![]() |
| Willy Aditya, Ketua Komisi XIII DPR RI.(Dok/Istimewa). |
“Empati itu syariat, satu tingkat di atasnya adalah solidaritas. Dan makrifat dari sebuah gerakan adalah keberpihakan,” tegas Willy di hadapan peserta dialog.
Willy menjelaskan bahwa keberpihakan menjadi inti yang menentukan arah perjuangan gerakan sosial dan politik. Bagi siapa sebuah pergerakan diperjuangkan, kata dia, itulah makna tertinggi dari komitmen perubahan. “Kalian berpihak pada siapa? Pada rakyat yang mana? Itu bentuk makrifat sebuah gerakan,” ujarnya.
Dalam paparannya, ia mengibaratkan proses pendewasaan gerakan layaknya laku spiritual: empati sebagai syariat, solidaritas sebagai tarekat, dan keberpihakan sebagai makrifat. Organisasi, menurutnya, menjadi wadah untuk membawa seseorang naik dari rasa peduli menuju tindakan kolektif yang terstruktur.
“Kalian berorganisasi itu bagian dari tarekat. Mengikatkan diri pada pilihan dan komitmen. Dan itu harus disyukuri,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sebuah gerakan tidak akan bermakna bila hanya reaktif pada peristiwa dan isu tertentu. Politik, kata Willy, menuntut sikap dan ketegasan keberpihakan, bukan sekadar keprihatinan.
Willy mengingatkan bahwa banyak gerakan justru runtuh karena perilaku para pegiatnya tak sejalan dengan nilai yang disuarakan. Karena itu, konsistensi menjadi hal paling mendasar.
“Satunya kata dan perbuatan itu paling kafah. Totalitas,” tegasnya.
Meski mengakui perubahan besar tidaklah mudah, Willy mendorong para relawan agar menikmati proses perubahan yang bertahap. Menurutnya, ketekunan kecil yang dilakukan terus-menerus adalah pondasi perubahan besar. Ia menyebut kebahagiaan tertinggi dalam perjuangan sosial terletak pada makna dan kontribusi.
“Perubahan total itu sulit. Tapi totalitas wajib. Jangan jadi volunteer separuh hati. Nikmati prosesnya,” ucapnya.
Di akhir sesi, Willy menegaskan bahwa relawan hari ini memiliki peran strategis dalam menjaga arah demokrasi dan kemanusiaan. Solidaritas dan keberpihakan, menurutnya, adalah benteng moral bangsa ketika tantangan politik semakin kompleks.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton perubahan, melainkan pelaku yang berkomitmen dan berpihak.
“Jaga totalitas kalian. Keberpihakan adalah makna tertinggi gerakan. Dari situlah perubahan dimulai,” tutup Willy. (Red)


Komentar