahun lalu, lengkap dengan bunga kenanga kering dan doa-doa yang belum selesai disampaikan.


Di Jakarta ia tumbuh. Di ibu kota ia membangun karier, menyusun mimpi, dan menuntaskan amanah. Tapi di Madura, ia menjadi manusia, belajar adab sebelum ilmu, menyerap nilai dari tanah yang membesarkannya, dan meneguk keteguhan dari kesederhanaan orang tuanya.


“Kopi ini pahit, panas, dan sepi. Tapi ia menjadi teman paling jujur dalam rindu yang tak bisa pulang,” katanya.


Ia mengenang suara sape’ yang bersahutan dengan azan maghrib, angin selatan yang membawa bau laut dan tanah garam, serta suara ibu memanggil dari dapur dengan nada yang kini hanya bisa dipanggil dari ingatan. Di antara sesapan kopi, tercium harum kenangan masa kecil yang tidak mungkin bisa dibeli kembali.


Terkadang, hidup di kota besar membuat orang lupa akar. Tapi tidak bagi Supriyadi. Meski Jakarta menuntut langkah terus maju, hatinya tahu persis arah pulang. Ia mengaku, rindu kampung halaman dan orang tua yang telah tiada bukan hanya menjadi kelemahan, tapi justru alasan paling kuat untuk menunduk sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk mengingat: bahwa kita tak pernah benar-benar kuat tanpa doa mereka.


Dalam rindu yang belum bisa pulang, Supriyadi menemukan kekuatan. Bukan sekadar dari kopi hitam yang mengepul di gelas, tapi dari kenangan, dari doa, dan dari cinta pada tanah kelahirannya — Madura. (Had) 

Bagikan:

Komentar