|
Menu Close Menu

Miris! 15 Pelajar SMP di Surabaya Positif Narkoba Saat Penggerebekan Jalan Kunti, Wali Kota Eri Pilih Rehabilitasi

Minggu, 16 November 2025 | 15.42 WIB

Ilustrasi. (Dok/BNN Kepulauan Riau)
Lensajatim.id, Surabaya Sebanyak 15 pelajar tingkat SMP di Surabaya dinyatakan positif mengonsumsi narkoba setelah Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Jawa Timur melakukan tes urine mendadak di sekitar Jalan Kunti, Kecamatan Semampir, kawasan yang dikenal sebagai salah satu titik merah peredaran narkoba di Kota Pahlawan.


Hasil mengejutkan itu terungkap usai BNNP Jatim melakukan penggerebekan pada Jumat (14/11). Setelah penyisiran di lokasi, petugas kemudian mengambil sampel urine dari sekitar 50 pelajar SMP dan SMA yang bersekolah dekat area tersebut.


Kepala BNNP Jatim Brigjen Pol Budi Mulyanto mengatakan bahwa 15 pelajar yang dinyatakan positif merupakan pengguna aktif narkotika.


“Dari 50 siswa itu, 15 orang adalah pengguna aktif terkait narkotika. Usia mereka masih SMP. Ini keprihatinan yang harus kita rumuskan bersama,” ujar Budi.


Ia menegaskan bahwa persoalan narkoba di Jalan Kunti membutuhkan penyelesaian lintas sektor. Budi menyebut perlunya peran pemerintah daerah, kepolisian, BNN, dan masyarakat dalam sebuah kerja bersama untuk memutus rantai peredaran narkotika di kawasan tersebut.


“Ada beberapa komponen yang harus kita kerjakan bersama: anaknya dulu, orang tuanya, lingkungan sekolah, dan masyarakat. Empat ini harus berjalan paralel,” tegasnya.


Menanggapi temuan tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa Pemkot Surabaya akan segera menangani para pelajar yang terdeteksi positif narkoba. Fokus utama pemerintah, menurut Eri, adalah pemulihan mental dan masa depan anak-anak tersebut.


“Kalau itu hanya pemakai dan terkontaminasi, kita rehabilitasi dan kita pulihkan kembali. Kita kuatkan kembali agar mereka punya semangat untuk menjadi orang yang baik,” ujar Eri di Balai Kota Surabaya, Sabtu (15/11).


Eri menyebut bahwa para pelajar itu pada dasarnya adalah korban lingkungan yang buruk. Menurutnya, guru hanya memiliki jam tanggung jawab di sekolah, sementara peran pengawasan terbesar berada di tangan orang tua.


“Mereka ini kan anak yang... orang tuanya salah asuhan. Kalau orangtuanya tidak membiarkan anaknya, tidak mungkin jadi begini,” kata Eri.


Meski memprioritaskan rehabilitasi, Eri menegaskan bahwa pemerintah tetap akan menindak tegas jika ditemukan indikasi bahwa ada pelajar yang terlibat sebagai pengedar.


Jalan Kunti selama ini dikenal sebagai “Kampung Narkoba” di Surabaya. Bedeng-bedeng kayu berterpal yang berjajar di kawasan tersebut kerap dijadikan lokasi transaksi hingga pesta sabu. Kondisi itu membuat warga sekitar, termasuk para pelajar, rentan terpapar barang haram.


Budi mengungkapkan bahwa jumlah narkoba yang beredar di wilayah itu sangat mengkhawatirkan.


“Kalau Jalan Kunti menjadi pusat peredaran, dan kita temukan 400–600 gram sabu, daya rusaknya bisa mencapai 600 orang,” jelasnya.


BNNP Jatim dan Pemkot Surabaya sepakat bahwa pemberantasan narkoba harus dilakukan tidak hanya dengan penindakan, tetapi juga dengan pembenahan lingkungan dan pemulihan korban.


Eri menekankan pentingnya sinergi orang tua, sekolah, aparat, dan pemerintah. Ia memastikan bahwa 15 pelajar SMP tersebut akan mendapatkan pendampingan menyeluruh agar bisa kembali ke jalur pendidikan dan masa depan yang sehat.


Temuan ini menjadi alarm keras bagi Surabaya untuk semakin memperkuat perlindungan anak dari paparan narkoba, sekaligus mempertegas komitmen pemerintah dalam membersihkan Jalan Kunti dari cengkeraman peredaran narkotika. (Berbagai Sumber) 

Bagikan:

Komentar